Huaduh..??!!!
Apa-apaan nih??!! Gue kaget setengah mati. Samasekali gak terpikir atau ngeduga urusan ini bakal jadi sedemikian ‘fisik’. Gue di-t-a-m-p-a-r??
For your information, sebelumnya seumur-umur gue engga pernah ngerasain yang namanya ditampar orang. Bahkan masuk ke dalam situasi yang memungkinkan gue kena ditampar pun enggak pernah.
Well ada suatu masa di mana kemungkinan gue ditampar cukup terbuka. It was junior high school. Dulu gue sekolah di SMP negeri di kota Bogor, yang meskipun sudah terkenal selama belasan tahun sebagai salahsatu dari dua SMP negeri terbaik di kota itu, tetap memiliki satu sisi yang menurut gue cukup memalukan: ada guru-guru yang terkenal tangannya gampang melayang alias suka nampar murid. Memang enggak banyak jumlahnya, cuman 2 orang guru; tapi segitupun udah cukup membuat gue malas masuk ke SMP itu. Cuman mau gimana lagi, kakak-kakak gue semua masuk ke sekolah itu, and di rumah gue orang-orangnya memang engga terlalu kreatif dalam memilih sekolah. Gue dan kakak-kakak gue, empat bersaudara, semua masuk ke SD, SMP dan SMA yang sama. Dari 4 anak itu, 3 orang kuliah di PTN yang sama
(..but I have always been the special one; buktinya semua kakak gue udah pada nikah dan berkembang biak, sedangkan gue masih single, beautiful and happy…)
Guru yang satu namanya Pak Indra, the other one is Pak Supardi. Kalo yang pertama biasanya ngajar matematika, and di luar tangannya yang ringan itu, kualitasnya sebagai guru sebenernya bagus. Dia bisa menjelaskan dengan baik, and sebetulnya bisa jadi teman diskusi yang baik juga. But, still, sisi-sisi baiknya itu enggak bisa membuatnya jadi guru favorit gue. The other one, Pak Supardi, was much worse. Dia ngajar olahraga, and he didn’t give any impression of being smart enough to teach. And he surely gave me one hell of difficult time dalam pelajaran olahraga. But I survived masa-masa di SMP yang, buat gua, samasekali tidak menyenangkan itu, tanpa sekali pun merasakan tangan-tangan kotor itu mendarat di pipi gue yang, pada masa itu, masih semulus pipi bayi dan belum ditumbuhi jerawat-jerawat terkutuk.
Years later, kira-kira 3 tahun yang lalu keponakan gue dari kakak gue yang nomor dua masuk SMP. And it surprised me a lot to hear from her that the kepala sekolah di SMP itu adalah Pak Supardi. Hahh?? Gimana orang kayak gitu bisa jadi kepala sekolah? Gue prihatin and enggak tahu juga dimana tempat almamater gue itu di tengah peta persaingan SMP di kota Bogor saat ini.
Well, let’s go back to suatu malam di bulan puasa 2003, di dalam kamar gue itu.
Di tengah kekagetan gue yang setengah mati itu, gue menyadari bahwa keadaan yang sedang gue alami ini serius. Ini orang jelas sedang kalap. Apapun yang menjadi sebabnya, jelas dia sedang hilang kendali atas dirinya. Dia pun masih terus membentak dan memaki-maki gue, dengan kata-kata yang teteup gak ngasih gue idea apa sebabnya dia jadi ngamuk seperti itu.
Dalam keadaan kaget, masih sangat bingung, tapi at the same time menyadari seriusnya situasi itu, yang terpikir di benak gue saat itu adalah untuk berusaha ‘membentengi’ diri dari kemungkinan serangan fisik berikutnya. Maka kemudian gue pun berusaha mengerahkan sesuatu yang selama ini gue latih dalam latihan olahraga pernafasan yang gue ikuti. Jujur aja, gue sendiri ga yakin dengan apa yang gue lakukan saat itu, dan juga ga benar-benar tahu bagaimana cara melindungi diri dengan apa yang gue punya tersebut. Yang terpikir oleh gue adalah sekedar ‘mengerahkan’, begitu saja, tanpa punya rencana lebih lanjut apapun.
Di saat gue berusaha membuat perlindungan diri itu, sambil berdoa di dalam hati, tiba-tiba…
BUKKK!!!
Kali ini tinju kanannya mendarat di dagu kiri gue, kena sampai ke bibir bawah sebelah kiri.
Keras banget. Ya ampun, bener-bener keras banget, gue enggak bohong ataupun melebih-lebihkan. Karena kerasnya pukulan itu, gue yang sudah dipepet di pojok kamar pun terhuyung mundur menabrak tumpukan CD yang gue taruh di atas meja TV. Tumpukan CD itu lantas runtuh, CD-CD nya jatuh berserakan. Gue pun sempat ‘black-out’ sekitar 1 atau 2 detik meskipun tetap berdiri.
For those of you yang sering, or at least pernah, nonton pertandingan tinju, mungkin bakal tahu atau pernah dikasitau oleh temen nonton kamu bahwa titik yang paling diincar oleh seorang petinju di tubuh lawannya adalah: dagu atau rahang. Tempat itulah yang biasanya menghasilkan kemenangan KO jika bisa dikenai dengan telak dan keras.
Begitu black-out sesaat itu hilang, yang gue lihat adalah si orang kalap itu mundur dengan ekspresi yang, menurut gue, aneh. Dia melangkah mundur keluar dari kamar gue, dengan tetap menghadap ke arah gue. Dan gue, tanpa gue sadari, maju selangkah demi selangkah mengikuti langkah mundurnya dia. Mulutnya masih mengeluarkan kata-kata kasar, but nadanya udah enggak ngebentak-bentak lagi.
Di saat itu pun gue masih tetep bingung, sama seperti sebelumnya; gue bingung, apa sih sebenernya yang sedang gue alami ini? Orang ini kenapa? Kalau dia marah, marah karena apa? Kenapa sampai harus nampar dan mukul gue? Apa yang harus gue lakukan, balas menyerang kah, berkelahi kah??
Gue ikuti dia yang terus mundur keluar kamar, sambil gue sendiri tetap terbengong-bengong. Dia terus mundur surut sampai ke kamar dia sendiri. Tapi sesaat sebelum dia masuk ke dalam kamarnya, dia masih sempat melontarkan ancaman yang cukup serius: a threat saying that he would love to kill me.
Bruk! Pintu kamarnya dia tutup.
Dan keadaan malam itu pun kembali seperti seperti beberapa menit sebelumnya.
Sunyi, senyap, lengang.
Tinggal gue yang masih berdiri di depan pintu kamar gue. Masih terhenyak dengan keadaan yang baru aja gue lewati. Rasanya seperti baru aja bermimpi, mimpi buruk of course.
Karena masih belum sanggup mencerna apa yang baru aja gue alami, gue pun memutuskan untuk enggak memikirkan dulu and kembali ke rencana gue, yaitu bermalam di Al Alzhar.
Sambil ngeberesin sisa bawaan yang belum masuk tas, gue sempet nengok CD-CD yang berserakan di lantai sekitar TV. Sedih banget ngeliat kotak CD album pertama Russell Watson gue pecah. CD ini adalah salahsatu CD yang pertama kali membawa minat gue ke arah cross-over singing. Sebelumnya juga gue udah suka banget dengan Andrea Bocelli, tapi waktu itu lagu-lagu yang gue suka dari Bocelli masih sangat terbatas. Ya maklumlah, masih baru kenalan. Setelah perkenalan dengan Bocelli, gue kemudian agak ‘pindah haluan’ dan mulai terhanyut dalam lagu-lagu dari pentas musicals, awalnya lewat perkenalan dengan lagu-lagunya Andrew Lloyd Webber (…so standar banceh musikal ya? Hihih….). CD Rusell Watson ini mulai menarik kembali perhatian gue ke arah suara-suara tenor operatik, karena buat gue suara Rusell Watson ini masih lebih ‘light’ and empuk dibandingkan dengan Bocelli, jadi waktu gue beli CD itu, suara Watson masih lebih bisa ‘masuk’ buat gue yang cuman seorang penikmat pemula ini.

Gue pun cabut berjalan keluar kos, meneruskan niat gue untuk pergi ke Al Azhar dan bermalam di sana. Di ujung jalan, gue berpapasan dengan Joseph, temen kos gue satu lantai yang sama-sama orang ‘lama’ di kos-kosan gue. Dia baru pulang ngerjain shooting or something.
Being bingung, gue pun lantas ngobrol ma Joseph di tengah jalan and gue lantas nyeritain apa yang baru gue alami. Berbeda dengan gue yang ngalamin sendiri dan cuman terbingung-bingung, Joseph malah naik darah. Dia lantas ngajak gue pulang dan bikin perhitungan dengan si maniak kalap itu.
(...bersambung lagi ya...Sorry :D )