[Related Posting: Suatu Malam Di Bulan Puasa 2003 & Suatu Malam Di Bulan Puasa 2003 (Part 2) ]
Setengah "ditarik" oleh Joseph, gua pun nunut aja dibawa balik ke kos-kosan. Well, sebenernya gua juga setuju lah, of course, bahwa urusan kekerasan fisik kayak gitu enggak bisa dibiarkan begitu aja. Emangnya kita hidup dimana?!
But waktu gua cerita ke Joseph di tengah jalan itu, gua belon mention soal pemukulan and penggaplokan. Gua cuman cerita bagaimnana si psycho itu gak pake permisi nerobos masuk ke kamar gua and terus ngamuk-ngamuk maki-maki gua. Somehow waktu itu gua berpikir, "Mending kaga usah dibilang deh soal pukulan itu". Tapi segitu pun Joseph kelihatan udah ga bisa terima.
Gua sebetulnya udah ga begitu ingat bagaimana detilnya cerita ini setelah itu. Garis besarnya sih sesampe di kos-kosan, Joseph lantas ketok-ketokin kamar anak-anak. Ternyata cukup banyak orang sedang ada di kos. Di lantai bawah ada Heru (udah lumayan lama juga tinggal di situ, setelah Joseph and gua), and Yudi yang relatif baru (waktu itu masih trainee Stanchart, sekarang udah ditempatin di Stanchart S'pore. Anjrot! Pinter banget deh tu orang). Di lantai atas, lantainya gua, ternyata ada Adri, anak lama juga (malah lebih lama daripada gua). Later on dia bilang, dia sebenernya denger juga ribut-ribut di lantai kita tapi karena udah setengah molor, ya deze gak denger jelas.
Si psycho itu lantas being summoned ke depan anak-anak. Mbak Ningsih, perempuan perkasa pengurus kos-kosan gua, ikut juga bergabung (gimana engga gua bilang perkasa, selama gua tinggal di kos-kosan ini si mbak kayaknya ga pernah sakit keras. Tiap hari jam setengah tiga pagi bangun and mulai kerja. Sebelum jam 9 pagi kayaknya semua kerjaan udah klaar semua, tinggal tunggu pakaian kering untuk disetrika siangnya. Hamil, dari hamil kecil mpe hamil tua teteup kerja. Hari ke-3 after melahirkan udah kerja lagi. Duh)
Di depan anak-anak, si psycho itu lantas diperkarakan. And, to my amazement, si gilingan ini keukeuh ga menunjukkan perasaan bersalah samasekali. Dan di depan anak-anak itulah akhirnya dia ngejelasin kenapa sih malam ini dia ngamuk-ngamuk ke gua. Mau tau apa penjelasannya? Dia bilang, dia marah sama gua karena: gua kalo nutup pintu kamar selalu keras-keras kayak dibanting.
Haahh..?!
Penjelasan yang bikin semua terperangah. Lebih-lebih Joseph and Adri yang satu lantai ma gua and kamar-kamar mereka pun berdekatan juga dengan kamar gua. Lah wong mereka selama ini enggak pernah ngerasa terganggu karena ngedenger gua nutup pintu keras-keras tuh? Malah Mbak Ningsih lantas bilang kalo si gila inilah yang suka banting-banting pintu kalo nutup pintu kamarnya atau kalo nutup pintu depan rumah.
Well, okay, tarolah gua memang suka nutup pintu keras-keras, misalnya. Lantas kenapa juga dia enggak ngomong aja ke gua dengan baik-baik bahwa dia ngerasa terganggu dengan kebiasaan gua itu..? Kenapa harus dengan cara malem-malem nerobos masuk ke kamar gua dan pada saat itupun gua enggak sedang keluar masuk kamar sehingga gua pun enggak sedang harus bolak-balik buka-tutup pintu??
Dan jawaban atas pertanyaan ini pun tidak kalah mencengangkan dibandingkan jawaban sebelumnya. Dengan muka lempeng dia menjelasakan bahwa dia udah ngasitau gua bahwa dia terganggu, dengan cara: beberapa kali saat berpapasan dengan gua, dia ngomel-ngomel sambil lewat dan kemudian banting pintu kamar dia atau pintu depan rumah.
