<< September 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sep 16, 2011
Pak Bupati dan Perempuan Berbusana Tidak Sesuai "Syariah"

Dengar-dengar, ada Bupati yang berkata bahwa perempuan yang berbusana tidak sesuai Syariah maka pantas diperkosa. Wah...kalau benar dia bilang begitu, saya ingin menyampaikan kepada Bupati yang terhormat itu: "Pak, saya kenal secara pribadi dengan seorang perempuan dari generasi terdahulu, yang busananya adalah busana tradisional perempuan Jawa masa lalu, kain dan kebaya. Mungkin menurut Bapak, busananya tidak sesuai "Syariah", tidak menutup aurat. Dia juga tidak kaya, hidupnya sarat kesusahan dan perjuangan melalui jaman perang, dan jelas bukan seorang pejabat penguasa seperti Bapak". "Tapi Pak, supaya Bapak tahu, dia kembali kepada Tuhannya dengan seuntai senyum yang amat manis tersungging di bibirnya, dengan wajah putih cerah bersinar yang lebih cantik dibandingkan wajahnya kala masih hidup. Coba kita tanya diri kita masing-masing Pak, kira-kira apakah kita pasti bisa menutup hidup kita dengan wajah spt itu? Cobalah Bapak ulang-ulang terus perkataan keji mengenai perempuan yang pantas diperkosa itu, nanti ada waktunya kita lihat mana yg lebih mulia di sisi Tuhan: Bapak, atau perempuan2 yang Bapak cerca"

Posted at 07:32 pm by baskinrobbins
Make a comment  

Oct 28, 2007
Decade

*sigh*... cuman ingin highlight aja dikit, bukan nge-highlight rambut gue maksudnya, tapi cuma sekelumit mengenai awal suatu perjalanan yang dimulai sepuluh tahun yang lalu.  A decade already *sigh again*...

It was started somewhere in October 1997. Beberapa waktu sebelumnya gua baru aja diajarin buka email account di Hotmail.com oleh temen sekantor gue yang juga temen satu fakultas dulu, namanya Jeffry Husman.   Secara dia mau sekolah lagi ke Aussie, so supaya kita bisa terus communicate, diajarin lah gue pake intrenet and buka email account supaya kita bisa email-emailan.  Jaman itu ya, jaman itu, internet masih barang yang lumayan baru di Indonesia.  Di kantor gua aja di satu divisi cuman dikasi 1 PC yang konek ke internet.    Warnet? Mungkin udah ada, tapi jelas ga ada di setiap pojokan kayak sekarang gini.  Yang gua ingat, di kantor-kantor pos besar ada tuh semacam warnet punyanya Kantor Pos.  Pokoknya yang pake wasantara.net gitu deh.  Anak sekarang entah tau apa enggak apa tuh wasantara yang adalah singkatan dari wawasan nusantara.  Entah apa masih diajarin yang kayak gituan di sekolah-sekolah.  Mungkin juga masih.

Well, anyway, sejak saat itu gue mulai belajar pake email, dan hanya email2an dengan temen gua itu thok.

Hingga akhirnya, pada suatu hari, pada saat sedang berada di dalam Hotmail, tertumbuklah pandangan gue ke frame sebelah kiri layar Hotmail tuh, agak ke sebelah bawah.  Nah,jaman dulu itu (gaktau kalau sekarang, secara gua udah bertahun-tahun gak pake Hotmail lagi, ada kali 7 tahun), di dalam Hotmail ada frame-nya di sebelah kiri untuk navigate kita buat ngapa-ngapain.  Ya yang disebelah atas on the frame paling yang standar2 aja, kayak link buat Inbox, misalnya.  Atau yang lainnya, misalnya untuk buat email baru.  Dan link2 standar di sebelah atas inilah yang selama beberapa minggu gua perhatiin, toch emang gua cuman email2an thok.  Well,on that day, gua ngeliat di sebelah kiri bawah itu ada satu link yang gua ga pernah perhatikan sebelumnya.  Tulisannya 'Classifieds'. 

I was wondering.  Kira-kira apa ya isinya?  Waktu itu, gua yang bodoh ini cuman tau bahwa kata classifieds cuman refer ke something yang kira2 berbau 'rahasia' gitu. Kan di film suka ada tuh, file-file rahasia yang di map-nya ditulis besar2: CLASSIFIED.   So i was thinking, what so 'classified' about it?  Later on gua baru bertambah pengetahuan bahwa maksud dari 'classifieds' di situ adalah Classified Ads.

So, karena ingin tahu, gua pun meng-klik link itu. 

Masuklah gue ke satu halaman yang di tengah-tengahnya ada link-link berjudul 'Cars', 'Housing/Apartments', 'Jobs'...dsb.  Melihat sekilas nama-nama link itu, gua pun langsung ngeh bahwa ooh ini ternyata tempat orang-orang pasang iklan toch.  Tapi,eh, koq di antara link-link itu ada satu link yang judulnya 'Personal'.  Apa pulak nih..??   Kalau link yang ini, gua ga bisa menduga kira-kira apa isinya.  Mungkinkah orang-orang yang beriklan juga? Tapi apa yang diiklankan?

Curious, gue pun klik link"Personal" itu.

Tentunya loe semua pada udah tau donk isinya mengenai apa.  Kan semua udah pada pinter sekarang, udah pada intrenet savvy. Gak bego kayak gua waktu itu.

Nah.  Di dalamnya ada berbagai macam pilihan.  Ada ' Men looking for Women'.  Ada 'Women looking for Men'. Ada 'Women looking for Women'.  Dan ada "Men looking for Men'.

So I was like: "Halleluja!"; or "Open Sesame!". I thought, is it the door? Is it the entrance to somewhere that I have been 'longing' to be?  I mean, all these years I'm not sure where to go.  Of course I read many things.  And heard a lot. About this and that; about this place and that place.  But all the information could not give me the 'way' to go any further. 

Or was it actually about courage? Because this link somehow provided me with the way on which I could go 'anonymously'. It was like I could go inside, but people couldn't see me right away.

So, gue pun berexplorasi kesana kemari di dalam salahsatu dari link-link di dalam"Personal" itu.  Browsing sana-sini, dan akhirnyapun belajar untuk posting my own ad di sana.  Dan sejak itu, gua pun 'resmi' menjadi bagian dari dunia persilatan.  It was October 1997.  I don't remember th exact date, but the month was October.

Telusur sana dan sini, akhirnya berkenalan lah gue dengan Yu Nah. Kemudian Rinaldo.  Dua orang yang termasuk orang2 pertama yang gua kenal di internet ini, sampe sekarang masih jadi two friends in my inner circle. Mungkin lebih tepatnya 'innest' circle,tapi koq gua gak yakin pernah dengar atau baca kata 'innest'. 

Dengan si Rinaldo ini, it took weeks and weeks email-emailan yang panjang lebar, sampai kemudian took months telpon-telponan,sampe akhirnya ketemu pertama kali Maret 98. Pertemanan kita bisa dibilang nyambung terus dari sejak gua kenal di internet itu sampai sekarang.  It's been 10 years.  Ndak kerasa.

Sebetulnya semikian juga dengan si Yu Nah, hanya saja dengan dedengkot dunia persilatan yang satu ini gua sempat offline cukup lama.  Mungkin lebih dari 3 tahun kali?  Gara-garanya, deze ini sempeut ngambek gara-gara gua protes sama kebiasaannya dia waktu itu yang hobi banget ngeforward emails. Sehari bisa lebih dari satu email foward-an masuk ke Inbox gua dari nyonyah ini. Dan ndak ada satupun yang pake basa-basi apa keq gitu dari dia di bagian awal email forward-an nya. Pure 100% jus forward.

Abis itu, dia kenalan and temenan sama Rinaldo and sempat jadi tetanggaan di suatu rusun.  Kira-kira 11 bulan gitu deh tetanggaan.  Nha eversince, gua jadinya teteup sering dengar mengenai Yu Nah ini dari Rinaldo.  Sampai akhirnya bulan Puasa 2003,  gak sengaja gua ketemu lagi dengan Yu Nah yang baru bubaran tarawih di Sunda Kelapa (Yu Nah ini memang terkenal cukup solehah, secara dia juga haji pulak. Atau hajjah? Terserah lah). Gua ma Rinaldo baru dari suatu acara di penthouse-nya kawan kita di Kemayoran,  acara yang khusus dibuat Windu, my other beloved friend, untuk menghibur gua karena pagi-paginya pas telponan ma dia gua sesenggukan gara-hara satu masalah pribadi,dan Windu dengan acara itu berniat ngenalin gua dengan banyak orang.  Bubar acara itu  Rio ajakin gua untuk kongkow2 dengan beberapa teman dia yang semuanya belum gua kenal, kecuali ya Yu Nah itu.  Karena Yu Nah tarawih di Sunda Kelapa dengan 2 orang lainnya, so kita pun ke sana dulu njemput mereka sebelum gabung dengan anak-anak yang lain.  Malam itu jadinya gua bertambah temen-temen baik lain, ada Uda Mandy. Ada juga Miko.  Tapi tentunya yang riwayatnya paling panjang, ya dua itu lah, Rinaldo and Yu Nah.

Well, intinya,after ngalor ngidul gini, udah 10 taun lah gua ini di dunia persilatan. People come and go.Teman baru datang, teman lama pergi.  Tapi alhamdulillah ada dua orang yang stay selama 10 tahun jadi teman gue, selain temen-temen baik lainnya yang hadir belakangan.

Pas bulan puasa kemarin nih, 2007, gue baru ngeh urusan 10 tahunan ini yang akan jatuh di bulan Oktober.  Makanya waktu Uda Mandy ngajakin halbihalal rame-rame bakda Lebaran, gua semangat sekali. Memang Uda pun pada saat ngundang2 pake SMS sempat menambahkan pulak marketing gimmick dengan info akan hadirnya bintang tamu dari Hanglok.  Tapi tanpa itu pun gua akan tetap semangat koq, karena sebenarnya momen itu mau gua pakai sekalian sebagai peringatan 10 tahunan tsb.

Sayangnya Rinaldo ndak bisa ikutan halabihalal itu, karena mama-papanya sedang ada di Jakarta dan ada acara keluarga.  Ya ndakpapa, orangtua kan sewajarnya memang harus kita dahulukan. I would have done the same thing koq.

It's been good 10 years. Mudah-mudahan akan terus good sampai seterusnya.  A simple wish. Or is it not that simple..?

 


Posted at 10:55 pm by baskinrobbins
Make a comment  

Dec 18, 2006
Choice

Lebaran udah lumayan lama lewat. Sekitar waktu Lebaran tempo hari, seperti biasa banyak orang ambil cuti, baik yang berlebaran maupun juga yang enggak. Yang cuti karena kepingin, atau juga kepaksa. Contoh yang cuti karena kepaksa adalah para ibu-ibu (kadang juga para bapak) yang pembantunya pada mudik Lebaran.

Seusai libur Lebaran, biasanya banyak orang-orang yang saling bertukar cerita mengenai pengalaman Lebarannya yang terkini. Of course keriuhan bercerita di antara para ibu-ibu lebih heboh dibanding those of para bapak's. Serunya, kisah-kisah yang meluncur dari mulut para ibu-ibu karir ini koq ya kurang-lebih sama. Kesamaannya yaitu: berintikan keluhan atas segala macam pekerjaan domestik yang harus mereka lakukan selama cuti karena pembantu enggak ada. Dan keluhan itu juga termasuk kepusingan mereka mengatasi masalah mengurus anak-anak.

Yang menarik bagi gua adalah kesan yang gua tangkap: mereka ga menikmati itu dan menganggap pekerjaan di kantor lebih menyenangkan, uplifting, ga peduli seberapapun pekerjaan di kantor itu bikin stress.

Ngerti banget sih. Siapa juga yang tahan untuk ngerjain pekerjaan-pekerjaan kayak: ngebersihin rumah, nyuci baju, nyetrika baju, masak, ngurus anak-anak mandi lah nyuapin makan lah, nganter sekolah, etc., while mereka sebenernya punya pekerjaan di kantor yang lebih challenging untuk sisi intelektual mereka. Belum lagi: gengsi pekerjaan di kantor yang lebih tinggi. So, siapa juga yang tahan? Gak banyak, tentunya.

Gua rada bisa memahami bagaimana rasanya mengerjakan segala pekerjaan domestik pada saat zonder pembantu. Yah maklumlah, saat jaman masih sekolah dulu (SD-SMP-SMA, in particular) manakala tidak ada pembantu di rumah setelah Lebaran, atau di masa-masa jeda antar pembantu (after yang lama resigned and yang baru belum nongol); sebagai anak bungsu yang paling berbakti gua lah yang termasuk paling banyak mengerjakan segala macem pekerjaan rumah tangga untuk ngebantuin my Mom. Secara, 3 orang kakak gua yang semuanya lelaki tulen itu udah senang-senangnya keluar rumah untuk segala macem acara begowl dengan temen-temennya plus kegiatan-kegiatan sekolah sebangsa OSIS atau Himpunan Mahasiswa getoh. Pokoke segala tetek bengek kegiatan remaja mid-80s ampe early 90s gitu deh; but of course karena kita tinggal di kota kecil (de Buitenzorg itu), versinya gak terlalu sama dengan versinya remaja Jakarta, misalnya.

Maka yang ikut bangun jam 4 pagi (karena gak sampai hati ngeliat Ibunda tersayang bangun sendirian di pagi-pagi buta) dan cawe-cawe (baca: turun tangan) untuk langsung, misalnya, cuci-cuci piring, ya gue lah. Plus juga kerjaan-kerjaan lainnya. Of course apa yang gua kerjakan masih jauh lebih sedikit dari yang dikerjain Ibu. Gue ngerti betul, misalnya, bahwa nyetrika itu bener-bener kerjaan yang pain in the ass (no pleasure involved, at all, just the pain...*jangan ngeres*). Pegel, membosankan. Makanya biasanya my Mom lebih sering kasi gue nyuci baju aja, yang menurut gue lebih fun. You guys also need to know that pada masa itu di rumah kita ada nerima anak-anak kos, mahasiswa IPB, ada bisa sampe 10 orang gitu. So kebayang gimana ngerjain tuh cucian and setrikaan yang lumayan banyak.

Emang semuanya seperti potongan-potongan puzzles yang make sense, yang udah dibuat oleh Tuhan. Cocok van cucok. Maksud gua, pada masa-masa SMA itu muka gua emang berantakan abis gara-gara jerawat. So jadilah gua anak remaja yang kurang pede, gak terlalu banyak bergaul; aktivitas hanya sebatas sekolah, belajar (kalo lagi mau), plus terkadang kegiatan OSIS di sekolah yang berkaitan dengan kerohanian *huuuuuy...jangan salah, gua dulu waktu SMA solehah sekali. Ke sekolah hampir selalu dengan baju tangan panjang. Tinggal kurang jilbabnya aja kalee...kikikikiki*. Jadi ya gua emang banyakan di rumah daripada di luar rumah dan punya banyak kesempatan untuk bantu-bantu. Bayangin kalo gua jaman itu doyan keluyuran, kesian dong nyokap.

Kalo misalnya pas gua SMA itu muka gua masih mulus kulit bayi kayak di SMP, gosh, i dunno what could have happened. