Saya adalah Muslim yang awam soal agama, termasuk agama saya sendiri. Dalam upaya memahami hal-hal yang berkaitan dengan agama, sering saya hanya berupaya menggunakan common sense dan sedikit - menurut istilah bekennya, mungkin- pendekatan kemanusiaan. Pendekatan kemanusiaan saya percayai merupakan suatu metodologi yang sifatnya universal, melewati batas2 agama, etnik , usia, kebangsaan dsb. Oleh karena itu, saya yakin bahwa dalam setiap agama pasti ada ruh kemanusiaan, meskipun mungkin dengan manifestasi dan aksentuasi yg bervariasi. Menurut pemahaman saya, pendekatan kemanusiaan sendiri pada hakekatnya merupakan suatu usaha pemahaman atau pengenalan atas diri kita sendiri sebagai manusia, untuk kemudian diimplementasikan dalam rangka pemahaman/pengenalan diri manusia lain. Salah satu ungkapan sehari-hari yg bisa menggambarkannya secara sederhana misalnya adalah : "kalau tidak mau dicubit, jangan mencubit orang lain"; variasi lainnya mungkin : "sesekali tempatkanlah diri kamu pada posisi orang lain (try to be in somebody else's shoes)".
Mengenai masalah menghormati bulan puasa, tentu saya memahami bahwa akan ada banyak sekali konsep dan pendapat yg bervariasi. Saya cuma ingin mengutarakan hal-hal yg sejak lama sekali mengusik pikiran saya sebagai seorang muslim. I don't think I'm a good moslem, that's for sure; tapi saya kira 'poor' moslem seperti saya pun memiliki hak untuk mengutarakan pemikiranya berkaitan dgn. agamanya, dan hal tsb. sesungguhnya bukan privillege saudara2 saya yg kebetulan lebih saleh dan 'alim saja.
Menghormati bulan puasa. Sebetulnya sudah adakah yg pernah merumuskan pengertiannya, dengan berdasarkan dalil-dalil agama yang kuat dan diterima pula secara aklamasi? Tidakkah kita pernah mencoba merenungkan, bahwa mungkin jargon “menghormati bulan puasa dan orang yang berpuasa” sebetulnya cuma refleksi salahsatu sisi naluri kita yg membutuhkan penghormatan, yg kadang sering tidak terkendali? Sekedar untuk contoh: beberapa waktu lalu di Detik.com diberitakan bahwa kelompok FPI akan melakukan sweeping ke tempat-tempat hiburan di Jakarta dalam bulan Puasa ini (bukan berita baru sebenarnya, bukankah tiap tahun mereka melakukan hal yang sama?). Menurut Panglima FPI, mereka juga sudah membagikan stiker yang bertuliskan ‘Hei Bung, ini bulan Ramadhan, hargai orang yang berpuasa, jangan merokok, makan dan minum di pinggir jalan’, bahkan mereka berencana akan menindak orang yang tidak menghargai bulan Puasa tersebut (by the way, punya kewenangan apa mereka untuk menindak?). Dan yang lebih menyedihkan saya, beberapa hari kemudian ramai diberitakan di televisi tentang keributan yang ditimbulkan oleh gerombolan ini. Betapa hancur hati saya melihat nama Tuhan diteriakkan sambil menghancurkan hak-milik orang lain dan memukuli orang lain sampai berdarah-darah. Betapa hal tersebut mmebuat saya berpikir: "Siapa sebetulnya yang merendahkan dan menodai bulan Ramadhan ini, para pemilik klub kah, atau mereka2 itu?". Setelah puas membuat kerusakan di muka bumi seperti itu, mereka lalu berlalu sambil membacakan shalawat Nabi dengan gaya seolah2 mereka baru saja memenangkan sebuah peperangan. Ya Tuhan, bagaimana bisa mereka menyebut nama Nabi setelah mereka melakukan perbuatan menjijikkan yang mungkin akan membuat para Nabi menangis (atau mungkin malah marah besar?).
Menghormati bulan puasa. Dengan alasan tsb., Pemda mengeluarkan maklumat berisi himbauan/seruan agar tempat-tempat hiburan tutup selama bulan puasa. Terlepas dari pembicaraan unsur politik di balik aturan tsb. (yg saya segan menyinggungnya) dan kenyataan bahwa di negara tercinta ini agama masih sering dijadikan "barang" usungan untuk "dijajakan" layaknya komoditi, saya lebih memilih untuk melihat kepada diri-diri orang yg berpuasa secara individu. Apa sih sebetulnya puasa itu? Tentu saja sudah ada ribuan penjelasan dari para ahli agama di dalam dan diluar Ramadhan yg dapat kita jadikan referensi untuk menjawab pertanyaan tsb. Saya hanya ingin melihat secara sederhana saja: sepertinya dengan Puasa tersebut kita disuruh belajar dan berlatih menahan godaan, baik dari dalam maupun luar diri kita, dalam rangka berusaha mencapai derajat "kesucian" diri yg lebih baik. Dengan demikian, ada dua poin utama yg saya bisa identifikasi: melatih diri menahan godaan, dan kesucian diri. Agak lucu menurut saya pribadi, jika pada saat orang berlatih tinju maka sansak dan sparring partnernya disimpan dan tidak boleh keluar. Mau berlatih bulutangkis, tidak boleh dengan sparring partner, bahkan tidak boleh ada pelatih, cukup seorang diri ber"shadow badminton" sepanjang hayat. Itu baru bicara berlatih, bagaimana kalau bicara soal bertanding? Bertanding tidak menghadapi siapa2? Kalau ingin melihat seseorang mampu-atau-tidak mengendalikan kuda, mosok iya diberikan kuda yang sudah anteng dari 'sono'nya.
Bicara agak hypothetical, saudara2 kita yg kebetulan memang senang/sering mendatangi tempat "maksiat" dengan tujuan untuk melakukan maksiat, apakah dengan datangnya bulan Puasa dan ditutupnya tempat2 tersebut lantas dia akan tinggal di rumah dan tidak mengerjakan apa-apa? Apakah kita yakin bahwa perbuatan maksiat memang memerlukan tempat khusus untuk melakukannya, dimana orang harus pergi keluar rumah untuk mencapainya, membayar sejumlah uang untuk dapat masuk dst..? Sebetulnya apa yang mau kita kendalikan, apa yang mau kita hapuskan, dengan menutup tempat-tempat tsb. di bulan Ramadhan. Orang-orang yang mendatangi tempat2 seperti itu dan bersukaria di dalamnya di bulan Puasa, mungkin sekali bukanlah orang-orang yang melakukan puasa Ramadahan. Dengan menutup, atau dengan membakar/menghancurkan tempat2 tersebut sekalipun, apakah serta merta mereka akan menjadi orang-orang yg berpuasa? Belum lagi bicara soal penghidupan orang-orang kecil yang bekerja di tempat-tempat itu. Banyak di antara mereka adalah bagian dari umat Islam juga. Terlepas dari apakah mereka berpuasa atau tidak (yang mana hakikatnya merupakan urusan seorang hamba dengan Tuhannya), mereka pun ingin merasakan ber-Lebaran, dan itu memerlukan biaya. Yang lebih asasi dari itu: mereka butuh dan berhak atas penghidupan!
Kesucian suatu bulan. Tak perduli bagaimanapun tingkah polah manusia di atas muka bumi ini dalam bulan Ramadhan, tetap saja kalau Tuhan sudah mendeklarasikan bahwa bulan ini adalah bulan yg suci dan penuh kemuliaan, ya it will stays like that... Bicara mengenai kesucian diri, buat saya pribadi, kesucian bukan sesuatu yg bisa ditegakkan, apalagi jika yg mau ditegakkan adalah kesucian orang/hal lain selain diri kita. Bagaimana kita sanggup untuk menegakkan kesucian orang lain atau kesucian bulan Ramadhan...? Kesucian adanya di dalam hati nurani, yang terpancar dalam perkataan, perbuatan dan karakter. Saya sering merasa bingung sendiri: apakah perlu membuat terlalu banyak perubahan yg dipaksakan dalam bulan puasa ini. Kalau boleh saya berpendapat: biarkanlah perubahan datang/muncul dari dalam hati individu-individu yg berpuasa dengan benar.
Saya pribadi sering merasa geli jika melihat jendela-jendela rumah makan ditutupi kain pada bulan puasa. Rasanya koq orang-orang yg sudah niat berpuasa itu sebegitu lemah daya tahan mentalnya, sampai melihat orang makan pun tidak boleh; kasihan, nanti jadi kepingin ikut makan, ikut masuk rumah makan dan terus makan...batal deh puasanya. Tidak semua orang kuat niat puasanya? Betul, tetapi kalau sesorang memang sudah ingin membatalkan puasanya, helai kain yg membentang di jendela rumah makan tidak akan menyurutkan langkahnya. Tidak berbuka di rumah makan pun, dia akan membatalkan puasanya di rumahnya sendiri. Bentangan kain tersebut agaknya hanya sekedar menjadi penghias dan pemuas bagi mata sebagian kita yang merasa bahwa di bulan Puasa, orang kalau makan harus sembunyi-sembunyi dan tidak boleh terlihat oleh orang lain yg sedang berpuasa.
Di masjid dekat rumah orang tua saya di Bogor, pada setiap bulan puasa diadakan acara kuliah subuh setiap pagi. Dari pengeras suara yang suaranya memancar begitu keras ke seluruh penjuru kampung (...dan harus ditelan mentah-mentah oleh telinga setiap orang, baik muslim ataupun tidak, sedang istirahat ataupun tidak, berpuasa ataupun tidak, ingin mendengarkan atau tidak), seringkali saya mendengar ada penceramah yang mengecam pemilik rumah makan/warung makan muslim yang tetap bekerja membuka tempat usahanya di bulan Puasa. Saya tidak ingat betul apa yg dikatakannya, tapi kalau tidak salah bisa disimpulkan bahwa orang yg tetap membuka tempat usahanya tsb. menjadi kurang baik kualitasnya sebagai Muslim. Dan tentunya selalu akan ada bumbu penyedap: tidak menghormati bulan puasa dan tidak menghormati orang yg berpuasa. Yang benar menurutnya adalah, samasekali tutup di sang hari, kalau mau buka ya setelah waktu berbuka puasa. Saya jadi berfikir: Benarkah demikian yang Tuhan kehendaki? Bahwa orang harus menghentikan mata pencahariannya pada saat berpuasa? Seakan2 orang menjadi sedemikian rakusnya jika tetap berjualan di siang hari; dan kerelaan untuk tetap melayani pembeli non-muslim (yg notabene tidak berpuasa) adalah demi untuk tetap memperoleh uang karena tamak. Padahal yang perlu membeli makan di siang hari bukan hanya orang-orang yg tidak berpuasa karena alasan iman, tetapi juga perempuan2 Muslim yang sedang berhalangan, hamil atau menyusui, orang-orang Muslim yang telah tua, dan orang-orang Muslim yang sakit. Pedagang makanan di lokasi pasar, misalnya, pembelinya adalah orang yg beraktivitas di pasar pada siang hari; kalau dia harus berhenti berjualan di siang hari dan menggantinya dengan berjualan di malam hari, siapakah yg hendak membeli masakannya di lokasi pasar di malam hari?
Saya seringkali merasa kasihan dan tidak-enak-hati, terhadap saudara2 saya yang tidak harus berpuasa, baik yg muslim ataupun bukan. Kita yang berpuasa, tapi kenapa mereka yang harus repot juga? Tidakkah kita pernah mencoba mendudukkan diri kita pada posisi mereka...
Begitu banyak orang lain yg tidak harus berpuasa, mengapa mereka juga harus berubah pola hidupnya hanya karena kita berpuasa. Puasa adalah menghadapi tantangan dan godaan, kenapa mesti lari dari itu semua dengan cara memberlakukan segala macam ketentuan/kebiasaan yang mengganggu irama kehidupan orang lain..? Saya seorang muslim, tetapi dengan ikhlas saya ingin menyerukan : "hormatilah orang yang berpuasa dan hormatilah orang yang tidak berpuasa"
Gejala mentalitas "anak bongsor" sebagaimana pernah disebut-sebut oleh Prof. Sarlito W. Sarwono memang suatu hal yang menyedihkan, agak mengerikan, dan sulit bagi kita untuk menerima bahwa mentalitas seperti itu ada ada diri kita. Tapi saya juga berfikir: nampaknya baik bagi kita apabila kita mau mencoba merenungkan, dengan jujur bertanya kepada diri sendiri apakah mentalitas tersebut memang ada dalam diri umat Islam Indonesia (yang saya sendiri adalah bagian darinya). Terlepas dari sulitnya menerima "tuduhan" tersebut, amat sulit bagi saya untuk menyangkal bahwa tanda-tanda yang ada di depan mata memang menunjukkan bahwa diagnosa mentalitas "anak bongsor" tersebut benar adanya. Jika memang mentalitas itu ada pada diri kita, betapa jauh kita dari perintah Tuhan: "Panggilah mereka ke jalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan, dan dengan perilaku yang baik, dan bertukar pendapat lah dengan mereka dengan cara yang baik pula" (mohon teman2 yang lebih 'alim dan berilmu agama mengoreksi bila saya salah, supaya saya tidak salah mengutip ayat...). Jangankan bisa memanggil orang lain ke jalan Tuhan, melihat kita pun orang sudah sebal....Karena kita memanggil tanpa menggunakan kebijaksanaan, hanya berseru-seru tanpa memperlihatkan kenyataan/contoh yg baik, dan tidak menggunakan cara-cara yang baik dalam berdialog/berinteraksi dengan orang lain yang berbeda dengan kita. Betul bahwa hidayah (petunjuk ke arah kebenaran) adalah urusan Allah, dan kita tidak bisa mengendalikan, memberikan atau mengatur hidayah. Tapi jika kita merasa bahwa dengan demikian boleh saja kita memanggil orang lain ke jalan Tuhan dengan cara sesuka hati dan menuruti keinginan kita (yg sulit terlepas dari hawa nafsu), dengan alasan : "urusan orang lain akan terpanggil atau tidak, itu mah urusan Tuhan", maka apa perlunya Tuhan mengajarkan kepada kita cara memanggil yg baik?
Saya jadi ingin bercerita lagi mengenai masjid di dekat rumah orangtua saya tsb. Seingat saya, bukan hanya sekali saya mendengar ceramah melalui corong pengeras suara (yg suaranya membahana ke seluruh kampung itu...) dimana sang penceramah menjelaskan pandangannya terhadap ajaran agama lain dengan cara yang bisa membuat pemeluk agama lain sakit hati. Dengan gambaran lisan, diperagakannya cara sembahyang pemeluk agama lain sebatas yg dia ketahui (dan mendengar bahasannya tsb., nampaknya apa yg diketahui memang terbatas sekali) dengan nada melecehkan. Menganai kesan "melecehkan" tsb, mungkin ini hanya interpretasi saya yg berlebihan, tapi somehow saya yakin orang lain pun akan punya interpretasi yg tidak jauh dari itu. Selain itu juga dibahas olehnya hal-hal yg menurutnya merupakan kekurangan dalam ajaran agama lain. Dan semua itu berlangsung dengan dipancarkan melalui pengeras suara yg demikian keras. Seakan-akan semua telinga yang bisa mendengar hanyalah telinga orang Islam, dan telinga pemeluk agama lain tidak bisa mendengar. Padahal saya tahu betul disekitar masjid tinggal cukup banyak warga yg bukan muslim, belum lagi di seluruh kampung itu. Bayangkan jika kita bukan muslim dan harus mendengarkan semua itu, yang dipancarkan dari dalam sebuah masjid yg dimuliakan oleh umat Islam. Seperti itukah dakwah yg diinginkan? Seandainya isi ceramah tsb. memang hanya untuk konsumsi muslimin yang hadir di acara itu, maka alangkah baiknya jika kekuatan pengeras suaranya diatur dengan bijak.
"Sampaikanlah yang haq (benar), walaupun pahit" adalah ujaran benar adanya, tetapi tidaklah berarti kita tidak mesti bijak dalam hal cara penyampaiannya, dan bijak untuk menentukan siapa saja yg perlu mendengarnya.
Lantas kita sebagai umat yg merasa terbesar jumlahnya "memaksa" orang lain menghormati kita, dan manakala dari pihak lain terlihat ketidaksukaan terhadap kita, maka kita pun bereaksi seakan-akan mereka sudah menjadi musuh yg akan memerangi kita. Padahal pernahkah kita pikirkan, bahwa sebagian dari ketidaksukaan mereka itu mungkin disebabkan oleh ulah kita sendiri....
Hal-hal seperti diatas terjadi dimana-mana dalam bentuknya yg bermacam-macam. Di kota, di desa, di kampus....Karena jumlah yg besar, kita terdorong untuk merasa berhak untuk melakukan -almost- apa saja yang kita mau, dengan semangat (atau dalih?) : demi kejayaan agama. Sampai-sampai saya sering merasa heran, apakah yg kita pertuhankan sebenarnya : Tuhan sendirikah, atau agama? Atau kita merasa berhak melakukan itu karena merasa jumlah kita lah yang terbesar? (= mentalitas anak bongsor…)
Kalau saya ingin dihormati, maka sepantasnyalah saya menunjukkan bahwa saya memang pantas dihormati.
Semua ini hanyalah sekedar curahan hati untuk berbagi rasa, tidak ada maksud hati untuk berpolemik. Mohon maaf apabila ada kesalahan, dan apabila tulisan ini terlalu menyita waktu utk. membacanya.
Mudah-mudahan Tuhan mengampuni.
-Menghormati Bulan Puasa
Sarlito W Sarwono
Menjelang bulan puasa, seperti biasa, para tokoh mulai mengimbau agar
seluruh masyarakat menghormati umat yang berpuasa dengan cara menutup semua
tempat hiburan yang berbau maksiat (walaupun di lapangan sulit untuk
membedakan antara kafe atau hotel yang maksiat dan yang bukan) dan menutup
restoran-restoran serta warung-warung di siang hari. Maka pemerintah daerah
dan polisi pun mengeluarkan berbagai peraturan yang membatasi
pengoperasian tempat-tempat hiburan tersebut.
Kalau ada yang membandel juga, pasukan jihad siap men-sweeping dan
menghancurkan semua yang berbau maksiat itu. Tidak peduli apakah ribuan
karyawan dan karyawati (yang kebanyakan muslim juga) bisa berlebaran atau
tidak (carilah pekerjaan yang halal, kata mereka). Tidak terpikir bahwa
para boss pemilik tempat hiburan sedang santai di Bali (atau di Singapura)
setelah menutup usahanya, sementara para pekerja seks melanjutkan
prakteknya di hotel-hotel (termasuk yang berbintang lima) atau di tempat
kos masing-masing.
Dengan perkataan lain, penulis jadi bertanya pada diri sendiri, apakah
praktek minta dihormati dengan cara itu mencapai sasaran? Yang jelas,
puluhan bulan Ramadhan sejak kita merdeka, tidak mengurangi maksiat
(bahkan makin menjadi-jadi, sementara KKN Indonesia menduduki peringkat
ke-3 dunia), sedangkan partai-partai politik Islam (jika semuanya
disatukan sekaligus) tidak pernah meraih lebih dari 10-11 persen suara
sejak Pemilu 1955 sampai 1999. Jauh di bawah gabungan suara PDI-P dan
Golkar (1999), atau Golkar sendirian (zaman Orde Baru), atau gabungan PNI
dan PKI (zaman Orde Lama). Padahal 90 persen dari 210 juta penduduk
Indonesia beragama Islam.
Tak Minta Dihormati
Penulis memang bukan kiai atau pakar agama Islam, tetapi ajaran Islam yang
penulis percayai adalah bahwa Islam bukanlah agama yang mengajarkan gila
hormat. Umat Islam justru disuruh menghormati orang lain: menghormati
orangtua, menghormati guru, teman, orang yang berprestasi, tetangga, orang
miskin - pokoknya semua. Bahkan juga yang berbeda agama (non-Islam) atau
sesama muslim yang berbeda versi. Islam mengajarkan: lakum dinukum
waliyadin (untukmu agamamu, untukku agamaku).
Hanya dengan menghormati orang lain, maka orang lain juga akan menghormati
kita. Hanya dengan menghargai orang lain, maka orang lain akan menghargai
kita. Dengan demikian, akan terjadi suasana yang saling menghormati dan
saling menghargai. Islam bukan agama yang sombong atau menyuruh umatnya
untuk menyombongkan diri dengan menyuruh orang lain menghormatinya.
Di sisi lain, Islam juga tidak membiarkan kemungkaran. Amar ma'ruf nahi
munkar (dekati kebaikan, jauhi ketidakbaikan). Demikian selalu didengungkan
di setiap telinga muslim. Tetapi, bagaimana caranya? Islam mengajarkan
setiap orang untuk memperkaya diri sendiri melalui jalan yang halal karena
dengan menjadi kaya, seorang muslim akan mampu menciptakan lapangan kerja
untuk orang lain dan membantu menghidupi sekian banyak jiwa dari keluarga
para karyawan yang bekerja untuk dirinya.
Setidak-tidaknya, orang yang mampu, Insya Allah, tidak akan terpaksa atau
terdesak untuk melakukan kejahatan, bahkan akan bisa memberi sedekah untuk
yang tidak mampu. Alangkah indahnya Indonesia ini jika banyak muslim kaya
yang mempunyai banyak pabrik atau perusahaan, baik dengan modal sendiri
maupun bekerja sama dengan investor asing, sehingga tidak perlu lagi ada
muslim yang harus bekerja di tempat-tempat maksiat.
Kalau bisa memilih antara bekerja di panti wreda atau panti asuhan dengan
gaji Rp 1,5 juta sebulan dengan bekerja di panti pijat dengan gaji yang
sama, orang tentu akan memilih yang pertama. Masalahnya adalah bahwa
penghasilan di panti pijat dalam kenyataannya bisa 10 kali lipat dari di
aneka panti yang lain. Islam menjawab masalah ini dengan meningkatkan
peluang dan menciptakan kesempatan yang lebih baik di tempat lain, bukan
hanya dengan merusaki sumber kehidupan yang sudah ada.
Hanya untuk yang Beriman
Ayat Al Quran tentang puasa (QS.2:183) termasuk salah satu ayat yang unik
karena Allah mengawali ayat itu dengan kata-kata, "Hai orang-orang yang
beriman....'' Dengan demikian, pada hakikatnya, Allah hanya menyuruh
orang-orang yang beriman saja untuk berpuasa, yaitu orang-orang yang
berpuasa karena Allah semata (lillahi ta'ala), bukan karena mengharapkan
pahala, apalagi mau show.
Orang beriman akan tetap berpuasa walaupun ia minoritas di tengah mayoritas
yang tidak berpuasa (misalnya: muslim yang sedang studi di negara lain) dan
jelas orang beriman ketika ia sedang menjadi mayoritas (seperti muslim di
Jakarta) tak akan menyuruh orang lain (termasuk yang nonmuslim) yang
minoritas untuk ikut berpuasa bersama dia (berpuasa mak- siat, bahkan
berpuasa makan-minum di depan umum).
Buat muslim, apalagi yang sungguh-sungguh beriman, maksiat tidak akan
singgah di hatinya, apalagi sampai melakukannya. Tetapi, ia pun tidak
mengingkari bahwa banyak orang lain yang masih melakukan hal-hal maksiat
itu karena memang mereka bukan muslim atau imannya belum cukup kuat. Allah
memang tidak menyuruh orang-orang seperti ini untuk berpuasa dan karenanya
kita tidak perlu repot-repot mengatur mereka.
Karena itulah orang Malaysia membuka pusat perjudian di Genting Island
(khusus untuk nonmuslim) dan membiarkannya tetap buka sekalipun dalam bulan
puasa. Tidak ada hujatan pada pemerintah, tidak ada sweeping, tidak ada<