Entry: Choice Dec 18, 2006



Lebaran udah lumayan lama lewat. Sekitar waktu Lebaran tempo hari, seperti biasa banyak orang ambil cuti, baik yang berlebaran maupun juga yang enggak. Yang cuti karena kepingin, atau juga kepaksa. Contoh yang cuti karena kepaksa adalah para ibu-ibu (kadang juga para bapak) yang pembantunya pada mudik Lebaran.

Seusai libur Lebaran, biasanya banyak orang-orang yang saling bertukar cerita mengenai pengalaman Lebarannya yang terkini. Of course keriuhan bercerita di antara para ibu-ibu lebih heboh dibanding those of para bapak's. Serunya, kisah-kisah yang meluncur dari mulut para ibu-ibu karir ini koq ya kurang-lebih sama. Kesamaannya yaitu: berintikan keluhan atas segala macam pekerjaan domestik yang harus mereka lakukan selama cuti karena pembantu enggak ada. Dan keluhan itu juga termasuk kepusingan mereka mengatasi masalah mengurus anak-anak.

Yang menarik bagi gua adalah kesan yang gua tangkap: mereka ga menikmati itu dan menganggap pekerjaan di kantor lebih menyenangkan, uplifting, ga peduli seberapapun pekerjaan di kantor itu bikin stress.

Ngerti banget sih. Siapa juga yang tahan untuk ngerjain pekerjaan-pekerjaan kayak: ngebersihin rumah, nyuci baju, nyetrika baju, masak, ngurus anak-anak mandi lah nyuapin makan lah, nganter sekolah, etc., while mereka sebenernya punya pekerjaan di kantor yang lebih challenging untuk sisi intelektual mereka. Belum lagi: gengsi pekerjaan di kantor yang lebih tinggi. So, siapa juga yang tahan? Gak banyak, tentunya.

Gua rada bisa memahami bagaimana rasanya mengerjakan segala pekerjaan domestik pada saat zonder pembantu. Yah maklumlah, saat jaman masih sekolah dulu (SD-SMP-SMA, in particular) manakala tidak ada pembantu di rumah setelah Lebaran, atau di masa-masa jeda antar pembantu (after yang lama resigned and yang baru belum nongol); sebagai anak bungsu yang paling berbakti gua lah yang termasuk paling banyak mengerjakan segala macem pekerjaan rumah tangga untuk ngebantuin my Mom. Secara, 3 orang kakak gua yang semuanya lelaki tulen itu udah senang-senangnya keluar rumah untuk segala macem acara begowl dengan temen-temennya plus kegiatan-kegiatan sekolah sebangsa OSIS atau Himpunan Mahasiswa getoh. Pokoke segala tetek bengek kegiatan remaja mid-80s ampe early 90s gitu deh; but of course karena kita tinggal di kota kecil (de Buitenzorg itu), versinya gak terlalu sama dengan versinya remaja Jakarta, misalnya.

Maka yang ikut bangun jam 4 pagi (karena gak sampai hati ngeliat Ibunda tersayang bangun sendirian di pagi-pagi buta) dan cawe-cawe (baca: turun tangan) untuk langsung, misalnya, cuci-cuci piring, ya gue lah. Plus juga kerjaan-kerjaan lainnya. Of course apa yang gua kerjakan masih jauh lebih sedikit dari yang dikerjain Ibu. Gue ngerti betul, misalnya, bahwa nyetrika itu bener-bener kerjaan yang pain in the ass (no pleasure involved, at all, just the pain...*jangan ngeres*). Pegel, membosankan. Makanya biasanya my Mom lebih sering kasi gue nyuci baju aja, yang menurut gue lebih fun. You guys also need to know that pada masa itu di rumah kita ada nerima anak-anak kos, mahasiswa IPB, ada bisa sampe 10 orang gitu. So kebayang gimana ngerjain tuh cucian and setrikaan yang lumayan banyak.

Emang semuanya seperti potongan-potongan puzzles yang make sense, yang udah dibuat oleh Tuhan. Cocok van cucok. Maksud gua, pada masa-masa SMA itu muka gua emang berantakan abis gara-gara jerawat. So jadilah gua anak remaja yang kurang pede, gak terlalu banyak bergaul; aktivitas hanya sebatas sekolah, belajar (kalo lagi mau), plus terkadang kegiatan OSIS di sekolah yang berkaitan dengan kerohanian *huuuuuy...jangan salah, gua dulu waktu SMA solehah sekali. Ke sekolah hampir selalu dengan baju tangan panjang. Tinggal kurang jilbabnya aja kalee...kikikikiki*. Jadi ya gua emang banyakan di rumah daripada di luar rumah dan punya banyak kesempatan untuk bantu-bantu. Bayangin kalo gua jaman itu doyan keluyuran, kesian dong nyokap.

Kalo misalnya pas gua SMA itu muka gua masih mulus kulit bayi kayak di SMP, gosh, i dunno what could have happened. Mungkin gua udah terjun ke 'dunia persilatan' dari sejak SMA kali (harap dicatat ya...pada waktu SMA itu badan gua so brondong-like slim, kulit seluruh tubuh putih langsat halus kecuali yang di muka karena jerawatan, rambut hitam tebal mengkilap tapi gak pernah gondrong, and wajah gua udah mulai berubah dari yang sebelumnya waktu SD-SMP lebih dekat ke arah my Dad, menjadi lebih dekat ke arah wajah my Mom. Sedangkan, believe me, my Mom is a very beautiful lady). Untungnya, ndilalah, muka gua koq ya jerawatan abis.

Tapi ya, tau enggak lo, meskipun gua suka kebagian kerjaan rumah tangga itu, termasuk nyuci-nyuci and nyapu-ngepel, koq ya gua pernah disangkain sebagai anak yang kaga pernah kerja di rumah. Ceritanya waktu gua SMA, udah kelas 3, diundang oleh salahsatu SMA di Bogor sebagai perwakilan OSIS sekolah untuk menghadiri acara Isra Mi'raj di SMA tersebut. Menarik buat gua untuk datang, karena SMA tersebut asalnya adalah sekolahan khusus buat anak-anak keturunan Tionghoa di masa lalu. Karena lokasinya memang di 'China Town' nya Bogor, maka sampe jaman gua SMA pun kebanyakan anak muridnya adalah keturunan Tionghoa meskipun memang engga semuanya. Jadi gua cukup salut deh sama sekolahan itu, karena ngasi keleluasaan untuk anak murid yang 'minoritas' di sekolah tersebut untuk bikin acara keagamaan yang cukup besar, sampe ngundang penceramah yang cukup kondang di kota Bogor.

Anyway, waktu gua nyampe sana, of course disambut donk ma panitia acaranya dan salam-salaman dengan mereka, termasuk ketua panitianya. Namanya Mulyadi (kenapa ya gua masih ingat?).

Beberapa hari kemudian, di sekolah, gua disamperin temen sekelas gua yang ternyata tetangganya si Mulyadi itu (berarti mereka sama-sama tinggal di perumahan dosen IPB di daerah Darmaga). Temen gua itu, namanya Amita, cerita bahwa kemarin si Mulyadi cerita ma dia bahwa ketemu perwakilan SMAN 1 Bogor di acara Isra Mi'raj di sekolahnya, and guess what, remark-nya Mulyadi mengenai gua adalah:

"Tangannya halus banget..! Kayak yang di rumahnya engga pernah kerja gitu".

Yah, dia salah mengenai gua gak pernah kerja di rumah. Tapi mengenai tangan, ya mau gimana lagi. Gua kan anaknya nyokap gua.

Stop ngelantur mengenai those good old days.

Back to cerita and keluh kesah para ibu-ibu karir di kantor gua. Ada hal yang mengusik gua, yang terselip diantara cerita dan keluhan mereka tersebut: adanya kecenderungan mereka untuk look down on para ibu-ibu rumah tangga yang enggak bekerja atau enggak berkarir. Misalnya kata-kata seperti ini: "Aduh, gua males baget deh kalo pas di sekolahan anak gua mesti ngobrol ma ibu-ibu rumah tangga yang kerjanya cuman di rumah, nonton tivi, arisan. Engga nyambung", atau, "Koq bisa-bisanya sih mau di rumah aja, kalau gua sih gak sanggup deh", atau, "Ngapain juga ya cewe-cewe udah sekolah tinggi-tinggi tapi cuman di rumah aja", atau malah "Apa gak bego ya lama-lama di rumah melulu gitu". Atau ungkapan-ungkapan yang lainnya lagi.

Perkataan-perkataan itu mengusik gua, karena pertama: ada kesan merendahkan, and that their status as career women is somewhat higher than those of housewives'. Kedua: adanya kecenderungan untuk menyamaratakan bahwa para perempuan yang tinggal di rumah adalah orang-orang yang malas menerima tantangan di dunia kerja dan tumpul secara intelektual.

Apa ya benar para perempuan yang tinggal di rumah tersebut -semuanya- pantas ditempeli label seperti itu..?

Kalau gua pikir, alasannya para perempuan tersebut tinggal di rumah adalah :

  1. karena mereka memang tidak punya pilihan. Misalnya karena memang tidak/belum berhasil dapat kerjaan di luar rumah. Untuk kasus ini, bukannya kita seharusnya malah berempati?
  2. karena mereka memang memilih untuk tinggal di rumah. Sebabnya mereka bisa membuat pilihan ini, ya memang macem-macem. The 'worst' possibility, bisa aja karena memang males kerja alias nyambut gawe (Bhs. Jawa) alias digawe (Bhs. Sunda) alias gong zuo (baca: kung cuo; Bhs. Dewa). Kemalesan ini mestinya ada back-upnya or ada ground-nya sih, misalnya: punya suami yang duitnya banyak, atau kebetulan lahir dari orangtua yang makmur gemah ripah loh jinawi. However, bisa juga para perempuan tersebut diam di rumah karena alasan-alasan lain yang lebih 'noble'. Misalnya: to make sure that anak-anaknya dibesarkan dengan baik oleh tangan ibunya sendiri. Untuk type yang terakhir ini, i don't think we're in the position to look down on them.

Semua pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing. Tapi bahkan konsekuensi yang 'jelek' pun masih bisa di-manage koq.

Ada pendapat bahwa: seorang ibu yang juga adalah seorang career woman yang hebat akan dapat menularkan passion-nya untuk maju dan juga persistence-nya kepada anak-anaknya. Tapi itu bukan sesuatu yang pasti, enggak definite. Demikian juga sebaliknya, anak-anak dari Ibu yang sepenuhnya tinggal di rumah, belum tentu akan jadi anak-anak yang bener. Perempuan karir belum tentu lantas lebih cerdas, lebih berwawasan atau lebih bijak daripada perempuan yang tinggal di rumah. Ada faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi, antara lain: bagaimana cara para perempuan itu menjalani pilihannya tersebut.

Contohnya, perempuan yang tinggal di rumah tapi gemar membaca hal-hal yang bermanfaat boleh jadi akan lebih cerdas dan berwawasan ketimbang seorang perempuan karir yang di waktu senggangnya lebih senang menonton infotainment. Tapi perempuan yang tinggal di rumah pun bisa aja kecolongan dalam mendidik anaknya karena, misalnya, kurang waspada.

So i believe it's better untuk tidak menyamaratakan lah. Lebih bagus lagi jika tidak gampang-gampang merendahkan. Toh engga ada yang tau kemana jalan yang dilalui akhirnya akan menuju kemana. Bisa aja the career woman ends up sebagai perempuan yang harus tinggal di rumah, atau berbagai kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Ini buat pangeling-eling bagi gua juga sih, secara gua kalo lagi kumat belagunya, suka look down ke orang lain juga … in addition to getting down on my knees often (to pray, maksudnya…:D).

   7 comments

puput
June 5, 2007   11:49 AM PDT
 
balsem geliga
baskin
January 13, 2007   09:11 PM PST
 
ALDI, zonder lotion lho...paling2 juga yang alami gitu deh ^_^

ADI N.Y. : taun baruan di sunda kelapa donk..teuteup solehah

IMGAR: gengges deh! :P

ULI: lihat jawaban ke Aldi :)

KOEN: emang kapan jij pernah liat gueh senam2..?
Name koen
December 26, 2006   05:31 PM PST
 
ah...yang bener??!!! kapan sih nyuci-nya gue kok ga pernah liat... iii bo'onk tuh si Pram..huehehe..

kalo sibuk senam sih gue liat.. ;P

yg pasti jadi ibu rumah tangga itu ga gampang ... :)
uli
December 22, 2006   01:04 PM PST
 
duh sekalinya posting panjang yaaaaa...

mudah2an aku ga kaya gitu deh
iya ikutan tanya deh mas lotion nya merk apa ??
imgar
December 20, 2006   07:57 AM PST
 
komen gua banyak neeh..
1. dari pada nyuci baju gua lebih suka ngepel..
2. darmaga..? jaman kuliah dulu gua sering ke darmaga..
3. hehe..ternyata cuma dua doang komen gua..
:D
adi-nyc
December 20, 2006   04:42 AM PST
 
giling - akhirnya lo balik lagi di mari;

sibuk banget yah di kantor bow;

Taun baruan kemana?

ps: terharu deh dikau ternyata anak berbakti sama ibunda
rivaldi
December 19, 2006   09:28 AM PST
 
Boleh tanya ya ?

Body lotion nya merk apa jeng ?
Kayaknya bagus ya :P

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments