|
 |
|
Jun 20, 2005
Haahhh….lega bener, akhirnya gue terbebas dari ‘guna-guna’ yang membelenggu gue selama hampir 3 minggu terakhir ini. Terputusnya pengaruh guna-guna itu ditandai dengan: beberapa hari yang lalu gue akhirnya memilih makan siang gue di Bakmi GM. Chinese Food, oh yeah! And besoknya gue makan gudeg telor and tempe bacem di Sarinah. Mmmm….manis, legit, gurih!
Guna-guna yang menguasai gue akhir-akhir ini adalah mantra yang terkandung dalam masakan Padang. Yak ‘tul, japa mantra yang ada di dalam kuah-kuah kental nan gurih, legit, enak berlemak itu, ditambah lagi dengan sambel ijo yang bikin once you start you won’t stop.
Selama 3 minggu terakhir, bisa dibilang TIAP HARI, kalau mau makan siang selalu aja yang terbayang di benak dan selera gue adalah masakan Padang. Dan yang gue pingin koq cuman satu, ga pernah berubah: gulai kikil. Paling ‘side dish’ yang lainnya cuman telor aja, bisa telor bulat atau telor dadar. Plus sambel ijo dan sedikit sayur of course.

Sekilas pandang masakan Padang…
Gue gak tau kenapa koq gue bisa seperti itu. I mean, orang ngidam juga engga sebegitunya deh, mpe tiap hari kepingin makan jenis makanan yang sama: masakan Padang. Udah gitu spesifik banget lagi: gu-lai ki-kil. Kalo kikilnya sedang kosong atawa udah habis, ya gue ga jadi makan di tempat itu. Tapi teteup gue pindah lagi ke rumah makan Padang lainnya sampai gue mendapatkan apa yang bisa memenuhi hasrat gue.
Gue coba-coba mikir, kira-kira apa ya yang jadi sebabnya?
Karena masakan Padang enak? Ya of course enaklah, secara makanan Padang kan kandungan lemaknya tinggi banget. Mulai dari bahan baku yang dipake (kebanyakan kan daging, ayam, atau apa-apa lainnya yang diambil dari hewan kayak otak sapi misalnya), sampai dengan kuah yang mengguyur atau merendam makanan itu, yang bahan dasarnya selalu: santan kental. It’s easy to understand kenapa masakan Padang biasanya enak dan mudah diterima selera banyak orang dari berbagai latar belakang. Kata kuncinya ya itu: lemak. Lemak memang punya kontribusi besar dalam rasa enak. Contohnya, bagian-bagian tubuh sapi dan ayam yang secara umum lebih disukai adalah yang mengandung banyak lemak dalam serabut ototnya, contohnya daging paha ayam, atau daging sekitar tulang punggung sapi yang kandungan ‘serat lemak’ dalam serabut ototnya relatif lebih tinggi karena bagian tersebut paling jarang dipakai bekerja oleh si sapi. Lemak yang berada di dalam serabut otot itu bikin, antara lain, tekstur daging menjadi lebih lembut dan empuk.
(…eerr…yang punya banyak timbunan di sekitar pinggang dan perut boleh ngerasa menang angin yaa…Kata kakaknya si Frances “The Nanny” Fein mengenai lemak-lemak di sekitar pinggang: “That’s where the flavor is”…. hihihi :P)
Selain urusan tekstur daging, lemak juga berkontribusi pada rasa enak gara-gara: biasanya di dalam lemak makanan udah ada komponen-komponen yang bakal menjadi komponen flavor pada saat mengalami pemasakan ato dimasak (istilah food chemistry-nya: flavor precursor). Udah gitu, kebanyakan komponen flavor dalam bahan makanan sifatnya larut lemak, bukan larut air, jadi masuk akal kalau memasak dengan pakai santan hasilnya akan berbeda dibandingkan dengan masak dengan air.
Tapi gue rasa bukan karena enaklah maka gue jadi pingin makan masakan Padang terus selama 3 mingguan. Secara bukan hanya masakan Padang aja yang enak, gitu loh. Dari dulu juga gue dah tau rasa masakan Padang memang enak, tapi toh gue masih suka masakan dari daerah lain juga. Malah, dulu-dulu gue selalu berusaha menahan diri untuk enggak makan masakan Padang sering-sering, secara kalorinya kan tinggi sekalee.
Untung waktu selera gue sedang ‘aneh’ itu, gue cuman pingin makan kikil aja, toch kikilnya sendiri ga mengandung banyak lemak, kebanyakan isinya cuman protein serat seperti kolagen dan elastin. Ya, hitung-hitung daripada gue suntik kolagen, mending dapet asupan melalui gulai kikil kan? Enak dan jauh lebih murah J . Tapi gue lupa apakah elastin bisa dicerna oleh pencernaan manusia, soalnya beberapa jenis protein serat engga bisa dicerna oleh pencernaan manusia.

Sambel ijo dan…gulai KIKIL!
Gue coba discuss fenomena aneh tergila-gilanya gue dengan masakan Padang ini dengan Rio, and jawabannya so 'chauvinistic' (tentu saja, hihih...) : “Bow, kita memang irresistible”. Padahal kan gue sedang doyan makan masakan Padang, bukan sedang doyan orang Padang!
Gue tanya Iwan, jawabannya nyeleneh seperti biasa: “Loe lagi kangen kuah-kuah kental ‘kali bow”. Huhh… L
Walhasil, gue gak nemuin jawaban, sama seperti kasus lampu kamar gue yang nyala sendiri itu.
Tapi semua sekarang sudah berlalu. Ditandai dengan semangatnya gue makan Bakmi GM, sampe-sampe pesen satu setengah porsi (secara udah lama pula enggak makan di sana), dah gitu besoknya sukses pula makan gudeg. Sayangnya gue belum sempet ke Gudeg Pejompongan nih (duh, enaknya tuh gudeg…belum lagi wajik ketannya itu loh).
Terimakasih para leluhur terhormat, baik dari sebelah ‘sana’ maupun sebelah ’sini’, makanan yang kamu ciptakan berhasil mematahkan guna-guna masakan Padang J
But ada ancaman baru menjelang…………..Gue belakangan ini jadi sering tergoda minum kopi and tunduk pula pada godaan itu! Padahal sejak 1997 gue udah terbiasa enggak minum kopi, jaraangng banget…secara menurut Prof. Hembing Wijayakusuma, banyak minum kopi bisa bikin susah ngurusin badan. *Bowo, ayo kita ke Phoenam yyuuu, minum kopi and makan roti bakarnya itu….Oh my God*
By the way, masih ada sisa guna-guna yang ketinggalan: niat mau makan di RM Padang “Garuda” di Hayam Wuruk. Kata Aldi sih, enak beneeuurr…
Posted at 10:42 am by baskinrobbins
Permalink
Jun 8, 2005
Happy Birthday Mom
Semoga selalu dalam perlindungan dan berkah Tuhan Semoga selalu dalam kesehatan
Semoga makin disayang Tuhan, dan makin sayang sama Tuhan Semoga panjang umur dalam ibadah dan kesetiaan dalam pengabdian kepada-Nya
Semoga panjang umur, karena bahkan sampai sekarang pun, Ibu adalah tempat aku pulang dan mengistirahatkan jiwa.
Duh, semakin panjang langkah ini, semakin terasa betapa hidup kadang seakan daya yang bergulung-gulung seperti ombak yang bisa menarik, menghanyutkan dan menghempas.
Atau kadang terasa bagaikan benang layangan yang menarik dan mengulur.
Kehidupan itu menarik, banyak yang patut disyukuri. Meskipun terkadang juga melelahkan, membingungkan, menakutkan. Tapi pulang ke atas pangkuanmu, serasa mendengar Tuhan bicara: "Hey, buat apa kamu takut dan bersedih, masih ada Aku".
Semoga panjang umur, karena anak-anakmu masih butuh doamu, perhatianmu, penghiburanmu, dan kasih sayangmu yang insya Allah tidak terputus.
Iya lah, kasih sayang orangtua adalah perwujudan kasih sayang Tuhan, salahsatu yang paling nyata.
Kadang aku lupa, ketika ditanya apa pengaruh orangtua dalam pembentukan kepribadian diri, jawabnya: "Aduh, saya susah menemukannya". Aku lupa bahwa Ibu dan Bapak lah yang bertahun-tahun mendidik anaknya.
Kadang jawabnya:"Mungkin buku-buku, atau apapun yang saya pernah baca, yang paling membentuk kepribadian saya". Aku lupa bahwa Ibu-lah yang ngajarin aku baca, jauh sebelum aku kenal yang namanya sekolah.
Kadang aku gemas dan jengkel, karena menganggap ayah-ibu kurang cukup punya 'drive' dan kegesitan. Aku lupa, kalau saja mereka orangnya seperti aku 'gini, mungkin mereka engga bisa jadi tempat pulang dan pelabuhan yang teduh bagi anaknya yang gampang tertekan ini.
Ibu lemah lembut, enggak seperti anaknya yang sering jutek Ibu ramah, enggak seperti anaknya yang kalo sedang bad mood males negor orang. Ibu anggun. Anaknya kadang pecicilan, jelalatan, and kadang lehernya sampe melintir, hihihi...
Ibuku cantik bagaikan bunga, bahkan sampai saat ini...

...and I'm grateful to God Almighty, for God let me be her son
and let me inherit some of her beauty J
Posted at 11:03 am by baskinrobbins
Permalink
May 31, 2005
Duh, udah sekitar tiga mingguan, gue tiap hari pasti pingin dengerin lagu ini, Vogliatemi Bene (yang nyanyi Roberto Alagna dengan Angela Georghiu), minimal sekali sehari....
...tercenung...
...merinding...
...terangkat...
...menggelegar....
..."orgasme" artistik...
...spine-tingling goosebumping moment...
...kadang bisa menitik butiran bening di sudut mata...
I wish...hiks...
...Mbok ya, gitu lohh ...J
|
Butterfly's and Pinkerton's famous love duet
"Vogliatemi Bene"
(from Puccini’s Madame Butterfly) |
|
(Notte completa:
cioelo purissimo e stellato.
Avvicinandosi lentamente a Pinkerton
seduto sulla panca nel giardino.
Si inginocchia ai piedi di Pinkerton
e lo guarda con tenerezza, quasi suplichevole)
Butterfly
Vogliatemi bene,
un ben piccolino,
un bene da bambino,
quale a me si conviene.
Vogliatemi bene.
Noi siamo gente avvezza
alle piccole cose
umili e silenziose,
ad una tenerezza
sfiorante e pur profonda
come il ciel, come l'onda del mare!
Pinkerton
Dammi ch'io baci
le tue mani care.
Mia Butterfly! come t'han ben nomata,
tenue farfalla...
Butterfly
(a queste parole Butterfly
si rattrista e ritira le mani)
Dicon che oltre mare
se cade in man dell'uom,
(con paurosa espressione)
ogni farfalla da uno spillo è trafitta
(con strazio)
ed in travola infitta!
Pinkerton
(riprendendo dolcemente
le mani a Butterfly e sorridendo)
Un po' di vero c'è.
E tu lo sai perché?
Perché non fugga più.
(con entusiasmo e
affettuosamente abbracciandola)
Io t'ho ghermita
Ti serro palpitante.
Sei mia.
Butterfly
(abbandonandosi)
Sì, per la vita.
Pinkerton
Vieni, vieni!
Via dall'anima in pena
l'angoscia paurosa.
(indica il cielo stellato)
È notte serena!
Guarda: dorme ogni cosa!
Butterfly
(guardando il cielo, estatica)
Ah! Dolce notte!
Pinkerton
Vieni, vieni!
Butterfly
Quante stelle!
/ Non le vidi mai sì belle!
|
| Pinkerton
\ È notte serena!
Ah! vieni, vieni!
È notte serena!
Guarda: dorme ogni cosa!
Butterfly
Dolce notte!
Quante stelle!
Pinkerton
Vieni, vieni!
Butterfly
Non le vidi mai sì belle!
Pinkerton
vieni, vieni!...
Butterfly
Trema, brilla ogni favilla ...
Pinkerton
Vien, sei mia!...
Butterfly
... col baglior d'una pupilla! Oh!
/ Oh! quanti occhi fissi, attenti
| d'ogni parte a riguardar!
| pei firmamenti,
| via pei lidi, via pel mare!
|
| Pinkerton - (con cupido amore)
| Via l'angoscia dal tuo cor
| ti serro palpitante.
| Sei mia.
| Ah, vien, vien, sei mia!
\ Ah! Vieni, guarda: dorme ogni cosa!
Ti serro palpitante.
Ah, vien!
Butterfly
Oh! quanti occhi fissi attenti.
/ Quanti sguardi ride il ciel!
| Ah! Dolce notte!
| Tutto estatico d'amor ride il ciel!
|
| Pinkerton
| Guarda: dorme ogni cosa.
| Ah! vien! Ah! vieni, vieni!
\ Ah! vien, Ah! vien! sei mia!
(Salgono dal giardino
nella casetta) |
(night has fallen:
the sky is clear and sprinkled with stars.
Butterfly slowly moves close to Pinkerton;
where he is seated on a bench in the garden.
She kneels at his feet and watches him
with tenderness, almost beseechingly)
Butterfly
Love me,
just a little,
like a baby,
that will be enough.
Love me.
We are people
happy with little,
humble and quiet,
touched with a tenderness,
gentle, yet deep as the sky,
and a wave on the sea.
Pinkerton
Give me your dear little hands,
so that I may kiss them.
My Butterfly! How aptly you were named,
delicate butterfly...
Butterfly
(at these words Butterfly's expression grows
anxious and she withdraws her hands)
Across the sea it is
said when a man catches,
a butterfly, he'll pierce her poor
little body with a pin.
(with anguish)
And then fix her in a glass case!
Pinkerton
(gently taking her hands
in his again and smiling)
There is a little truth in that.
But do you know why?
It is so she cannot escape.
(With eagerness he embraces
her affectionately)
Now I have you in my grasp,
I hold your trembling body.
You're mine now.
Butterfly
(giving in to his arms)
Yes, now and forever.
Pinkerton
Come my love, come!
Leave your anxiety and
anguish behind you.
(pointing at the starlit sky)
The night is so peaceful!
Look: everything sleeps!
Butterfly
(looking at the sky, spellbound)
Ah! Sweet night of enchantment!
Pinkerton
Come my love, come!
Butterfly
Endless stars!
/ Never have I seen such beauty!
|
| Pinkerton
\ The night envelops us!
Ah! Come my love, come!
The night is so peaceful!
See how everything sleeps now!
Butterfly
Sweet night of enchantment!
Endless stars!
Pinkerton
Come my love, come!
Butterfly
Never have I seen such beauty!
Pinkerton
Come my love, come!
Butterfly
Pulsating, twinkling, every star sparkles ...
Pinkerton
Come my love, you're mine now!...
Butterfly
... with the brilliance of flashing eyes! Oh!
/ Oh! So many watchful eyes,
| each gazing down upon us from afar!
| In the Heavens,
| along the shores, out to sea!
|
| Pinkerton - (with eager desire)
| Dismiss the anguish from your heart.
| I'll hold you tight against my heart.
| You're mine now.
| Ah, Come then, come, you're mine now!
\ Ah, Come, see how everything sleeps now!
I'll hold you tight against my heart.
Ah! Come now!
Butterfly
Oh! So many watchful eyes,
/ The Heaven is smiling!
| Ah! Sweet night of enchantment!
| All ablaze with love, Heaven smiles!
|
| Pinkerton
| See how everything sleeps now.
| Ah! come my love! Ah! come then, come!
\ Ah! come my love! Ah! come! You're mine now!
(They ascend from the garden
into the little house) |
*ketauan kalo lagi maleusz nulis neh, jadi ketik teks lagu aja deh...heheheheh*
Posted at 03:42 pm by baskinrobbins
Permalink
May 20, 2005
Eerrr…walaupun di-release sesudah tulisan Rio mengenai Tambal Ban Kang Maman1 dan 2 yang rada-rada sinetron misteri itu, tulisan ini gak bermaksud untuk ikut ngebahas hal-hal berbau supranatural yang kadang bisa bikin serempak (baca: sereeum) itu.
Lagian, sampe sekarang pun gw masih gak ngerti sebetulnya kejadiannya itu bagaimana, sehingga bisa digolongkan ke dalam kejadian apa.
Ceritanya sih cuman sederhana aja: beberapa hari yang lalu (gw udah gak inget hari apa and tanggal berapa tepatnya), malam harinya gue tidur dengan nyenyak setelah sebelumnya seperti biasa: sikat gigi, bersihin muka, ganti baju yang enteng, memanjakan muka dan leher gue dengan AHA Regenerating Night Cream, matiin lampu, and berdoa. Sebagaimana kerap terjadi sejak gue gawe di tempat yang sekarang ini, gue tidur kayak orang mati saking gue capek. Maksudnya kayak orang mati: gue tidur gak ada bangun-bangunnya samasekali and tau-tau udah pagi.
Nah, pas gue bangun, gue bengong sendiri. Kenapa lampu kamar gue koq nyala? Gimana caranya bisa nyala? Gue yakin betul gue enggak bangun and nyalain lampu setelah gue matikan sebelum tidur. Lagian seandainyapun iya, buat apa? Kan mesti ada perlunya gue nyalain lampu, mosok bela-belain bangun buat nyalain lampu tanpa alesan.
Gue liatin saklar lampu, emang posisinya bener posisi nyala, jadi pasti sudah terjadi suatu proses untuk men’cetrek’ saklar itu ke posisi nyala.

Tapi ya gue ga punya waktu lama-lama untuk mikir, secara gue harus cepet-cepet pergi gawe. Cuman dari hari ke hari, kalo lagi sempat, gue coba-coba lagi mikirin kira-kira gimana itu lampu koq bisa nyala.
Untungnya sih, ya Alhamdulillah, gue engga lantas ngerasa serem karena berpikir terlalu kearah yang horror-horor. Lagian apa seremnya sih lampu jadi nyala? Malah enak, bangun-bangun kamar gue udah terang jadi mata bisa cepet “melek”. Kalau kejadiannya adalah sebaliknya, i.e. lampu mati sendiri, mungkin hasilnya rada lebih serem (gatau juga sih).
Jadinya sampe sekarang gue tenang dan nyaman aja berada di dalam kamar gue. Gak ngerasa ada sesuatu yang ‘aneh’ gitu. Bukannya gue samasekali ga pernah ngerasa ada ‘sesuatu’ di kamar gue, tapi perasaan yang cuman sesekali muncul itu gak pernah ngebikin gue ketakutan sendiri tuh, Alhamdulillah. Lagian udah terbukti berkali-kali sebelumnya, ada seseorang yang punya masalah insomnia rada berat, kalo lagi maen ke kamar gue biasanya dalam hitungan menit bisa langsung ketiduran dengan pules, ga peduli jam berapapun. Padahal kalau di kamarnya sendiri, dia baru bisa tidur menjelang fajar. Dengan becanda, gue sering bilang ke dia bahwa kamar gue tuh bersih dari energi negatif, makanya dia yang sebegitu susah tidur pun bisa gampang banget ketiduran. Cuman kalau dia tanya balik: “Emangnya kamarku banyak energi negatifnya.??”, gue cuman bisa nyengir and jawab: “No comment, ah” (daripada berantem).

...kamar imut...
Tapi mumpung tulisan ini dibaca bukan hanya oleh gue (mudah-mudahan), tolong donk kasi alternatif ide atau penjelasan, kira-kira gimana sih kejadiannya koq lampu kamar gue bisa nyala sendiri..?
Posted at 11:47 am by baskinrobbins
Permalink
Apr 1, 2005
Gue lagi senang nonton DVD-nya Natalie Choquette. Bajakan of course, secara DVD orisinil untuk jenis lagu-lagu klasik, opera dan semacamnya kan masih di atas 200 ribu perak gitu, gak sanggup...kan gue udah ga kerja lagi di BPPN. Beberapa bulan yang lalu gue liat DVD konsernya Kiri Te Kanawa di Tarra Pasaraya Grande, and yang ada gue langsung mengeluarkan kutukan nenek sihir gue: “Mudah-mudahan ni DVD segera ada yang bajak biar gue bisa beli”. Nha gimana gue enggak nyumpah serapah, DVD ini harganya 435 ribu! Sinting. Ya gigit jari lah gue. Padahal gue liat daftar lagunya, ada ‘I Could Have Dance All Night’ dari musical ‘My Fair Lady’, whiii…gue pingin banget liat Tante Kiri nyanyiin lagu itu di atas panggung, secara gue selama ini cuman denger aja dari CD.
Back to Natalie Choquette. Gua suka banget ma dia, untuk alasan-alasan yang akan gue ceritain nanti. Sebetulnya sejak jauh sebelumnya gue udah beberapa kali liat DVD ini di tempat jualan DVD bajakan, sejak gue masih suka beli DVD musicals dan klasik/opera di Ratu Plaza di tempatnya Cik Brigita, sampe akhir-akhir ini dimana di Mal Ambasador udah banyak banget yang jualan DVD bajakan. Hanya aja gue dulu gak pernah ketarik untuk beli, gara-gara pas liat cover bagian belakangnya koq banyak foto-foto aksi panggung yang kesannya kocak and berbau komedi gitu, padahal daftar lagunya hampir semua opera aria, plus ada juga ‘Summertime’-nya George Gershwin dari musical ‘Porgy and Bess’. Jadinya gue bingung, nih penyanyi apaan sih, penyanyi opera atau apaan koq kesannya gak serius banget, jangan-jangan suaranya enggak puguh lagi? Udah gitu ada Nessun Dorma pula, gue rada-rada wegah kalo ngebayangin soprano nyanyi lagu itu, secara lagu itu kan dibuat untuk dinyanyiin para tenor.
Tapi secara makin lama DVD bajakan yang isinya lagu-lagu dari musicals and lagu-lagu klasik/opera makin lama makin jarang banget di sekitar Jakarta Pusat - Selatan, dan kayaknya gak pernah muncul yang baru-baru, akhirnya pas gue ngeliat lagi DVD-nya Natalie Choquette ini gue mutusin untuk beli. Penasaran dan pingin tau aja, toh aria terakhir di DVD ini ‘Ebben? Ne Andro Lontana’ adalah salahsatu aria favorit gue.
Setelah gue nonton DVD-nya, gue salut ma nih soprano. Dalam konsernya Choquette selalu memasukkan unsur komedi atawa lawak ke dalam aksinya di atas panggung. Later on, gue found out bahwa banyak yang menjuluki dia sebagai seorang opera comedienne. Nha, kualitas Choquette sebagai seorang soprano terlihat karena untuk dapat tetap bisa menyanyikan lagu-lagu yang sulit itu dengan memainkan aksi komedi pada saat yang sama, jelas memerlukan penguasaan teknik yang baik.

Natalie Choquette in action(s)
Kalau biasanya seorang penyanyi opera hanya berdiri di tempat aja di atas panggung saat bernyanyi dalam konsernya, maka Choquette hampir-hampir ga mau diam. Dia pecicilan di atas panggung. Bertingkah banget. Misalnya waktu nyanyiin ‘Ah! Je Veux Vivre’ from Romeo wal Juliet-nya Gounod, dia hilir mudik naik sepeda mungil pake kostum penari balet. Sinting banget. Tapi kebayang gak sih, gimana nyanyiin lagu opera sambil mengayuh sepeda kecil begitu. Kalau tekniknya dia enggak bagus, mana dapet?
Trus misalnya, saat dia nyanyiin ‘Summertime’-nya Gershwin dan harus hit the high note di penghujung lagu, posisinya berbaring telentang di sebuah bangku kecil, dengan punggung yang setengah menggantung (karena punggungnya enggak di-support oleh sesuatu apapun), udah gitu kaki kanannya diangkat pula tinggi-tinggi.
Di lagu ke-12, Mattinata, dia menyanyikan nada-nada tinggi sambil membungkuk, trus hilir mudik sambil ngangkat-ngangkat anak kecil pula (yang keliatannya anak itu udah lumayan gede dan berat). Nessun Dorma (biasanya gue gak suka lagu ini dinyanyiin kecuali oleh para tenor, tapi untuk Choquette ini, jadi perkecualian), memang dia nyanyiin sambil duduk diam, tapi ada bagian dari aria ini yang dia ‘nyanyiin’ dengan gargling, jadi dia minum dulu sedikit wine, terus dia gargling kayak kita gargling pake Listerine Mouthwash, ngikutin nada-nada di Nessun Dorma. She didn’t miss one single note.
Memang sih, pada saat encore di mana dia nyanyiin ‘Ebben? Ne Andro Lontana’-nya Catalani, nafasnya udah agak –sedikit- kedodoran. But please deh, itu kan practically lagu ke-15 yang dia nyanyiin dalam konser itu, gue rasa wajar aja lah kalau staminanya udah lumayan terkuras and nafasnya sedikit udah gak semantap sebelumnya. Tapi teteup, nada-nada tinggi masih dia capai dengan oke.
Lagian, di nomor pertama aja dia udah langsung ngegebrak dengan ‘Der Holle Rache’-nya Mozart, a very complicated aria. Selain penuh dengan nada-nada tinggi, aria ini membutuhkan diafragma yang udah terlatih banget, karena banyak rentetan nada tinggi yang harus dinyanyikan dengan staccato. Tante Kiri Te Kanawa aja di konser Opera At Outback, memulai dengan aria-aria yang relatif ‘nyantai’ dulu, baru pada nomor ke-5 dia mulai masuk ke aria yang rada-rada ‘memekik’ gitu, kayak ‘Vissi d’Arte’, ‘Signore, ascolta!’, dst.
Gue bisa sedikit membayangkan kematangan tekniknya Tante Choquette ini. Soalnya nyanyi dengan posisi ‘sikap sempurna’ aja susah, apalagi disuruh sambil pecicilan kayak gitu. ‘Sikap sempurna’ atau posisi ‘awal’ nyanyi yang gue maksud adalah dimana nafas udah kita tarik dengan stomach breathing, diafragma udah ready untuk support, rongga dada direnggangkan (pundak tertarik ke belakang) and tulang ekor ditarik ke atas sehingga pantat mau gak mau rada menonjol ke belakang and rada naik ke atas, kayak rada ‘nungging’ dikit gitu, plus kondisi ‘open throat’ (Iwan and Rio, gak usah komentar J). Nah kalau Choquette bisa hit the high notes sambil membungkuk, nggendong-nggendong anak, telentang, naik sepeda and sebagainya, paling tidak tante ini bisa mempertahankan support dari diafragmanya dalam berbagai posisi itu. And I don’t think it’s easy. Pasti memerlukan ketekunan berlatih and kedisplinan dalam menerapkan teknik yang benar. Mungkin emang gak salah tuh komentar yang gue baca tentang Choquette: “Memiliki passion terhadap opera seperti orang Italia, kedisiplinan Rusia, dan sense of humor yang universal”. Tante ini memang pernah melewati masa kecil hingga dewasanya di Italia kemudian di Rusia, secara bokapnya adalah seorang diplomat.
Mungkin suaranya emang enggak sedahsyat, say, Maria Callas atau Joan Sutherland. Or maybe nafasnya juga ga sepanjang Montserrat Caballe, misalnya. Tapi Choquette juga punya gimmick. Kan kata Stephen Sondheim: “Get yourself a gimmick, and you too can be a star”.
Well, Choquette udah menambah panjang daftar soprano favorit gue. Tapi sebenernya daftarnya juga emang enggak panjang seh, secara gue juga enggak tau banyak mengenai opera. Cuman memang jumlah opera singer perempuan yang gue suka lebih banyak daripada cowoknya. So, aria yang gue kenal dan sukai, and gue coba-coba untuk nyanyikan, lebih banyak yang merupakan repertoir para soprano ketimbang para tenor. Kenapa ya?
Pernah suatu kali gue coba bahas ini dengan temen gue Richie Rinaldo (yang nama Rinaldo-nya itu diberikan oleh tantenya dengan harapan bisa jadi pemain sepakbola yang sehebat Rinaldo, atlet sepakbola kenamaan dari Amerika Latin jaman dulu. Tapi sayang harapan mulia tantenya itu enggak jadi kenyataan karena temen gue ini, kabarnya, engga gape main bola…J). Mau tau apa analisisnya mengenai kenapa gue lebih suka repertoir-nya para soprano? Katanya dengan nada bijak: “Ya gak aneh lah mak, secara je emang secantik Maria Callas and enggak kayak Pavarotti gitu”.
Speechless deh gue.

Callas and me. Engga mirip kan..?
Posted at 01:21 pm by baskinrobbins
Permalink
Jan 30, 2005
“No, it’s not, it’s Gaylord’s foreskin”
Dan kekisruhan di meja makan keluarga Fockers lantas terjadi, yang diakhiri dengan mencelatnya sepotong kulit berbentuk ‘cincin’ dari buku kenangan Gaylord Fockers ke atas meja makan dan ujung-ujungnya nyemplung ke dalam celupan fondue.
Adegan dari Meet The Focker itu sempat bikin gue mikir n mengingat-ingat tentang persunatan or khitanan, juga about kapan ya exactly gw dulu disunat or dikhitan. Ceritanya kan si Gaylord (Ben Stiller) tuh dari keluarga Jewish abis, yang main jadi nyokapnya aja Tante Barbra Streisand dengan jewish nose-nya yang udah jadi trade mark itu. Mungkinkah hidung tante itu adalah salahsatu faktor pendukung suaranya yang enchanting? Kan resonance room-nya yang bisa memperkuat and mempertajam suaranya jadi lebih besar daripada rata-rata? Secara khitanan emang merupakan salahsatu keharusan bagi orang Yahudi laki-laki, maka Gaylord pun waktu kecil disunat, and potongan kulit hasil sunatan itu disimpan oleh orangtuanya di dalam buku kenangan, bareng dengan benda2 lain kayak gigi-gigi susu yang udah copot.
Cuman gw ga tau, apakah sunat itu merupakan keharusan dalam agama Yahudi atau hanya semacam keharusan dalam tradisi Yahudi? Soalnya gw kenal ada orang turunan India yang bangga banget karena dia dia beragama Yahudi, tapi menurut kesaksian dari dari beberapa orang yang juga gue kenal baik, si Yahudi India ini (atau India Yahudi?) enggak disunat. Koq ada yang bisa memberikan kesaksian semacam itu? Ya ga usah dibahas lah, yang jelas informasi itu enggak berasal dari keterangan yang tercantum dalam paspornya J
Tadinya gue sempat gak inget kapan gue dulu disunat. Tadinya sempet kepikiran, kayaknya waktu gue SD deh. Tapi kemudian gw ingat, gw dulu disunat di kelas 1 SMP. Telat? Maybe, karena setau gue biasanya anak-anak disunat waktu masih SD, paling enggak that’s what happened to temen-temen gue. Memang orangtua gue enggak mau maksa nor nyuruh anak-anaknya sunat, mereka cuman ngasi info aja mengenai manfaat sunat dari sisi kesehatan dan keharusan sunat berdasarkan agama. Tapi kapan sunatnya mereka serahkan ke anak-anaknya, alias nunggu sampe si anak minta disunat.
Secara di keluarga gue engga ada tradisi ngasi segala macam hadiah, uang, and ngadain segala macam hajatan buat anak yang sunatan, maka sewaktu gue SD engga kepikir untuk minta disunat. What’s the point? Kaga dapet apa-apa, cuman sakit doang. Lagian, seberapa pentingnya sih manfaat kesehatan and aspek kewajiban agama buat seorang anak SD seperti gue? Makanya setelah masuk SMP, baru gue berpikir untuk minta disunat, besides, kalau ga waktu itu, mau kapan lagi? Mosok mau kayak family jauh gue yang disunat pas udah SMA, jadi mesti dicukur dulu ama suster sebelum proses khitan bisa diterusin.…YOT, bete amat.
Maka disunatlah gue di dokter. Dokter ini juga yang nyunat semua kakak-kakak gue. Yang bikin bete, supaya enggak sakit pada saat disunat maka dibius lokal dulu, tapi ngebiusnya kan disuntik, lebih dari satu kali pula. Oya jaman dulu kayaknya belum ada macem-macem metode khitan kayak jaman sekarang, ada yang pake laser segala kayak khitanannya ponakan gue.
Anyway, proses khitan yang tergolong operasi kecil itu berjalan dengan lancar, selamat dan sukses. Dokternya nemang jago. Hasilnya juga oke lho, bisa dilihat sampai dengan hari ini J
Of course rasa sakit yang muncul setelah pengaruh biusnya hilang ya cukup mengganggu. Juga problem with sisa-sisa benang jahitan yang kering dan mencuat ke luar, sehingga pada saat the little brother kebentur ma paha tuh benang kering bisa menusuk balik ke dalem (aaouuuw…! Lagi tidurpun gw bisa langung ngejingkrak kebangun kayak orang kesengat). Juga dengan kulit glans yang sejak lahir selalu tertutup and sekarang terbuka and pekanya bukan main, jadi kalau kesenggol geli-linunya minta ampun. Juga with the fact that I was starting to have morning erections (dan erections karena sebab-sebab lain). Tapi semuanya ya enggak jadi masalah, karena they were only parts of the consequences, toh yang minta sunat kan gue sendiri. Malah, secara gue tergolong banceh olahraga permainan, pagi disunat sorenya gue udah pecicilan main pingpong, walaupun masih pake sarung and bergeraknya emang engga segesit Dai Lili (bacanya: tay li li, jagoan pingpongnya RRC waktu itu). Lusanya gue juga udah kembali menjajal lapangan bulutangkis dengan celana pendek, meskipun dengan gerakan kaki yang masih lebih mirip Ratih Kumaladewi ketimbang Li Lingwei yang cepat, gesit dan ringan.
Well, itulah sepotong cerita.
Selama bertahun-tahun, buat gue ga ada beda yang signifikan antara disunat dan engga disunat. Bahkan setelah gue disunat pun. But when I reached a certain stage, dimana ge udah mulai memasuki fase “adult” and start to compare more things, maka perbedaan antara disunat dan tidak disunat menjadi sedemikian signifikan and even “menentukan”.
Ceritanya kira-kira begini. Binatang yang sejauh ini paling membuat gue “takut” adalah yang namanya ulat. Bukan takut ngeri, tapi takut geli. Gilo, kalo kata orang Jawa. Pokoknya yang bisa membikin gue mengeluarkan teriakan “Hiiiiiyy…hiiiiiyyy!” dengan suara menyaingi suara sopran-nya Tante Kiri Te Kanawa atau Bude Joan Sutherland. Tapi bukan ulat bulu, kalo ulat bulu gue engga takut cuman waspada aja ama bulunya.
Ulatnya adalah ulat yang zonder bulu. Dari segala jenis. Dan yang paling scary, dan bentuknya paling monstrous buat gue, adalah ulat pisang (Erionota thrax, kalo ga salah). Buat beberapa orang, ulat pisang malah dibilang ulat yang paling cute. Aiyyaaa..! Maybe karena gue udah musuhan banget dengan yang namanya ulat, maka semakin cute bentuknya semakin mengerikanlah efeknya buat gue.
Ulat pisang itu seinget gue bentuk badannya mirip jari kelingking agak gemuk. Badannya enggak beruas-ruas atau berbuku-buku. Warnanya, seinget gue, ada yang hijau kayak daun pisang, tapi samar-samar gue seperti inget ada yang warna hitam semuanya, ada juga yang ada warna hitam-putin kayak warna papan catur. Tapi yang jelas, badannya kayak agak ketabur ama tepung warna putih gitu, gw ga tau yang kayak tepung itu sebetulnya apaan.
<gosh….sambil nulis ini pun gue udah merinding-merinding>
Tapi bagian moncongnya, alias mulutnya, aduh, mulutnya inilah yang paling membikin gue bergidik. Tau kan balon karet tiup? Tau kan lubang di balon tempat kita niup bentuknya kayak apa? Nah seperti itulah kira-kira bentuk moncong ulat pisang,
<…dan gua pun semakin merinding…>
jadi semacam cincin gitu yang menempel pada kepalanya dengan sedikit ‘leher’ antara cincin tersebut dengan sang kepala.
Simply, menurut gue, ulat pisang itu bentuknya mirip banget dengan si little peter yang enggak disunat. Atau si little peter yang enggak disunat itu bentuknya mirip banget dengan ulat pisang. Whatever, whichever.
Makanya, little pete, don’t ever show yourself before me, not if you still look like ulat pisang…
Wekekek.... J
<no offence yaa…heheheh>
Btw, Rio and Aldi, secara je berdua sangat fond dengan Perancis, kasitau gue kalau ada tempat makan fondue di Jakarta yak.
Posted at 11:14 pm by baskinrobbins
Permalink
Jan 23, 2005
Sebenarnya tulisan ini maunya ditulis beberapa hari yang lalu, paling tidak sehari atau dua hari setelah Malam Tahun Baru. Tapi somehow jadinya mundur banget. Basically sih gue cuman mau bicara ngalor ngidul mengenai sebagian dari Malam Tahun Baru 2005 yang gue lewati kemarin.
Sebagaimana di tahun-tahun sebelumnya, gue engga pernah menganggap Malam Tahun Baru –dan juga tahun barunya- sebagai sesuatu yang spesial. Lagian kenapa juga? Toh gue engga melihat ada sesuatu yang berbeda secara prinsip pada Malam Tahun Baru, compared to malam-malam lainnya. Sama aja kayak pergantian hari yang setiap hari kita alami. Hanya aja kebetulan hampir di seluruh dunia menjadikan malam itu sebagai malam dimana terjadi pergantian tahun, dalam konteks sistem penanggalan Masehi. Kalau gue mau, bisa aja gue bikin sistem penanggalan yang lain, dan Malam Tahun Baru akan jatuh di waktu yang berbeda. So what? Tapi ya mungkin yang mau ngerayainnya cuman gue ajah:)
Berhubung si Koko batal dapet job ngemsi pada Malam Tahun Baru 2005 ini, jadinya dia ikutan ngerayain pergantian tahun di rumah keluarganya di daerah Ciganjur. Kebetulan pula hari sebelumnya Iwan kasi gue info mengenai acara untuk mengisi malam pergantian tahun dengan iktikaf di Masjid Bank Indonesia dan Masjid Sunda Kelapa. Sejak Iwan kasi info itu, gue memang udah tertarik untuk datang ke acara di Masjid, cuma belum menentukan mau ke Masjid yang mana. Terutama musibah di Aceh dan Sumatera Utara lah yang membuat ngerasa risih kalau melewatkan Malam Tahun Baru dengan sesuatu kegiatan yang berbau senang-senang. Gue ngerasa malu dan engga pantes. Alternatif yang ditawarkan Iwan itu jauh lebih mengenai di minat gue. Sebetulnya kalau si Koko jadi ngemsi, pastilah gue akan temenin dia (meskipun sebenernya gue sih pinginnya tetap pergi ke Masjid aja). Nha karena jobnya pun batal, akhirnya si Koko ke Ciganjur, dan gue dengan acara gue sendiri.
Sampai last minute gue masih belum bisa nentuin mau ke Masjid yang mana. Tanggal 31 Desember 2004 sore, after nganterin si Koko ke St. Theresia untuk misa Malam Tahun Baru, gue trus pulang. Biasalah, gue leyeh-leyeh dulu, males-malesan sampai jam 8 malem lebih dan masih juga belum nentuin mau ke Masjid yang mana. Sebelumnya sih gue keinginan gue lebih kuat untuk ke Sunda Kelapa (Sunklap), karena gue pikir disana acaranya lebih ke arah dzikir dan doa aja, sedangkan di Masjid BI menurut Iwan acaranya ada banyak ceramah. Iwan udah menentukan pilihan untuk ke Masjid BI aja, karena menurut dia topik ceramahnya cocok buat dia. Sedangkan gue, secara gue mood-nya sedang ingin menghayati kehidupan para suster di Biara Trapistin (duh, tuh buku Sidney Sheldon yang udah belasan taun lewat dibaca, masih aja suka muncul di dalam kepala :)), makanya gue koq rasanya lebih berminat ke Sunklap aja.
Tapi biasalah, si gueh, rencananya suka berubah-ubah ‘mulu. Mungkin karena di bawah sadar ngerasa sedang punya luxury of having choices yang semua choices itu ga ada resikonya. Loe mau kesini boleh, kesono juga boleh. Tinggal pilih aja yang loe suka. Pokoknya gue punya authority penuh, dan apapun yang dipilih ga bakal jadi keputusan yang salah. Nha ujung-ujungnya kepikir di benak gue, kan gue udah pernah ngerasain iktikaf di Sunklap, sedangkan gue belum pernah masuk ke Masjid BI. Lagian, apa ya seru kalau cuman sendirian aja di Sunklap; biar ‘gimana, ini kan bukan bulan Puasa, mungkin gue bakal ga terlalu tahan untuk menjalani ritus kesunyian dalam waktu yang panjang di dalam Masjid dengan berbagai macam sholat, dzikir, doa dan pembacaan Al Qur’an. Pastilah gue sebentar-sebentar pingin ngobrol dan rumpi. Kalau ga ada sparring partner, bingung dong? Akhirnya di saat-saat terakhir gue mutusin untuk pergi ke Masjid BI aja, biar bisa ngeganggu konsentrasi Iwan Van Pejompongan dengan cara ajak-ajak dia ngerumpi pada saat ngedengerin ceramah.
Gue langsung milih naik ojek, secara gue curiga bakal susah ngedapetin taksi. Maka hinggaplah gue ke boncengan (ya jelas bukan ke pangkuan dong!) tukang ojek dari mulut jalan masuk ke tempat kos gue di Setiabudi nan permai.
Meluncur melalui Jalan Setiabudi Tengah ke arah Four Seasons, kemudian menuju Landmark dan kolong BNI, gue ngerasa somehow lega, ringan dan senang karena gue lihat jalanan sedemikian sepi. Wah, orang-orang pada ga mau turun ke jalan nih karena prihatin atas bencana tsunami, begitu pikir gue. Bahkan di lampu merah di mulut kolong BNI itu gue lihat juga lengang, dari arah Shangri La dan Pejompongan arus mobil juga biasa aja, cenderung sepi malah.
Makanya, it was kinda surprising, and in fact membuat gue merasa lega, ringan dan senang karena ternyata orang Jakarta nih masih pada tau diri juga ya, saat saudara-saudaranya di Aceh dan Sumut sedang habis-habisan dilanda cobaan yang amat sangat berat, mereka bisa menahan diri untuk tidak berhura-hura di Malam Tahun Baru. Ya mesti cengli lah, wong di luar negeri aja banyak yang memilih untuk mengganti pesta tahun baru dengan acara yang lebih berwarna perenungan dan doa karena adanya musibah yang amat besar ini, mosok orang Jakarta malah pada turun ke jalan and bergembira-ria?
Ternyata Malam Tahun Baru kali ini berbeda, dan ini melegakan, pikir gue sambil terus melaju di boncengan ojek melewati tikungan yang menanjak memasuki Jalan Sudirman…. BUT THEN…Oh My God! Begitu sampai di sisi Jalan Sudirman, gue melihat barisan ratusan orang, ribuan maybe, berjalan di atas trotoir Sudirman, ada yang berkelompk-kelompok, ada yang berdua-dua, ada yang kelihatannya seperti ibu-bapak dan anak, banyak diantaranya memegang terompet yang most probably mereka baru aja beli di pinggir jalan karena di sepanjang trotoir banyak nongkrong pedangan terompet. Mereka semua berjalan ke arah Thamrin, entah mau kemana exactly. Ya jangan tanya pula bagaimana keadaan jalan rayanya, tentu aja penuh dengan mobil, sisi kirinya pun sesak dengan motor-motor. Memang belum sampai ke kondisi macan tutul alias macica muhtar alias macet total, bisa dibilang baru tahap padat aja, dan kendaraan masih bisa berjalan dengan perlahan-lahan. Maybe that’s why ruas jalan di bawah Sudirman tadi (kolong BNI dan sekitarnya) masih relatif lengang, karena situasi Sudirman belum sedemikian ekstrim sampai harus mengimbas ke sekitarnya dan juga mungkin belum semua orang yang ingin keluar rumah sudah actually berada di jalanan.
Gue jadi terhenyak. Rasa ringan, lega dan senang pun menguap entah kemana. Apalagi gue juga harus menghadapi kondisi jalanan yang padet merayap, sedangkan gue berada di boncengan ojek yang juga harus merayap di sepanjang kiri Jalan Sudirman ke arah Thamrin sehingga gue mesti menghirup udara malam Tahun Baru yang penuh asap knalpot tanpa perlindungan. Asepnya itu lho, asepnya! Dan waktu tempuh gue sampai ke Masjid BI kan masih panjang karena keadaan jalan yang merayap gitu.
Dengan berusaha menghemat nafas gue dengan menghirup udara sehemat dan sejarang mungkin (percuma dong ikutan olahraga pernafasan kalo engga bisa beginian…), gue perhatiin keadaan sekitar gue. Ada anak-anak, ABG, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, di atas trotoir semuanya berjalan kaki ke arah Thamrin. Dari ekspresi yang bisa gue tangkep, it was obvious bahwa mereka memang keluar rumah untuk have fun, to celebrate something(!). Enggak semuanya jalan kaki sih. Ada juga yang duduk di trotoir and di halte bus, ngeliatin orang-orang yang sedang jalan di depan mereka. Untungnya sih, kalau mau dibilang untung, ga banyak orang yang niup terompet, kebanyakan cuman nenteng-nenteng aja tu terompet di tangan. Jadi ga terlalu berisik.
Di atas jalan raya, mobil-mobil makin lama makin padat. Gue sempet perhatiin ada mobil yang jendelanya setengah dibuka, isinya bapak-ibu dan anak-anaknya yang masih lumayan kecil, umur-umur TK-SD gitu lah. Anak-anak itu nampak bergembira dengan terompetnya masing-masing yang sesekali mereka tiup. Kelihatan juga ibu mereka dengan wajah sumringah, encouraging anak-anaknya untuk bergembira. Yang ada, di dalam kepala gue ngomong, duh bapak-ibu, kalian tuh dari mana mau kemana sih? Apakah cuma kebetulan lewat jalan Thamrin karena akan atau baru saja melakukan sesuatu yang penting, misalnya silaturahmi ke rumah kerabat ; atau memang sengaja keluar rumah untuk bersenang-senang di Malam Tahun Baru? Seandainya alasan yang terakhir ini yang menjadi penyebab kalian keluar rumah, kapan bapak-ibu akan mulai mengajarkan adik-adik kecil itu, anak-anak kalian, untuk berempati terhadap penderitaan orang lain? Bukankah ini waktu yang sangat tepat untuk memulai hal itu? Instead of…duh, berat deh rasanya hati ini. Kemana rasa ringan yang tadi ada di dalam hati saat gue baru beberapa saat melaju di boncengan ojek?
Seiring dengan terus berputarnya roda ojek yang gue naikin mendekati Masjid BI, rasanya koq perasaan gue semakin lama semakin berat. Berat, karena dihimpit rasa prihatin dan sedih melihat keadaan di sekitar gue ini. Kemana empati sodara-sodara gue ini? Apakah mereka gak sempat mencoba –sebentar aja- membayangkan apa yang dialami sodara-sodara kita yang lain yang menjadi korban tsunami? Punya apakah mereka saat ini untuk dirayakan? What’s to celebrate? Rumah hilang, musnah. Harta benda habis. Keluarga pun mungkin hilang entah kemana. Sangat mungkin kondisi badan dan psikis pun sakit. Sangat mungkin dengan luka parah disana-sini. Tapi tidak ada yang merawat mereka dengan sepatutnya. Hal-hal yang paling mendasar dari kebutuhan manusia hampir-hampir tidak mereka dapatkan saat ini. Bisa dibilang kehidupan mereka telah terenggut. Dan entah kekuatan sebesar apa yang mereka butuhkan untuk bisa memulai lagi semuanya dari nol?
Sempat terpikir di dalam benak gue, lebih baik berusaha untuk mengerti daripada mencela. Gue berusaha membayangkan gue adalah salahsatu dari orang-orang yang sekarang sedang memadati pinggir Jalan Sudirman ini. Apa yang gue tau mengenai apa yang mereka harus lalui sehari-hari? Mungkin yang harus mereka hadapi dari hari ke hari di Jakarta ini jauh lebih berat daripada yang gue alami sendiri. Mungkin mereka juga udah akrab dengan kesusahan, dengan kesempitan, dengan penderitaan. Mungkin mereka berpikir, kalau soal susah dan menderita, gak cuman orang Aceh atau Sumut, tiap hari juga kita udah alami; mosok pingin bersenang-senang sebentar aja di Malam Tahun Baru engga boleh juga? Ya mungkin di bawah sadar mereka meraqsa atau berpikir seperti itu. Dan saat ini mereka cuma ingin sejenak melepaskan diri dari kesumpekan yang mereka hadapi tiap hari.
Dengan berpikir begitu, gue berusaha untuk mengerti, meskipun tetap ga bisa menemukan pembenarannya. Apalagi kalau melihat yang pada pakai mobil, most likely kan mereka bukan orang-orang yang susah-susah amat yak?
Anyway, perjalanan gw pun berlanjut terus sampai ke Masjid BI. Sewaktu masih di atas ojek, Iwan sempat sms, ngasi tau kalau Masjid BI penuh banget. Cuman gue ga tau apa sms-nya itu mewakili rasa suka atau enggak sukanya dengan situasi penuh seperti itu. Dan ternyata waktu gue sampai di Masjid BI, jamaahnya memang buanyak banget, sampe luber-luber keluar. Di pelataran samping kiri Masjid, sudah dimasang tenda biru (ngapain warnanya pake gue sebut segala ya..?) untuk menambah daya tampung, dan ternyata masih belum cukup juga. Untung aja enggak hujan.
Gue engga bisa menemukan Iwan, karena kan dia datang lebih awal, dan sudah berada somewhere di bawah tenda biru di tengah-tengah ratusan jamaah lainnya, jadi cuman bisa sms-an doang.
Dan ternyata, hal yang menyebabkan perasaan gue jadi unhappy masih harus bertambah. Si penceramah, entah ustadz siapa dan dari mana datangnya dan sedang dapat giliran ceramah saat gue sampai disana, sedang berbicara tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat. Secara baru terjadi musibah besar di Aceh dan Sumut, pastilah topik ini menjadi ‘hangat’. Masalahnya adalah, ustadz ini membawakan hadits berisi penjelasan tanda-tanda kiamat secara sangat-sangat letterlijk alias harafiah, tanpa membuka kemungkinan penafsiran lain atau kemungkinan bahwa terdapat makna lain di balik kata-kata yang tertuang dalam hadits ini. Dan it was all because hadits ini, menurutnya, adalah hadits yang mutawatir karena diriwayatkan oleh 30 orang perawi hadits. Pokoké ga usah ragu-ragu deh. Hiiyah..! Antara kesahihan suatu hadis dan bagaimana menginterpretasikannya, kan merupakan dua hal yang berbeda Pak. Meyakini kebenaran suatu hadits kan tidak harus berarti mengartikannya dengan secara sangat-sangat harafiah? Paling tidak, terhadap suatu hadits bisa juga ditinjau latar belakang atau penyebab disabdakannya suatu hadits, dan hal ini berarti membuka peluang untuk interpretasi lebih lanjut daripada sekedar apa yang tertulis.
Yang paling membuat gue fed up adalah pada saat si bapak ustadz ini sampai ke perihal munculnya Ya’juj dan Ma’juj, sebagai salahsatu tanda kiamat. Dengan sangat sembrono, menurut gue, dia menunjuk etnis tertentu sebagai Ya’juj dan Ma’juj yang akan membuat banyak kerusakan di atas muka bumi. Gue merasa amat sangat sebal pada saat dia menggambarkan ciri-ciri fisik golongan Ya’juj dan Ma’juj ini, yang kemudian dibumbui kata-kata yang kira-kira seperti ini: “Ga usah disebutkan ya…Kan udah tau sendiri kira-kira siapa”. Masalahnya adalah, dia samsekali tidak menjelaskan dari sumber mana dia mendapatkan ciri-ciri fisik tersebut, dari Al Qur’an kah, dari hadits kah? Yang jelas dia sisipkan masalah ciri-ciri fisik tadi ke tengah-tengah pembahasan suatu hadits yang mutawatir, seakan masalah ciri-ciri fisik tersebut memang menjadi bagian dari hadits tersebut.
Beberapa tahun yang lalu gue pernah membaca tafsir Al Azhar yang ditulis oleh Almarhum Buya Hamka. Di pembahasan salahsatu surah dalam Al Qur’an, Beliau juga sempat membahas tentang Ya’juj dan Ma’juj…Oya, gue inget, surah itu yang menjelaskan perihal Iskandar Zulqarnain (Alexander The Great-kah ? Atau Cirus Raja Persia? Atau bukan keduanya? Wallahu a'lam). Sejauh gue bisa ingat dan sejauh ingatan gue engga salah, di dalam tafsir itupun Buya Hamka tidak menunjuk Ya’juj dan Ma’juj secara pasti sebagai kaum tertentu, dan Beliau membuka kemungkinan untuk penafsiran-penafsiran yang berlainan perihal masalah ini. Yang jelas, Beliau tidak sembrono. Yang jelas, bahkan Buya Hamka dengan ilmu seluas dan sedalam itu pun tidak mau melakukan hal yang ustadz ini lakukan.
Kesembronoan untuk menunjuk etnis tertentu sebagai Ya’juj dan Ma’juj tanpa memberikan informasi mengenai darimana dan bagaimana dia bisa memperoleh kesimpulan seperti itu, menurut gue adalah sangat dangkal. Yang membuat gue merasa amat kecewa dan jengkel sebetulnya bukan semata-mata karena merasa ada pertalian dengan etnis tersebut, melainkan karena pembicaraan ustadz tersebut menurut gue bukanlah pembicaraan yang bisa membawa kebaikan bagi umat. Malah seandainya jemaahnya yang mendengarkan ceramahnya tersebut adalah orang-orang yang berpikiran dangkal, maka akibatnya adalah sangat mengerikan: akan timbul kebencian dan kecurigaan terhadap orang-orang dari etnis tertentu, tanpa melihat siapa, dimana dan bagaimana orang-orang tersebut.
Amat mengecewakan buat gue bahwa di jaman seperti sekarang ini, masih harus ada dakwah yang seperti itu. Menyedihkan. Apa manfaatnya bagi umat?
Karena diterpa kekecewaan yang sangat besar, ditambah lagi gue engga bisa tenang melakukan dzikir, doa, sholat, dsb karena Masjid terlalu penuh, gue pun sms-an dengan Iwan, ngasi tau bahwa gue akan coba ke Sunklap aja, manatau disana lebih tenang keadaannya. Lagian gue pikir, kalau gue di Masjid BI terus jangan-jangan malah nambah dosa aja karena ngomel-ngomel terus perihal si ustadz itu. Eh, taunya Iwan juga tertarik dengan ide gue untuk pindah ke Sunklap. Berarti deze juga engga betah dengan suasana yang ada, sepertinya karena kondisi yang terlalu penuh jamaah. Ya wis, akhirnya gue kasi tau deze bahwa gue ada di sisi kanan Masjid dekat pagar yang banyak tukang jual makanannya. Dia masih bingung aja, gue kasitau lagi: “Sisi kanan kalau loe menghadap ke Masjid, bukan membelakangi Masjid; tenda biru loe itu di sisi sebelah kiri nha berarti gue di sisi yang satunya lagi”.
Gue tungguin…eh deze masih belum nongol juga. Eh tau-tau dia nelpon lagi masih binun, “Loe dimana sih?”. Yah, dia nanya lagi, gimana sih. Gue kasi tau lagi posisi gue, abis mana trus dia bilang: “Oo, yang di deket Tanamur itu ya”.... Iwan ya….Setelah gue konfirmasi bahwa: “He-eeuh, yang di deket Tanamur”, barulah dia paham.
Iwaan, Iwan, teteup aja ya loe, patokannya mesti Tanamur dulu, baru mudeng :)
Karena gak ada taksi yang mau bawa ke Sunklap dengan alasan jalanan macet, akhirnya kita sepakat untuk jalan kaki aja ke Sarinah, dari sana bisa naik bajaj atau ojek. Sepanjang jalan menuju Sarinah, gue dong yang masih aja engga bisa menahan diri untuk tidak ngomel perihal ustadz tadi. Abis gimana, bete bangeut. Seperti biasa Iwan hanya senyam-senyum sembari nonton orang ngomel. Tapi dia sempat bilang bahwa dia akan sampaikan kekecewaan dan keluhan gue itu ke temannya yang ngajak dia ke Masjid BI itu and kalau ga salah menjadi salahsatu panitia juga.
Of course kita juga ngebahas mengenai lalu-lalangnya orang di jalanan menyambut Tahun Baru, dan Iwan juga merasakan kekecewaan yang sama dengan yang gue rasain saat di perjalanan menuju Masjid BI tadi.
Waktu kita jalan di atas jembatan penyebrangan Thamrin yang ujungnya ga begitu jauh dari gedung Bangkok Bank, ada penjual terompet Tahun Baru yang jalan berlwanan arah dengan kita. Meskipun belum berpapasan, dari agak jauh dia udah mulai nawar-nawarin dagangan terompetnya. Mungkin karena enggak mendapat respon yang diinginkan, pada saat berpapasan dengan kita dia pun tiup-tiup terompet. Maksudnya ya menawarkan juga, cuman dengan cara lain. Tapi berhubung gue masih diliputi perasaan mangkel and bad mood, ngeliat dia niup-niup terompet gitu, yang ada mulut gue mencetuskan mantra: “Plis deh. I blow better than you do”.
Jutek.
Posted at 08:26 pm by baskinrobbins
Permalink
Jan 3, 2005
The heart is slow to learn
The heart is slow to learn
These feelings that I feel
are foolish, but they're real
I'm wise enough to see
this love will never be
But each day's like the last
when living in the past
I know it's mad
and you won't return
But then, as I have said
The heart is slow to learn
I'll never love
as I loved you
Why is love cruel?
I wish I knew
It was started with hesitation
for the differences is far above the flirtation
But my mom often said: "You'll never know if you won't try"
So I've tried. Lord knows I've tried.
Obstacles were seen as challenges
Trying hard to be the best, and find ways
Trying hard to give support, and create opened doors
But Lord, what a weak creature You have created!
Within a blast my energy has ceased to last.
Don't seem to have any strength to move on
Worried if it would only hurt the loved one
Why Lord, why?
Love can grow, but the need doesn't follow?
Would it be love, without the need?
Take care, take care of him, I’m worried.
If today is really the furthest we can go, Lord, I have prayed
For there'll be someone who’s needing him as much as being needed.
Lord, save him.
Blame me.
(with an apology conveyed to Sir Andrew Lloyd Webber, for using the lyric of The Heart Is Slow To Learn to represent my feeling)
Posted at 11:59 pm by baskinrobbins
Permalink
Nov 19, 2004
Kemarin gue sms-smsan dengan Iwan yang sedang mudik ke asal muasalnya di Malang sono. Entah bagaimana awalnya, oh ya, kalau gak salah dia nanya apakah si koko udah sowan ke rumah mertua di Bogor. Gue jawab, belum tuh, karena kayaknya dia masih malu untuk ketemu keluarga Bogor, apalagi suasananya masih suasana Lebaran yang kental banget warna ‘family event’-nya. Tau-tau dia yang, out of the blue, kasi informasi ala infotainment gitu, masih lewat sms tentunya: “Mak, adik kakak ipar ik cerai karena lakinya bisex. I knew it dari awal ketemu. Cuman info bisexnya koq jadi konsumsi umum. Cucian ye…” to which I responded: “Koq bisa? Jangan-jangan mulut balon je yang beraksi. Atau dia kepergok sedang berhubungan kelamin dengan loe?”
Well, demikianlah memang halnya. Terkadang dalam konteks becanda-becandaan , gue and temen-temen gue sering menggunakan terminologi yang paling baku (paling ‘halus’) sebagai alternatif terminologi yang paling kuassar untuk menyebutkan jenis-jenis aktivitas seksual. Never use what’s in between alias yang ga terlalu kasar dan terlalu halus (is there..? Heuheuheu…). Look at these: perkelaminan, persetubuhan, bersebadan, and semacamnya, in contrast with …… well, you know J
Entah kenapa sebetulnya gue and temen-temen suka menggunakan kata-kata ‘resmi’ tersebut. Mungkinkah justru karena kata-kata tersebut lebih ‘menggambarkan’ dan memberi ‘rasa’?. For instance: persebadanan… Bukankah kata itu lebih memberikan rasa yang …duh…. Sutra lah mak.
Talking about kata-kata yang memberikan rasa yang ‘pas’ atau malah ‘lebih’, have you guys heard about Kesusastraan Melayu Tionghoa? Istilah Kesusatraan Melayu Tionghoa mulai diangkat ke permukaan pertama kali oleh Claudine Salmon, kalau nggak salah, yang mana istilah ini merujuk kepada karya-karya sastra dalam bahasa Melayu yang ditulis oleh penulis Tionghoa di Indonesia. Dengan ‘Melayu’ tersebut, termasuk juga didalamnya karya-karya sastra yang ditulis dalam Bahasa Indonesia setelah zaman kemerdekaan; dan dengan ‘Indonesia’ tersebut tentunya juga termasuk Hindia Belanda dalam kurun waktu penjajahan di masa yang lampau.
Genre kesustraan Indonesia yang satu ini dapat dikatakan sebagai genre yang luput dari perhatian. Bahkan, secara resmi pun tidak digolongkan ke dalam salahsatu jenis sastra Indonesia. Memangnya kita pernah membaca istilah Kesustraan Melayu Tionghoa di pelajaran bahasa Indonesia waktu di SMP-SMA dulu? Atau paling tidak beberapa nama sastrawannya, misalnya Kwee Tek Hoay, tercatat di dalam buku pelajaran Kesusastraan Indonesia? Tentu nggak pernah lah. Bahkan kalau gue ga salah baca, bahasa yang dipakai oleh genre sastra ini dianggap sebagai bahasa Indonesia rendahan atau sering disebut dengan bahasa ‘Melayu pasar’ oleh beberapa ahli bahasa yang mungkin menganggap karya-karya sastra yang dihasilkan oleh kelompok Balai Pustaka sebagai rujukan sastra Indonesia yang memenuhi syarat.
Well, salahsatu bentuk tulisan dalam Kesusatraan Melayu Tionghoa yang gue paling akrabi adalah: saduran cerita-cerita silat Tiongkok ke dalam bahasa Melayu/Indonesia. No, no, I’m not talking about cerita silatnya Kho Ping Hoo. Kho Ping Hoo tidak menyadur, dia mengarang sendiri cerita-ceritanya. Besides, I don’t like his writing because of certain reasons. Yang gue maksud adalah karya-karya saduran yang ditulis oleh, misalnya, Oey Kim Tiang (sering disingkat dengan O.K.T, dan beliau punya nama alias juga: Boe Beng Tjoe), dan Gan K.L (Gan Kok Liang). Semuanya jaman dulu banget, jaman nyokap gue masih gadis, taun 50-60an gitu lah.
Nah, di dalam bentuk karya sastra inilah gue sering menemukan terminologi yang memberikan rasa yang ‘lebih’. Kebanyakan kata-kata ini adalah kata-kata yang sudah jarang sekali, atau mungkin tidak pernah, digunakan lagi di jaman kita sekarang ini baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. How many of you guys have often heard words like: menyampok, amprok, menggubat..?
Coba perhatikan deh beberapa petilan berikut ini: “Si Nenek menggape sehingga Siangkoan Thian Ya pun merandek”; “Thian Hoa lantas maju memapaki serangannya Liem Sian In , sehingga pedangnya menyampok kim-kauw milik Sian In yang lantas membikin si nona terhuyung mundur. Menjublak Sian In, melihat akibat amproknya kedua senjata mereka itu, kim-kauw nya kena somplak di satu tempat.” ; Kim Kong Thaysoe lantas menggibriki jubah pertapaannya itu, dan seluruh jarumnya Seng Lam pun jatuh berguguran di tanah. Tak satupun jarumnya mampu melukai pendeta kosen itu.”
Kira-kira padanan dari petilan yang pertama jika menggunakan Bahasa Indonesia yang ‘normal’ adalah: “Si nenek melambaikan tangannya (menggapai) sehingga Siangkoan Thian Ya pun menghentikan langkahnya”. Petilan yang kedua: “Thian Hoa lantas maju menyambut serangannya Liem Sian In , sehingga pedangnya menangkis kim-kauw milik Sian In yang lantas membikin si nona terhuyung mundur. Melongo karena kaget Sian In, melihat akibat bertemunya kedua senjata mereka itu, kim-kauw nya kena tercungkil di satu tempat.” Petilan ketiga: “Kim Kong Thaysoe lantas menggoyang-goyangkan jubah pertapaannya itu, dan seluruh jarumnya Seng Lam pun jatuh berguguran di tanah. Tak satupun jarumnya mampu melukai pendeta yang tangguh dalam ilmu silat itu.”
Dan sekarang, coba bandingin. Kombinasi ‘menggape’ dengan ‘merandek’ menurut gue adalah kombinasi yang pas dan enak dirasa, dibandingkan dengan ‘melambaikan tangan’ dengan ‘menghentikan langkahnya’. Gara-gara si nenek menggape-lah maka Siangkoan Thian Ya merandek, atau: si Nenek menggape untuk menyuruh Thian Ya menghentikan langkahnya. Dengan menggape, ada arti lebih dari sekedar melambaikan melambaikan tangan dalam konteks ini. Jika menggunakan ‘melambaikan tangan’, maka seakan lambaian tangan tersebut bukanlah instruksi untuk Thian Ya agar berhenti berjalan. Emang sih bisa jadi lambaian tangan tersebut menyebabkan Thian Ya berhenti, tapi belum tentu secara langsung. Gitu juga jika digunakan kata ‘menggapai’, kombinasinya menjadi kurang mengena pula karena dalam ‘menggapai’ ada arti ingin meraih sesuatu.
Apa yang terlintas di benak kita jika membaca ‘maju memapaki serangan’ dibandingkan dengan ‘maju menyambut serangan’? Dengan ‘memapaki’, terbayang bahwa tangan dan kaki sudah digerakkan untuk menangkis serangan lawan, sedangkan dengan ‘menyambut’ tidak terasa adanya gerakan tangan dan kaki untuk menangkis, mungkin hanya bergerak maju untuk bersedia menghadapi serangan. Dan penggunaan ‘memapaki’ dalam konteks ini lebih tepat karena di kalimat selanjutnya digambarkan bahwa memang pedang sudah bergerak untuk ‘menyampok’ senjata lawan. Dengan ‘menyampok’, terasa ada gerakan menghantam dan mendorong senjata lawan dan tidak hanya menahan gerakan senjata lawan (yang terasa jika menggunakan kata ‘menangkis’). Akibat tersampok lah maka senjata lawan menjadi ‘somplak’, suatu kondisi dimana ada sedikit penyokan dan sedikit ‘luka’ tetapi tidak sampai koyak, dan tidak perlu ada bagian yang terpotong hingga lepas sebagaimnana digambarkan dengan kata ‘tercungkil’. Well, kalau dibayangkan, berbenturnya pedang dengan kim-kauw (senjata berbentuk kaitan berlapis emas) kalau hanya sekali-dua kali saja, sepertinya enggak sampai mengakibatkan ada bagian yang tercungkil lepas. Somplak saja sudah cukup.
Menjublak is melongo karena kaget, atau kira-kira seperti itulah. Dengan satu kata saja, menjublak, kita udah bisa menggambarkan kondisi dimana seseorang melogo karena kaget disebabkan oleh sesuatu yang enggak dia perkirakan sebelumnya. Amprok mengandung arti yang lebih dari sekedar bertemu. Ada unsur face-to-face dan kontak fisik dalam konteks ini, dan ada unsur mengeraskan/menegaskan arti juga.
While, to make it short, ‘menggoyang-goyangkan’ does not necessarily involve frekuensi getaran yang cukup tinggi untuk membuat jarum-jarum yang menusuk di jubah jatuh berguguran di tanah. Tetapi dengan kata ‘menggibriki’, kondisi yang dibutuhkan sudah lengkap tergambar didalamnya. Bagaimana dengan ‘menggetarkan’? Boleh juga, tetapi ‘menggetarkan’ tidak serta merta mengandung tujuan ‘melepaskan sesuatu yang melekat’ walaupun memang kondisi jubah yang digibriki pastilah bergetar.
Pada saat membaca kata ‘kosen’, maka di dalamnya tidak hanya ada arti ‘tangguh dalam ilmu silat’ saja, melainkan ada unsur pengalaman dan senioritas didalamnya. That’s why kata ‘kosen’ di dalam novel-novel silat saduran tersebut tidak pernah dipakai untuk mengapresiasi seorang jago silat yang masih muda usianya, well at least, not that I know of. Dalam contoh ini, Kim Kong Thaysoe memang adalah seorang pendeta dari perguruan Khong Tong Pay yang sudah berusia lanjut, 70-an tahun, dan memiliki ilmu silat terutama lweekang (tenaga dalam; dalam versi Mandarin: nei gong, dibaca: nei kung) yang amat tinggi. Sedemikian tingginya sehingga dia bisa membuat aura di sekitar tubuhnya begitu tebal dan kebal sehingga serangan belasan jarum dari Le Seng Lam tidak bisa mengakibatkan apa-apa, bahkan tidak ada sebatang jarum pun yang bisa melukai badan pendeta itu. Whew….(inget gak sih di dalam film Hero-nya Zhang Yimou, ada penggambaran guru sekolah kaligrafi yang ketika sekolahnya dihujani ribuan panah, deze tenang-tenang aja melanjutkan karya kaligrafinya dan tidak ada sebatang panah pun yang bisa mampir ke badannya. Ya kira-kira seperti itulah bow)
Tetapi beberapa hari yang lalu untuk pertama kalinya gue mendengar satu kata yang sering dipake di cerita-cerita silat saduran tersebut diucapkan oleh orang lain. Kata itu adalah: mendusin. Walaupun gue sering banget membaca kata ini di dalam novel-novel silat itu, gue belum pernah mendengarnya dipake orang seumur hidup gue. Yang mengucapkan kata itu adalah Mas Abdi Surya Abdi. Waktu itu dia ngajakin gue, si koko, and Mbak Ningtyas buka puasa bareng di Waroeng Podjok PS. Di meja sebelah ada pasangan suami-istri Tantowi Yahya dengan anak mereka yang sedang tertidur lelap di kursi, tidurnya enak sekali. Ketika sang ayah mengangkat si anak untuk menaruhnya di dalam kereta, si anak membuka matanya sejenak untruk melihat what was going on, and kemudian segera merem lagi. Ketika si koko bilang bahwa si anak terbangun, Mas Adi segera mengoreksi dengan bilang: “Itu namanya bukan bangun, tapi dia mendusin…” Mas Adi ngelanjutin dengan menjelaskan bahwa si anak hanya membuka mata untuk melihat apa yang terjadi dan memeriksa keadaan sekitar, untuk find out bahwa ‘Oh, gue dipindah ke kereta gue. Yo wis, gue tidur lagi aja’. Ya itulah namanya mendusin. Mendusin bisa berarti si orang lantas bener-bener bangun, bisa juga enggak. Apa ya padanannya ‘mendusin’ di Bahasa Inggris? Kalau Bahasa Mandarinnya gue rasa gue tau: xinglai (yang jago Bahasa Mandarin, mohon koreksi yak kalo gue salah).
Gue lupa untuk tanya Mas Adi, apakah dia termasuk penggemar novel silat jaman dulu juga....
Secara gue tumbuh besar dengan ditemani oleh, antara lain, novel-novel silat kuno milik nyokap and tante gue, tanpa gue sadari kadang-kadang kata-kata itu terserap ke dalam khazanah perbendaharaan kata-kata Bahasa Indonesia dalam benak gue dan sesekali keluar juga dari mulut gue.
Dalam satu kesempatan pengajian di rumah gue (dulu, waktu di rumah gue di Bogor masih rutin seminggu sekali diadain pengajian oleh Ustadz Najmuddin; An-najm = bintang, Ad-din = agama, so Najmuddin stands for ‘bintangnya agama’, atau kira-kira begitulah), dalam pembahasan hal Zakat, Ustadz Najmuddin sedang menjelaskan tentang nisab alias suatu treshold dimana jika penghasilan mencapai treshold tersebut, maka mulai berlaku keharusan mengeluarkan Zakat. Atau kira-kira seperti itulah. Being seorang banceh beribadah dan bibi titi teliti, maka gue pun ingin tau bagaimana halnya dengan gaji bulanan gue, apakah angka per bulanannya yang dibandingkan dengan nisab atau angka gaji gue selama setahun? Maka gue pun bertanya dengan khidmatnya kepada Pak Ustadz: “Berhubung penghasilan saya berupa gaji yang tetap setiap bulannya, bagaimana teknisnya pengeluaran Zakat saya, dan mana yang harus…amprok…dengan nisab, gaji bulanan atau gaji setahun?”
Yang ada kakak-kakak gue pada ketawa ngakak. Abis dah gue diketawain. Bokap nyokap and ipar-ipar gue juga ketawa, cuman lebih moderat aja. Pak Ustadz sih senyum-senyum aja although gue tau deze juga pingin ketawa. Kakak gue yang paling gede pun langsung nyela’ “Dasar emang Cina bener luh”, padahal yang tampangnya paling kayak cinere diantara empat bersaudara ya deze itu. Ya gimana lagi mak...
Mungkin penggunaan kata-kata yang udah hampir hilang tersebut perlu digalakkan (pake istilah ala Orde Baru) lagi yak. Selain karena kata-kata itu memiliki rasa yang enak dan perlu, juga supaya gue kaga usah diketawain lagi oleh orang lain kalo sekali-sekali gue pake kata-kata itu.
Posted at 05:01 pm by baskinrobbins
Permalink
Oct 15, 2004
Refleksi Puasa, dari seorang yang bukan orang saleh
Saya adalah Muslim yang awam soal agama, termasuk agama saya sendiri. Dalam upaya memahami hal-hal yang berkaitan dengan agama, sering saya hanya berupaya menggunakan common sense dan sedikit - menurut istilah bekennya, mungkin- pendekatan kemanusiaan. Pendekatan kemanusiaan saya percayai merupakan suatu metodologi yang sifatnya universal, melewati batas2 agama, etnik , usia, kebangsaan dsb. Oleh karena itu, saya yakin bahwa dalam setiap agama pasti ada ruh kemanusiaan, meskipun mungkin dengan manifestasi dan aksentuasi yg bervariasi. Menurut pemahaman saya, pendekatan kemanusiaan sendiri pada hakekatnya merupakan suatu usaha pemahaman atau pengenalan atas diri kita sendiri sebagai manusia, untuk kemudian diimplementasikan dalam rangka pemahaman/pengenalan diri manusia lain. Salah satu ungkapan sehari-hari yg bisa menggambarkannya secara sederhana misalnya adalah : "kalau tidak mau dicubit, jangan mencubit orang lain"; variasi lainnya mungkin : "sesekali tempatkanlah diri kamu pada posisi orang lain (try to be in somebody else's shoes)".
Mengenai masalah menghormati bulan puasa, tentu saya memahami bahwa akan ada banyak sekali konsep dan pendapat yg bervariasi. Saya cuma ingin mengutarakan hal-hal yg sejak lama sekali mengusik pikiran saya sebagai seorang muslim. I don't think I'm a good moslem, that's for sure; tapi saya kira 'poor' moslem seperti saya pun memiliki hak untuk mengutarakan pemikiranya berkaitan dgn. agamanya, dan hal tsb. sesungguhnya bukan privillege saudara2 saya yg kebetulan lebih saleh dan 'alim saja.
Menghormati bulan puasa. Sebetulnya sudah adakah yg pernah merumuskan pengertiannya, dengan berdasarkan dalil-dalil agama yang kuat dan diterima pula secara aklamasi? Tidakkah kita pernah mencoba merenungkan, bahwa mungkin jargon “menghormati bulan puasa dan orang yang berpuasa” sebetulnya cuma refleksi salahsatu sisi naluri kita yg membutuhkan penghormatan, yg kadang sering tidak terkendali? Sekedar untuk contoh: beberapa waktu lalu di Detik.com diberitakan bahwa kelompok FPI akan melakukan sweeping ke tempat-tempat hiburan di Jakarta dalam bulan Puasa ini (bukan berita baru sebenarnya, bukankah tiap tahun mereka melakukan hal yang sama?). Menurut Panglima FPI, mereka juga sudah membagikan stiker yang bertuliskan ‘Hei Bung, ini bulan Ramadhan, hargai orang yang berpuasa, jangan merokok, makan dan minum di pinggir jalan’, bahkan mereka berencana akan menindak orang yang tidak menghargai bulan Puasa tersebut (by the way, punya kewenangan apa mereka untuk menindak?). Dan yang lebih menyedihkan saya, beberapa hari kemudian ramai diberitakan di televisi tentang keributan yang ditimbulkan oleh gerombolan ini. Betapa hancur hati saya melihat nama Tuhan diteriakkan sambil menghancurkan hak-milik orang lain dan memukuli orang lain sampai berdarah-darah. Betapa hal tersebut mmebuat saya berpikir: "Siapa sebetulnya yang merendahkan dan menodai bulan Ramadhan ini, para pemilik klub kah, atau mereka2 itu?". Setelah puas membuat kerusakan di muka bumi seperti itu, mereka lalu berlalu sambil membacakan shalawat Nabi dengan gaya seolah2 mereka baru saja memenangkan sebuah peperangan. Ya Tuhan, bagaimana bisa mereka menyebut nama Nabi setelah mereka melakukan perbuatan menjijikkan yang mungkin akan membuat para Nabi menangis (atau mungkin malah marah besar?).
Menghormati bulan puasa. Dengan alasan tsb., Pemda mengeluarkan maklumat berisi himbauan/seruan agar tempat-tempat hiburan tutup selama bulan puasa. Terlepas dari pembicaraan unsur politik di balik aturan tsb. (yg saya segan menyinggungnya) dan kenyataan bahwa di negara tercinta ini agama masih sering dijadikan "barang" usungan untuk "dijajakan" layaknya komoditi, saya lebih memilih untuk melihat kepada diri-diri orang yg berpuasa secara individu. Apa sih sebetulnya puasa itu? Tentu saja sudah ada ribuan penjelasan dari para ahli agama di dalam dan diluar Ramadhan yg dapat kita jadikan referensi untuk menjawab pertanyaan tsb. Saya hanya ingin melihat secara sederhana saja: sepertinya dengan Puasa tersebut kita disuruh belajar dan berlatih menahan godaan, baik dari dalam maupun luar diri kita, dalam rangka berusaha mencapai derajat "kesucian" diri yg lebih baik. Dengan demikian, ada dua poin utama yg saya bisa identifikasi: melatih diri menahan godaan, dan kesucian diri. Agak lucu menurut saya pribadi, jika pada saat orang berlatih tinju maka sansak dan sparring partnernya disimpan dan tidak boleh keluar. Mau berlatih bulutangkis, tidak boleh dengan sparring partner, bahkan tidak boleh ada pelatih, cukup seorang diri ber"shadow badminton" sepanjang hayat. Itu baru bicara berlatih, bagaimana kalau bicara soal bertanding? Bertanding tidak menghadapi siapa2? Kalau ingin melihat seseorang mampu-atau-tidak mengendalikan kuda, mosok iya diberikan kuda yang sudah anteng dari 'sono'nya.
Bicara agak hypothetical, saudara2 kita yg kebetulan memang senang/sering mendatangi tempat "maksiat" dengan tujuan untuk melakukan maksiat, apakah dengan datangnya bulan Puasa dan ditutupnya tempat2 tersebut lantas dia akan tinggal di rumah dan tidak mengerjakan apa-apa? Apakah kita yakin bahwa perbuatan maksiat memang memerlukan tempat khusus untuk melakukannya, dimana orang harus pergi keluar rumah untuk mencapainya, membayar sejumlah uang untuk dapat masuk dst..? Sebetulnya apa yang mau kita kendalikan, apa yang mau kita hapuskan, dengan menutup tempat-tempat tsb. di bulan Ramadhan. Orang-orang yang mendatangi tempat2 seperti itu dan bersukaria di dalamnya di bulan Puasa, mungkin sekali bukanlah orang-orang yang melakukan puasa Ramadahan. Dengan menutup, atau dengan membakar/menghancurkan tempat2 tersebut sekalipun, apakah serta merta mereka akan menjadi orang-orang yg berpuasa? Belum lagi bicara soal penghidupan orang-orang kecil yang bekerja di tempat-tempat itu. Banyak di antara mereka adalah bagian dari umat Islam juga. Terlepas dari apakah mereka berpuasa atau tidak (yang mana hakikatnya merupakan urusan seorang hamba dengan Tuhannya), mereka pun ingin merasakan ber-Lebaran, dan itu memerlukan biaya. Yang lebih asasi dari itu: mereka butuh dan berhak atas penghidupan!
Kesucian suatu bulan. Tak perduli bagaimanapun tingkah polah manusia di atas muka bumi ini dalam bulan Ramadhan, tetap saja kalau Tuhan sudah mendeklarasikan bahwa bulan ini adalah bulan yg suci dan penuh kemuliaan, ya it will stays like that... Bicara mengenai kesucian diri, buat saya pribadi, kesucian bukan sesuatu yg bisa ditegakkan, apalagi jika yg mau ditegakkan adalah kesucian orang/hal lain selain diri kita. Bagaimana kita sanggup untuk menegakkan kesucian orang lain atau kesucian bulan Ramadhan...? Kesucian adanya di dalam hati nurani, yang terpancar dalam perkataan, perbuatan dan karakter. Saya sering merasa bingung sendiri: apakah perlu membuat terlalu banyak perubahan yg dipaksakan dalam bulan puasa ini. Kalau boleh saya berpendapat: biarkanlah perubahan datang/muncul dari dalam hati individu-individu yg berpuasa dengan benar.
Saya pribadi sering merasa geli jika melihat jendela-jendela rumah makan ditutupi kain pada bulan puasa. Rasanya koq orang-orang yg sudah niat berpuasa itu sebegitu lemah daya tahan mentalnya, sampai melihat orang makan pun tidak boleh; kasihan, nanti jadi kepingin ikut makan, ikut masuk rumah makan dan terus makan...batal deh puasanya. Tidak semua orang kuat niat puasanya? Betul, tetapi kalau sesorang memang sudah ingin membatalkan puasanya, helai kain yg membentang di jendela rumah makan tidak akan menyurutkan langkahnya. Tidak berbuka di rumah makan pun, dia akan membatalkan puasanya di rumahnya sendiri. Bentangan kain tersebut agaknya hanya sekedar menjadi penghias dan pemuas bagi mata sebagian kita yang merasa bahwa di bulan Puasa, orang kalau makan harus sembunyi-sembunyi dan tidak boleh terlihat oleh orang lain yg sedang berpuasa.
Di masjid dekat rumah orang tua saya di Bogor, pada setiap bulan puasa diadakan acara kuliah subuh setiap pagi. Dari pengeras suara yang suaranya memancar begitu keras ke seluruh penjuru kampung (...dan harus ditelan mentah-mentah oleh telinga setiap orang, baik muslim ataupun tidak, sedang istirahat ataupun tidak, berpuasa ataupun tidak, ingin mendengarkan atau tidak), seringkali saya mendengar ada penceramah yang mengecam pemilik rumah makan/warung makan muslim yang tetap bekerja membuka tempat usahanya di bulan Puasa. Saya tidak ingat betul apa yg dikatakannya, tapi kalau tidak salah bisa disimpulkan bahwa orang yg tetap membuka tempat usahanya tsb. menjadi kurang baik kualitasnya sebagai Muslim. Dan tentunya selalu akan ada bumbu penyedap: tidak menghormati bulan puasa dan tidak menghormati orang yg berpuasa. Yang benar menurutnya adalah, samasekali tutup di sang hari, kalau mau buka ya setelah waktu berbuka puasa. Saya jadi berfikir: Benarkah demikian yang Tuhan kehendaki? Bahwa orang harus menghentikan mata pencahariannya pada saat berpuasa? Seakan2 orang menjadi sedemikian rakusnya jika tetap berjualan di siang hari; dan kerelaan untuk tetap melayani pembeli non-muslim (yg notabene tidak berpuasa) adalah demi untuk tetap memperoleh uang karena tamak. Padahal yang perlu membeli makan di siang hari bukan hanya orang-orang yg tidak berpuasa karena alasan iman, tetapi juga perempuan2 Muslim yang sedang berhalangan, hamil atau menyusui, orang-orang Muslim yang telah tua, dan orang-orang Muslim yang sakit. Pedagang makanan di lokasi pasar, misalnya, pembelinya adalah orang yg beraktivitas di pasar pada siang hari; kalau dia harus berhenti berjualan di siang hari dan menggantinya dengan berjualan di malam hari, siapakah yg hendak membeli masakannya di lokasi pasar di malam hari?
Saya seringkali merasa kasihan dan tidak-enak-hati, terhadap saudara2 saya yang tidak harus berpuasa, baik yg muslim ataupun bukan. Kita yang berpuasa, tapi kenapa mereka yang harus repot juga? Tidakkah kita pernah mencoba mendudukkan diri kita pada posisi mereka...
Begitu banyak orang lain yg tidak harus berpuasa, mengapa mereka juga harus berubah pola hidupnya hanya karena kita berpuasa. Puasa adalah menghadapi tantangan dan godaan, kenapa mesti lari dari itu semua dengan cara memberlakukan segala macam ketentuan/kebiasaan yang mengganggu irama kehidupan orang lain..? Saya seorang muslim, tetapi dengan ikhlas saya ingin menyerukan : "hormatilah orang yang berpuasa dan hormatilah orang yang tidak berpuasa"
Gejala mentalitas "anak bongsor" sebagaimana pernah disebut-sebut oleh Prof. Sarlito W. Sarwono memang suatu hal yang menyedihkan, agak mengerikan, dan sulit bagi kita untuk menerima bahwa mentalitas seperti itu ada ada diri kita. Tapi saya juga berfikir: nampaknya baik bagi kita apabila kita mau mencoba merenungkan, dengan jujur bertanya kepada diri sendiri apakah mentalitas tersebut memang ada dalam diri umat Islam Indonesia (yang saya sendiri adalah bagian darinya). Terlepas dari sulitnya menerima "tuduhan" tersebut, amat sulit bagi saya untuk menyangkal bahwa tanda-tanda yang ada di depan mata memang menunjukkan bahwa diagnosa mentalitas "anak bongsor" tersebut benar adanya. Jika memang mentalitas itu ada pada diri kita, betapa jauh kita dari perintah Tuhan: "Panggilah mereka ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan, dan dengan perilaku yang baik, dan bertukar pendapat lah dengan mereka dengan cara yang baik pula" (mohon teman2 yang lebih 'alim dan berilmu agama mengoreksi bila saya salah, supaya saya tidak salah mengutip ayat...). Jangankan bisa memanggil orang lain ke jalan Tuhan, melihat kita pun orang sudah sebal....Karena kita memanggil tanpa menggunakan kebijaksanaan, hanya berseru-seru tanpa memperlihatkan kenyataan/contoh yg baik, dan tidak menggunakan cara-cara yang baik dalam berdialog/berinteraksi dengan orang lain yang berbeda dengan kita. Betul bahwa hidayah (petunjuk ke arah kebenaran) adalah urusan Allah, dan kita tidak bisa mengendalikan, memberikan atau mengatur hidayah. Tapi jika kita merasa bahwa dengan demikian boleh saja kita memanggil orang lain ke jalan Tuhan dengan cara sesuka hati dan menuruti keinginan kita (yg sulit terlepas dari hawa nafsu), dengan alasan : "urusan orang lain akan terpanggil atau tidak, itu mah urusan Tuhan", maka apa perlunya Tuhan mengajarkan kepada kita cara memanggil yg baik?
Saya jadi ingin bercerita lagi mengenai masjid di dekat rumah orangtua saya tsb. Seingat saya, bukan hanya sekali saya mendengar ceramah melalui corong pengeras suara (yg suaranya membahana ke seluruh kampung itu...) dimana sang penceramah menjelaskan pandangannya terhadap ajaran agama lain dengan cara yang bisa membuat pemeluk agama lain sakit hati. Dengan gambaran lisan, diperagakannya cara sembahyang pemeluk agama lain sebatas yg dia ketahui (dan mendengar bahasannya tsb., nampaknya apa yg diketahui memang terbatas sekali) dengan nada melecehkan. Menganai kesan "melecehkan" tsb, mungkin ini hanya interpretasi saya yg berlebihan, tapi somehow saya yakin orang lain pun akan punya interpretasi yg tidak jauh dari itu. Selain itu juga dibahas olehnya hal-hal yg menurutnya merupakan kekurangan dalam ajaran agama lain. Dan semua itu berlangsung dengan dipancarkan melalui pengeras suara yg demikian keras. Seakan-akan semua telinga yang bisa mendengar hanyalah telinga orang Islam, dan telinga pemeluk agama lain tidak bisa mendengar. Padahal saya tahu betul disekitar masjid tinggal cukup banyak warga yg bukan muslim, belum lagi di seluruh kampung itu. Bayangkan jika kita bukan muslim dan harus mendengarkan semua itu, yang dipancarkan dari dalam sebuah masjid yg dimuliakan oleh umat Islam. Seperti itukah dakwah yg diinginkan? Seandainya isi ceramah tsb. memang hanya untuk konsumsi muslimin yang hadir di acara itu, maka alangkah baiknya jika kekuatan pengeras suaranya diatur dengan bijak.
"Sampaikanlah yang haq (benar), walaupun pahit" adalah ujaran benar adanya, tetapi tidaklah berarti kita tidak mesti bijak dalam hal cara penyampaiannya, dan bijak untuk menentukan siapa saja yg perlu mendengarnya.
Lantas kita sebagai umat yg merasa terbesar jumlahnya "memaksa" orang lain menghormati kita, dan manakala dari pihak lain terlihat ketidaksukaan terhadap kita, maka kita pun bereaksi seakan-akan mereka sudah menjadi musuh yg akan memerangi kita. Padahal pernahkah kita pikirkan, bahwa sebagian dari ketidaksukaan mereka itu mungkin disebabkan oleh ulah kita sendiri....
Hal-hal seperti diatas terjadi dimana-mana dalam bentuknya yg bermacam-macam. Di kota, di desa, di kampus....Karena jumlah yg besar, kita terdorong untuk merasa berhak untuk melakukan -almost- apa saja yang kita mau, dengan semangat (atau dalih?) : demi kejayaan agama. Sampai-sampai saya sering merasa heran, apakah yg kita pertuhankan sebenarnya : Tuhan sendirikah, atau agama? Atau kita merasa berhak melakukan itu karena merasa jumlah kita lah yang terbesar? (= mentalitas anak bongsor…)
Kalau saya ingin dihormati, maka sepantasnyalah saya menunjukkan bahwa saya memang pantas dihormati.
Semua ini hanyalah sekedar curahan hati untuk berbagi rasa, tidak ada maksud hati untuk berpolemik. Mohon maaf apabila ada kesalahan, dan apabila tulisan ini terlalu menyita waktu utk. membacanya.
Mudah-mudahan Tuhan mengampuni.
-Menghormati Bulan Puasa
Sarlito W Sarwono
Menjelang bulan puasa, seperti biasa, para tokoh mulai mengimbau agar
seluruh masyarakat menghormati umat yang berpuasa dengan cara menutup semua
tempat hiburan yang berbau maksiat (walaupun di lapangan sulit untuk
membedakan antara kafe atau hotel yang maksiat dan yang bukan) dan menutup
restoran-restoran serta warung-warung di siang hari. Maka pemerintah daerah
dan polisi pun mengeluarkan berbagai peraturan yang membatasi
pengoperasian tempat-tempat hiburan tersebut.
Kalau ada yang membandel juga, pasukan jihad siap men-sweeping dan
menghancurkan semua yang berbau maksiat itu. Tidak peduli apakah ribuan
karyawan dan karyawati (yang kebanyakan muslim juga) bisa berlebaran atau
tidak (carilah pekerjaan yang halal, kata mereka). Tidak terpikir bahwa
para boss pemilik tempat hiburan sedang santai di Bali (atau di Singapura)
setelah menutup usahanya, sementara para pekerja seks melanjutkan
prakteknya di hotel-hotel (termasuk yang berbintang lima) atau di tempat
kos masing-masing.
Dengan perkataan lain, penulis jadi bertanya pada diri sendiri, apakah
praktek minta dihormati dengan cara itu mencapai sasaran? Yang jelas,
puluhan bulan Ramadhan sejak kita merdeka, tidak mengurangi maksiat
(bahkan makin menjadi-jadi, sementara KKN Indonesia menduduki peringkat
ke-3 dunia), sedangkan partai-partai politik Islam (jika semuanya
disatukan sekaligus) tidak pernah meraih lebih dari 10-11 persen suara
sejak Pemilu 1955 sampai 1999. Jauh di bawah gabungan suara PDI-P dan
Golkar (1999), atau Golkar sendirian (zaman Orde Baru), atau gabungan PNI
dan PKI (zaman Orde Lama). Padahal 90 persen dari 210 juta penduduk
Indonesia beragama Islam.
Tak Minta Dihormati
Penulis memang bukan kiai atau pakar agama Islam, tetapi ajaran Islam yang
penulis percayai adalah bahwa Islam bukanlah agama yang mengajarkan gila
hormat. Umat Islam justru disuruh menghormati orang lain: menghormati
orangtua, menghormati guru, teman, orang yang berprestasi, tetangga, orang
miskin - pokoknya semua. Bahkan juga yang berbeda agama (non-Islam) atau
sesama muslim yang berbeda versi. Islam mengajarkan: lakum dinukum
waliyadin (untukmu agamamu, untukku agamaku).
Hanya dengan menghormati orang lain, maka orang lain juga akan menghormati
kita. Hanya dengan menghargai orang lain, maka orang lain akan menghargai
kita. Dengan demikian, akan terjadi suasana yang saling menghormati dan
saling menghargai. Islam bukan agama yang sombong atau menyuruh umatnya
untuk menyombongkan diri dengan menyuruh orang lain menghormatinya.
Di sisi lain, Islam juga tidak membiarkan kemungkaran. Amar ma'ruf nahi
munkar (dekati kebaikan, jauhi ketidakbaikan). Demikian selalu didengungkan
di setiap telinga muslim. Tetapi, bagaimana caranya? Islam mengajarkan
setiap orang untuk memperkaya diri sendiri melalui jalan yang halal karena
dengan menjadi kaya, seorang muslim akan mampu menciptakan lapangan kerja
untuk orang lain dan membantu menghidupi sekian banyak jiwa dari keluarga
para karyawan yang bekerja untuk dirinya.
Setidak-tidaknya, orang yang mampu, Insya Allah, tidak akan terpaksa atau
terdesak untuk melakukan kejahatan, bahkan akan bisa memberi sedekah untuk
yang tidak mampu. Alangkah indahnya Indonesia ini jika banyak muslim kaya
yang mempunyai banyak pabrik atau perusahaan, baik dengan modal sendiri
maupun bekerja sama dengan investor asing, sehingga tidak perlu lagi ada
muslim yang harus bekerja di tempat-tempat maksiat.
Kalau bisa memilih antara bekerja di panti wreda atau panti asuhan dengan
gaji Rp 1,5 juta sebulan dengan bekerja di panti pijat dengan gaji yang
sama, orang tentu akan memilih yang pertama. Masalahnya adalah bahwa
penghasilan di panti pijat dalam kenyataannya bisa 10 kali lipat dari di
aneka panti yang lain. Islam menjawab masalah ini dengan meningkatkan
peluang dan menciptakan kesempatan yang lebih baik di tempat lain, bukan
hanya dengan merusaki sumber kehidupan yang sudah ada.
Hanya untuk yang Beriman
Ayat Al Quran tentang puasa (QS.2:183) termasuk salah satu ayat yang unik
karena Allah mengawali ayat itu dengan kata-kata, "Hai orang-orang yang
beriman....'' Dengan demikian, pada hakikatnya, Allah hanya menyuruh
orang-orang yang beriman saja untuk berpuasa, yaitu orang-orang yang
berpuasa karena Allah semata (lillahi ta'ala), bukan karena mengharapkan
pahala, apalagi mau show.
Orang beriman akan tetap berpuasa walaupun ia minoritas di tengah mayoritas
yang tidak berpuasa (misalnya: muslim yang sedang studi di negara lain) dan
jelas orang beriman ketika ia sedang menjadi mayoritas (seperti muslim di
Jakarta) tak akan menyuruh orang lain (termasuk yang nonmuslim) yang
minoritas untuk ikut berpuasa bersama dia (berpuasa mak- siat, bahkan
berpuasa makan-minum di depan umum).
Buat muslim, apalagi yang sungguh-sungguh beriman, maksiat tidak akan
singgah di hatinya, apalagi sampai melakukannya. Tetapi, ia pun tidak
mengingkari bahwa banyak orang lain yang masih melakukan hal-hal maksiat
itu karena memang mereka bukan muslim atau imannya belum cukup kuat. Allah
memang tidak menyuruh orang-orang seperti ini untuk berpuasa dan karenanya
kita tidak perlu repot-repot mengatur mereka.
Karena itulah orang Malaysia membuka pusat perjudian di Genting Island
(khusus untuk nonmuslim) dan membiarkannya tetap buka sekalipun dalam bulan
puasa. Tidak ada hujatan pada pemerintah, tidak ada sweeping, tidak ada<
Posted at 02:53 pm by baskinrobbins
Permalink
|
|
|