Oh – my – God.
Seumur hidup gua belum pernah mendengar penjelasan semenakjubkan seperti ini. Dan jawaban dia itu lalu membawa ingatan gua ke beberapa peristiwa yang meskipun aneh tapi gak gua inget-inget karena menurut gua gak penting dan bukan urusan gua.
Kejadian yang pertama adalah kira-kira seperti ini: gua baru pulang ke kos-kosan, baru aja masuk rumah melalui pintu depan dan berjalan menuju tangga undak-undak menuju ke lantai dua tempat kamar gua berada. Pada saat menuju tangga, gua udah mendengar suara orang marah-marah ngomel di lantai dua. Sempet kepikir oleh gua, siapa tu yang marah-marah, and ada apa? Tapi ya gua terus aja berjalan menuju tangga and terus naik ke lantai dua. Begitu sampai di lantai dua gua berpapasan dengan si gilingan ini, dan ternyata dia tuh yang sedang marah karena memang dia yang sedang ngomel-ngomel dengan muka masam secara orang marah, dan waktu berjalan melewati gua, dia sempat juga memalingkan muka ke arah gua sambil terus ngomel-ngomel ga keruan Karena gua gak ngerasa ada urusan ma dia, ya gua cuek aja, dan gua pikir mungkin dia sedang ada problem dengan room mate-nya, seorang brondong anak kuliahan yang dia bilang adalah keponakannya (well, gua gak even bother cari tau apakah emang brondong itu ponakannya atau bukan, secara itu bukan urusan gua. Lagipula, dua-duanya toch memiliki kemiripan yang menonjol, i.e: dua-duanya enggak cakep blas; so mungkin aja mereka memang masih saudara dekat, kekekek…). Dia trus berjalan turun ke lantai dasar dan beberapa detik kemudian gua dengar: braakk!!! Pintu depan dia tutup dengan dibanting keras-keras. Huhh?? Kenapa tuh orang? Itu aja yang waktu itu sempet kepikir di benak gua. Tapi ya gua gak mau ambil pusing.
Setelah itu ada sekitar 1-2 kali kejadian yang mirip kayak gitu, tapi selain pintu depan, pintu kamar dia juga dibantingnya keras-keras.
Jadi itu toch caranya dia memberi tahu gua bahwa: "Eh, Pram, lo tuh kalo nutup pintu keras-keras jadinya gua keganggu". (??)
Any comment?
Well, let me give you a brief description on bagaimana si gilingan ini dianggap oleh temen-temen kos gua selama ini. Temen-temen kos gua sejak awal si gilingan ini masuk, mereka ga suka sama ni orang. Nih orang adalah jenis orang yang gak pernah mau tegur sapa sama siapapun and bahkan sepertinya gak ngerasa perlu sekedar nunjukkin muka ramah. Jadi temen-temen kos pun lantas gak mau ambil peduli dengan orang ini dan gak ngerasa perlu untuk beramah-tamah juga dengan dia.
Bagaimana dengan gua? Well, meskipun gua enggak sedemikian memenuhi persyaratan untuk menjadi Miss Congeniality atau Putri Persahabatan (the quality that Rio The Blogs' Ambassador has, so I heard... kekekek), at least gua termasuk orang yang berpikir bahwa orang-orang yang tinggal satu atap mestilah saling kenal dan bertegur sapa. Meskipun tidak harus jadi teman baik kalau memang enggak nyambung. Apalagi bentuk kos-kosan gua memang seperti rumah yang isinya cuman delapan kamar; so we're supposed to be like one family (or at least, begitulah pikiran gua). Berkaitan dengan si psycho ini, waktu dia baru aja masuk kos-kosan gua, gua adalah orang pertama yang greet dia and ajak kenalan. Begitu juga seterusnya kalau kita ketemu atau berpapasan, gua selalu berusaha ambil insiatif untuk negur duluan atau at least senyum. Memang lama-kelamaan gua capek juga, karena orang ini sepertinya gak ngerasa harus melakukan hal yang sama, alias gak pernah dia yang ambil insiatif untuk bertegur sapa. Yah gua akhirnya mulai maleus juga.
Balik lagi ke malam itu. Si giling ini teteup kekeuh jumekeuh gak ngerasa bersalah dan lama-lama bikin gua jengkel juga. Karena jengkel, akhirnya di depan anak-anak kos gua bukalah bahwa dia menyerang gua secara fisik. Pengakuan gua itu bikin anak-anak kos melonjak kaget dan naik darah. Adri ma Joseph langsung berdiri and bergerak ngedeketin orang itu layaknya mau ngehajar. Secara gua gak pingin ada continuing violence, apalagi bulan puasa pula, gua pun lantas tahan mereka.
Akhirnya Joseph, si penghuni terlama di kos dan kebetulan dia dulunya temen kuliah Rani anaknya ibu kos, ambil keputusan bahwa si psycho ini harus out dari kos-kosan kita. Joseph langsung telpon Rani dan nyeritain apa yang terjadi. Rani lantas minta bicara ma gua di telpon dan minta gua jelasin lagi kejadian yang gua alami. Habis gua selesai cerita Rani bilang bahwa dia akan minta si psycho ini segera keluar dari kos alias diusir, and kemudian dia minta telpon dikasi ke si psycho karena Rani pingin bicara ma dia.
Sambil tunggu Rani bicara di telpon dengan si gilingan padi gogo dancer itu, Joseph usul untuk kita pergi ke Polsek Setiabudi buat ngelaporin hal ini. Masuk akal sih pemikiran dia, karena memang yang dilakukan si gilingan terhadap gua adalah sesuatu perbuatan yang melawan melanggar hukum. Mungkin bisa dikategorikan sebagai penganiayaan, or at least, perbuatan tidak menyenangkan.
Akhirnya gua bertiga Joseph dan Adri pergi ke Polsek Setiabudi, pake mobilnya Adri. Sebetulnya sih jaraknya gak jauh-jauh amat, gak sampe 1 km koq. Tapi somehow kita bertiga lantas naik mobil.
Sampai di Polsek Setiabudi, sempat bingung juga kemana dan bagaimana harus lapor. Akhirnya setelah lapor di pos pelayanan di bawah, kita disuruh cerita ke bagian reserse di lantai atas. Sempat agak nerves juga sih, karena belum pernah masuk ke kantor polisi sampe sedalam itu, biasanya paling sampai pos pelayanan aja untuk lapor KTP atau handphone hilang.
Sambil berjalan menuju kantor reserse, sembari nerves-nerves gitu sempet juga sih kepikir, gimana ya tampangnya para reserse yang akan ketemu kita itu. Mungkinkah…..
Well, singkat cerita, setelah menceritakan apa yang terjadi kepada petugas reserse yang ada di situ, disetujui untuk membuatkan BAP atas peristiwa penyerangan terhadap diri gua dengan kategori kasus sebagai tindak pidana penganiayaan. Untuk membuat BAP, kita harus turun lagi ke bawah, karena disanalah petugasnya berada.
Setelah berada di depan petugas yang udah siap dengan mesin tik-nya (memang waktu itu masih pake mesin tik koq, belon pake komputer…), gua pun mengulang kembali cerita malam itu untuk langsung dibuatkan BAP-nya. Tapi kemudian, sebelum BAP selesai dibuat, Pak Polisi yang membuat BAP itu menjelaskan bahwa BAP untuk pasal penganiayaan harus dilengkapi dengan visum dari dokter sebagai bukti akibat penganiayaan, yang lantas dia pun bertanya: "Sudah divisum belum?".
"Belum pak, belum sempat. Dari rumah kita langsung kemari", jawab gua.
"Wah kalau begitu, mesti ke dokter dulu biar keluar visumnya, jadi ada penjelasan bagaimana cedera dan luka-lukanya. Di UGD rumah sakit juga bisa koq", begitu penjelasan Pak Polisi.
Luka? Cedera? Penjelasan Pak Polisi tersebut mengingatkan gua atas hal yang sejak peristiwa pemukulan itu belum pernah gua perhatikan: apa akibat pemukulan itu terhadap gua. Ingatan ini kemudian membuat gua mulai memeriksa tempat bekas tamparan dan pukulan yang mendarat di muka gua.
Tamparan si psycho itu, meskipun keras sekali, tapi gak mengakibatkan cedera apa-apa kecuali bintik-bintik merah kecil di pipi sebelah kiri gua. Kelihatannya beberapa pembuluh darah kapiler di kulit pipi gua ada yang pecah di dalam. But it's okay lah, karena gak mengakibatkan kerusakan yang signifikan di wajah gua yang sudah pernah dirusak dengan brutal oleh jerawat-jerawat terkutuk selama gua di SMA dan kuliah. Tamparan ini yang gua terima pada saat gua belum sempat melindungi diri dengan apa yang gua punyai.
Kemudian gua mulai memeriksa bagian sekitar mulut sebelah kiri gua yang kena dihajar bogem mentah dengan setakar tenaga itu, yang gue terima saat gue udah berusaha bikin perlindungan diri.
Lah??
Gua baru sadar. Ternyata gak ada cedera, atau luka sekecil apapun yang gua temukan. Bahkan tidak ada memar sekalipun. Bibir bawah sebelah kiri yang jelas-jelas kena kehajar telak, koq ya enggak ada bengkak-bengkaknya atau jontor sedikitpun. Dengan lidah, gua memeriksa bagian dalam pipi dan bagian dalam di bawah bibir kiri gua, siapa tau ada lecet barang sedikit. Hasilnya: enggak ada apa-apa.
Nah lho. Gimana nih?
"Bagaimana lukanya?", tanya Pak Polisi.
"Uhm…gak ada apa-apa pak. Gimana ya…", jawab gua bingung.
"Wah mosok gak ada lecet-lecetnya di bagian dalam bibir? Itu kan bagian yang lemah sekali. Paling tidak mesti ada yang pecah lah. Tapi koq kamu jontor juga engga?", Pak Polisi lantas ngebahas demikian, yang habis itu dia sambung lagi, "Susah dong nanti bikin visumnya kalau gak ada bekas-bekas penganiayaan samasekali?"
Eh, abis itu si Joseph pake komen segala," Dia kan belajar bela diri pak, ya terang aja gak kenapa-napa". Gua lantas kedip-kedipin mata ke Joseph supaya dia gak berkomentar lebih lanjut. Soalnya, gua rasa gak perlu lah hal itu dibahas. Pertama: karena gua memang enggak ikut bela diri apapun. Olahraga pernafasan yang gua ikuti resminya bertujuan untuk menjaga kesehatan koq, bukan bela diri, meskipun iya betul berhubungan erat dengan pengolahan inner-energy alias qi (chi). Kedua: gua kawatir kalo ntar disangka sok jagoan, di kantor polisi pula. Dalam posisi ini, lebih baik gua terkesan tak berdaya dong di depan para penegak hukum dan pelindung masyarakat ini (apalagi kalo polisinya kayak Jean-Claude Van Damme, mungkin gua udah berakting seakan lebih tidak berdaya lagi…).
Karena gak ada bekas penganiayaan apapun, akhirnya diputuskan untuk membatalkan pembuatan BAP untuk tindak pidana penganiayaan. Tapi karena hal yang diperbuat si psycho itu gak bisa dibiarkan begitu saja, akhirnya kita bersepakat untuk membawa seorang petugas ke kos-kosan untuk menghadapi si psycho itu.
Singkat cerita, di depan Pak Polisi, si psycho diminta untuk buat pengakuan tertulis saat itu juga, termasuk di dalamnya pernyataan bahwa dia tidak akan mengulangi hal yang sama kepada gua maupun orang lain. Pak Polisi bilang sama dia bahwa nama dan identitas diri lainnya udah dicatat di kantor polisi Polsek Setiabudi meskipun tidak diperkarakan lebih lanjut untuk kasus ini. Sintingnya, si gilingan ini masih sempat-sempatnya sok jagoan di depan Pak Polisi yang ikut ke kos-kosan, sampai akhirnya dia digentak ma Pak Polisi, baru akhirnya dia ciut.
Yang ingin juga gua ceritain adalah, bahwa dalam perjalanan pulang dari Polsek Setiabudi menuju ke kos-kosan, gua sempat berpikir mengenai apa maksud Tuhan dengan kejadian malam ini, di malam bulan Puasa yang tetap terasa syahdu meskipun dalam suasana 'heboh' karena segala kejadian itu. Yang muncul di pikiran gua kemudian adalah, ingatan untuk bersyukur atas segala perlindungan dan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada gua. Yang paling terasa di dalam hati gua adalah perasaan berkelimpahan, perasaan kaya karena dalam keadaan teraniaya gua melihat betapa teman-teman kos gua begitu tegak bersikap untuk membela gua, mendukung gua. Bahkan Mbak Ningsih juga bersikap demikian. Gua bersyukur bahwa selama ini Tuhan mengingatkan gua untuk berusaha selalu berbaik-baik dengan teman-teman kos gua, karena mereka lah tetangga terdekat gua. Mereka lah yang akan menolong gua manakala terjadi sesuatu terhadap gua, karena keluarga gua jauh ada di Bogor. Dan malam itu mereka sudah menunjukkan bahwa mereka adalah tetangga yang baik, yang dengan tulus dan spontan menolong serta membela gua.
Thank you Joseph, thank you Adri.
Gua juga bersyukur bahwa dengan ini Tuhan mengingatkan gua untuk tidak besar kepala, untuk tetap berusaha rendah hati, karena dengan kejadian ini Tuhan menunjukkan bahwa apapun juga bisa terjadi kalau Tuhan menghendaki. Tidak ada kekuatan apapun yang bisa mencegah kehendak-Nya untuk terjadi. Meskipun gua enggak ingat atau menyadari, pasti lah di dalam hati gua sudah pernah pernah, atau bahkan sering, muncul perasaan bahwa gua sudah 'hebat', dan bahwa bad thing can never happen to me. Jujur aja, sebetulnya gua berharap si psycho itu tidak akan bisa menyentuh tubuh gua dengan tinjunya. Tapi ternyata? Memang dia gak bisa melukai gua (ini pun perlindungan dan kehendak Tuhan), tapi ternyata tangannya bisa mendarat di pipi gua dan tinjunya bisa bersarang di dagu dan mulut gua.
Dan selain semua itu, mungkin Tuhan berkehendak untuk mengingatkan gua agar gua bisa menjadi semakin kuat.
Setelah semuanya selesai, ternyata waktu sudah menujukkan hampir jam 4 pagi, berarti bentar lagi udah imsak. Karena udah gak sempat untuk beli makan sahur, gua minta tolong Mbak Ningsih untuk ngebuatin indomi goreng untuk sahurnya gua dan Adri. Dan dengan baik hati Mbak Ningsih tidak hanya ngebuatin mi aja, tapi juga ngebuatin telor ceplok. Telornya dia ambil dari simpanan dia di dapur, karena gak ada anak kos (termasuk gua) yang punya simpanan telor.
Besoknya, si psycho udah ngilang dari kos-kosan kita. Rupanya Rani enggak mau kasih waktu barang sehari untuk dia, meskipun kabarnya dia sempat minta waktu seminggu untuki cari tempat kos baru.
Well, begitulah sekelumit cerita mengenai satu malam di bulan puasa akhir 2003. Banyak kenangan indah lainnya terjadi di bulan itu. Misalnya, bagaimana temen gua, Windu, berusaha menghibur gua setelah gua bubaran habis-habisan dari hubungan gua; dia berusaha hibur gua dengan bikin makan malam sekaligus undang banyak teman-temannya buat dikenalin ke gua, mudah-mudahan ada yang jodoh, katanya. Well, meskipun harapannya enggak kesampaian, tapi apa yang udah dilakukannya buat gua udah menghibur banget. Dan di bulan puasa itu juga gua dapat tambahan kenalan and sahabat baru.
And, by the way, mengenai temen gue yang sempat gue ceritakan sebagai orang yang punya andil dalam bubarnya hubungan gue tahun 2003 itu (di Part 1), I've forgiven him. It was not easy, and it certaily took a considerable time also to be able to forgive, but ternyata gue bisa juga koq. Lagian semua orang bisa aja melakukan 'kesalahan' yang sama, termasuk gua. Gua juga ga berani bilang bahwa seumur-umur gua engga bakalan melakukan hal seperti itu. Kemungkinan selalu ada aja. So, dear friend, mudah-mudahan loe sukses ya di US sana, bahagia and bisa temukan jalan buat live your life at its fullest.
Life has been beautiful. Life is beautiful. Thank you, God.