Kemarin gue sms-smsan dengan Iwan yang sedang mudik ke asal muasalnya di Malang sono. Entah bagaimana awalnya, oh ya, kalau gak salah dia nanya apakah si koko udah sowan ke rumah mertua di Bogor. Gue jawab, belum tuh, karena kayaknya dia masih malu untuk ketemu keluarga Bogor, apalagi suasananya masih suasana Lebaran yang kental banget warna ‘family event’-nya. Tau-tau dia yang, out of the blue, kasi informasi ala infotainment gitu, masih lewat sms tentunya: “Mak, adik kakak ipar ik cerai karena lakinya bisex. I knew it dari awal ketemu. Cuman info bisexnya koq jadi konsumsi umum. Cucian ye…” to which I responded: “Koq bisa? Jangan-jangan mulut balon je yang beraksi. Atau dia kepergok sedang berhubungan kelamin dengan loe?”
Well, demikianlah memang halnya. Terkadang dalam konteks becanda-becandaan , gue and temen-temen gue sering menggunakan terminologi yang paling baku (paling ‘halus’) sebagai alternatif terminologi yang paling kuassar untuk menyebutkan jenis-jenis aktivitas seksual. Never use what’s in between alias yang ga terlalu kasar dan terlalu halus (is there..? Heuheuheu…). Look at these: perkelaminan, persetubuhan, bersebadan, and semacamnya, in contrast with …… well, you know J
Entah kenapa sebetulnya gue and temen-temen suka menggunakan kata-kata ‘resmi’ tersebut. Mungkinkah justru karena kata-kata tersebut lebih ‘menggambarkan’ dan memberi ‘rasa’?. For instance: persebadanan… Bukankah kata itu lebih memberikan rasa yang …duh…. Sutra lah mak.
Talking about kata-kata yang memberikan rasa yang ‘pas’ atau malah ‘lebih’, have you guys heard about Kesusastraan Melayu Tionghoa? Istilah Kesusatraan Melayu Tionghoa mulai diangkat ke permukaan pertama kali oleh Claudine Salmon, kalau nggak salah, yang mana istilah ini merujuk kepada karya-karya sastra dalam bahasa Melayu yang ditulis oleh penulis Tionghoa di Indonesia. Dengan ‘Melayu’ tersebut, termasuk juga didalamnya karya-karya sastra yang ditulis dalam Bahasa Indonesia setelah zaman kemerdekaan; dan dengan ‘Indonesia’ tersebut tentunya juga termasuk Hindia Belanda dalam kurun waktu penjajahan di masa yang lampau.
Genre kesustraan Indonesia yang satu ini dapat dikatakan sebagai genre yang luput dari perhatian. Bahkan, secara resmi pun tidak digolongkan ke dalam salahsatu jenis sastra Indonesia. Memangnya kita pernah membaca istilah Kesustraan Melayu Tionghoa di pelajaran bahasa Indonesia waktu di SMP-SMA dulu? Atau paling tidak beberapa nama sastrawannya, misalnya Kwee Tek Hoay, tercatat di dalam buku pelajaran Kesusastraan Indonesia? Tentu nggak pernah lah. Bahkan kalau gue ga salah baca, bahasa yang dipakai oleh genre sastra ini dianggap sebagai bahasa Indonesia rendahan atau sering disebut dengan bahasa ‘Melayu pasar’ oleh beberapa ahli bahasa yang mungkin menganggap karya-karya sastra yang dihasilkan oleh kelompok Balai Pustaka sebagai rujukan sastra Indonesia yang memenuhi syarat.
Well, salahsatu bentuk tulisan dalam Kesusatraan Melayu Tionghoa yang gue paling akrabi adalah: saduran cerita-cerita silat Tiongkok ke dalam bahasa Melayu/Indonesia. No, no, I’m not talking about cerita silatnya Kho Ping Hoo. Kho Ping Hoo tidak menyadur, dia mengarang sendiri cerita-ceritanya. Besides, I don’t like his writing because of certain reasons. Yang gue maksud adalah karya-karya saduran yang ditulis oleh, misalnya, Oey Kim Tiang (sering disingkat dengan O.K.T, dan beliau punya nama alias juga: Boe Beng Tjoe), dan Gan K.L (Gan Kok Liang). Semuanya jaman dulu banget, jaman nyokap gue masih gadis, taun 50-60an gitu lah.
Nah, di dalam bentuk karya sastra inilah gue sering menemukan terminologi yang memberikan rasa yang ‘lebih’. Kebanyakan kata-kata ini adalah kata-kata yang sudah jarang sekali, atau mungkin tidak pernah, digunakan lagi di jaman kita sekarang ini baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. How many of you guys have often heard words like: menyampok, amprok, menggubat..?
Coba perhatikan deh beberapa petilan berikut ini: “Si Nenek menggape sehingga Siangkoan Thian Ya pun merandek”; “Thian Hoa lantas maju memapaki serangannya Liem Sian In , sehingga pedangnya menyampok kim-kauw milik Sian In yang lantas membikin si nona terhuyung mundur. Menjublak Sian In, melihat akibat amproknya kedua senjata mereka itu, kim-kauw nya kena somplak di satu tempat.” ; Kim Kong Thaysoe lantas menggibriki jubah pertapaannya itu, dan seluruh jarumnya Seng Lam pun jatuh berguguran di tanah. Tak satupun jarumnya mampu melukai pendeta kosen itu.”
Kira-kira padanan dari petilan yang pertama jika menggunakan Bahasa Indonesia yang ‘normal’ adalah: “Si nenek melambaikan tangannya (menggapai) sehingga Siangkoan Thian Ya pun menghentikan langkahnya”. Petilan yang kedua: “Thian Hoa lantas maju menyambut serangannya Liem Sian In , sehingga pedangnya menangkis kim-kauw milik Sian In yang lantas membikin si nona terhuyung mundur. Melongo karena kaget Sian In, melihat akibat bertemunya kedua senjata mereka itu, kim-kauw nya kena tercungkil di satu tempat.” Petilan ketiga: “Kim Kong Thaysoe lantas menggoyang-goyangkan jubah pertapaannya itu, dan seluruh jarumnya Seng Lam pun jatuh berguguran di tanah. Tak satupun jarumnya mampu melukai pendeta yang tangguh dalam ilmu silat itu.”
Dan sekarang, coba bandingin. Kombinasi ‘menggape’ dengan ‘merandek’ menurut gue adalah kombinasi yang pas dan enak dirasa, dibandingkan dengan ‘melambaikan tangan’ dengan ‘menghentikan langkahnya’. Gara-gara si nenek menggape-lah maka Siangkoan Thian Ya merandek, atau: si Nenek menggape untuk menyuruh Thian Ya menghentikan langkahnya. Dengan menggape, ada arti lebih dari sekedar melambaikan melambaikan tangan dalam konteks ini. Jika menggunakan ‘melambaikan tangan’, maka seakan lambaian tangan tersebut bukanlah instruksi untuk Thian Ya agar berhenti berjalan. Emang sih bisa jadi lambaian tangan tersebut menyebabkan Thian Ya berhenti, tapi belum tentu secara langsung. Gitu juga jika digunakan kata ‘menggapai’, kombinasinya menjadi kurang mengena pula karena dalam ‘menggapai’ ada arti ingin meraih sesuatu.
Apa yang terlintas di benak kita jika membaca ‘maju memapaki serangan’ dibandingkan dengan ‘maju menyambut serangan’? Dengan ‘memapaki’, terbayang bahwa tangan dan kaki sudah digerakkan untuk menangkis serangan lawan, sedangkan dengan ‘menyambut’ tidak terasa adanya gerakan tangan dan kaki untuk menangkis, mungkin hanya bergerak maju untuk bersedia menghadapi serangan. Dan penggunaan ‘memapaki’ dalam konteks ini lebih tepat karena di kalimat selanjutnya digambarkan bahwa memang pedang sudah bergerak untuk ‘menyampok’ senjata lawan. Dengan ‘menyampok’, terasa ada gerakan menghantam dan mendorong senjata lawan dan tidak hanya menahan gerakan senjata lawan (yang terasa jika menggunakan kata ‘menangkis’). Akibat tersampok lah maka senjata lawan menjadi ‘somplak’, suatu kondisi dimana ada sedikit penyokan dan sedikit ‘luka’ tetapi tidak sampai koyak, dan tidak perlu ada bagian yang terpotong hingga lepas sebagaimnana digambarkan dengan kata ‘tercungkil’. Well, kalau dibayangkan, berbenturnya pedang dengan kim-kauw (senjata berbentuk kaitan berlapis emas) kalau hanya sekali-dua kali saja, sepertinya enggak sampai mengakibatkan ada bagian yang tercungkil lepas. Somplak saja sudah cukup.
Menjublak is melongo karena kaget, atau kira-kira seperti itulah. Dengan satu kata saja, menjublak, kita udah bisa menggambarkan kondisi dimana seseorang melogo karena kaget disebabkan oleh sesuatu yang enggak dia perkirakan sebelumnya. Amprok mengandung arti yang lebih dari sekedar bertemu. Ada unsur face-to-face dan kontak fisik dalam konteks ini, dan ada unsur mengeraskan/menegaskan arti juga.
While, to make it short, ‘menggoyang-goyangkan’ does not necessarily involve frekuensi getaran yang cukup tinggi untuk membuat jarum-jarum yang menusuk di jubah jatuh berguguran di tanah. Tetapi dengan kata ‘menggibriki’, kondisi yang dibutuhkan sudah lengkap tergambar didalamnya. Bagaimana dengan ‘menggetarkan’? Boleh juga, tetapi ‘menggetarkan’ tidak serta merta mengandung tujuan ‘melepaskan sesuatu yang melekat’ walaupun memang kondisi jubah yang digibriki pastilah bergetar.
Pada saat membaca kata ‘kosen’, maka di dalamnya tidak hanya ada arti ‘tangguh dalam ilmu silat’ saja, melainkan ada unsur pengalaman dan senioritas didalamnya. That’s why kata ‘kosen’ di dalam novel-novel silat saduran tersebut tidak pernah dipakai untuk mengapresiasi seorang jago silat yang masih muda usianya, well at least, not that I know of. Dalam contoh ini, Kim Kong Thaysoe memang adalah seorang pendeta dari perguruan Khong Tong Pay yang sudah berusia lanjut, 70-an tahun, dan memiliki ilmu silat terutama lweekang (tenaga dalam; dalam versi Mandarin: nei gong, dibaca: nei kung) yang amat tinggi. Sedemikian tingginya sehingga dia bisa membuat aura di sekitar tubuhnya begitu tebal dan kebal sehingga serangan belasan jarum dari Le Seng Lam tidak bisa mengakibatkan apa-apa, bahkan tidak ada sebatang jarum pun yang bisa melukai badan pendeta itu. Whew….(inget gak sih di dalam film Hero-nya Zhang Yimou, ada penggambaran guru sekolah kaligrafi yang ketika sekolahnya dihujani ribuan panah, deze tenang-tenang aja melanjutkan karya kaligrafinya dan tidak ada sebatang panah pun yang bisa mampir ke badannya. Ya kira-kira seperti itulah bow)
Tetapi beberapa hari yang lalu untuk pertama kalinya gue mendengar satu kata yang sering dipake di cerita-cerita silat saduran tersebut diucapkan oleh orang lain. Kata itu adalah: mendusin. Walaupun gue sering banget membaca kata ini di dalam novel-novel silat itu, gue belum pernah mendengarnya dipake orang seumur hidup gue. Yang mengucapkan kata itu adalah Mas Abdi Surya Abdi. Waktu itu dia ngajakin gue, si koko, and Mbak Ningtyas buka puasa bareng di Waroeng Podjok PS. Di meja sebelah ada pasangan suami-istri Tantowi Yahya dengan anak mereka yang sedang tertidur lelap di kursi, tidurnya enak sekali. Ketika sang ayah mengangkat si anak untuk menaruhnya di dalam kereta, si anak membuka matanya sejenak untruk melihat what was going on, and kemudian segera merem lagi. Ketika si koko bilang bahwa si anak terbangun, Mas Adi segera mengoreksi dengan bilang: “Itu namanya bukan bangun, tapi dia mendusin…” Mas Adi ngelanjutin dengan menjelaskan bahwa si anak hanya membuka mata untuk melihat apa yang terjadi dan memeriksa keadaan sekitar, untuk find out bahwa ‘Oh, gue dipindah ke kereta gue. Yo wis, gue tidur lagi aja’. Ya itulah namanya mendusin. Mendusin bisa berarti si orang lantas bener-bener bangun, bisa juga enggak. Apa ya padanannya ‘mendusin’ di Bahasa Inggris? Kalau Bahasa Mandarinnya gue rasa gue tau: xinglai (yang jago Bahasa Mandarin, mohon koreksi yak kalo gue salah).
Gue lupa untuk tanya Mas Adi, apakah dia termasuk penggemar novel silat jaman dulu juga....
Secara gue tumbuh besar dengan ditemani oleh, antara lain, novel-novel silat kuno milik nyokap and tante gue, tanpa gue sadari kadang-kadang kata-kata itu terserap ke dalam khazanah perbendaharaan kata-kata Bahasa Indonesia dalam benak gue dan sesekali keluar juga dari mulut gue.
Dalam satu kesempatan pengajian di rumah gue (dulu, waktu di rumah gue di Bogor masih rutin seminggu sekali diadain pengajian oleh Ustadz Najmuddin; An-najm = bintang, Ad-din = agama, so Najmuddin stands for ‘bintangnya agama’, atau kira-kira begitulah), dalam pembahasan hal Zakat, Ustadz Najmuddin sedang menjelaskan tentang nisab alias suatu treshold dimana jika penghasilan mencapai treshold tersebut, maka mulai berlaku keharusan mengeluarkan Zakat. Atau kira-kira seperti itulah. Being seorang banceh beribadah dan bibi titi teliti, maka gue pun ingin tau bagaimana halnya dengan gaji bulanan gue, apakah angka per bulanannya yang dibandingkan dengan nisab atau angka gaji gue selama setahun? Maka gue pun bertanya dengan khidmatnya kepada Pak Ustadz: “Berhubung penghasilan saya berupa gaji yang tetap setiap bulannya, bagaimana teknisnya pengeluaran Zakat saya, dan mana yang harus…amprok…dengan nisab, gaji bulanan atau gaji setahun?”
Yang ada kakak-kakak gue pada ketawa ngakak. Abis dah gue diketawain. Bokap nyokap and ipar-ipar gue juga ketawa, cuman lebih moderat aja. Pak Ustadz sih senyum-senyum aja although gue tau deze juga pingin ketawa. Kakak gue yang paling gede pun langsung nyela’ “Dasar emang Cina bener luh”, padahal yang tampangnya paling kayak cinere diantara empat bersaudara ya deze itu. Ya gimana lagi mak...
Mungkin penggunaan kata-kata yang udah hampir hilang tersebut perlu digalakkan (pake istilah ala Orde Baru) lagi yak. Selain karena kata-kata itu memiliki rasa yang enak dan perlu, juga supaya gue kaga usah diketawain lagi oleh orang lain kalo sekali-sekali gue pake kata-kata itu.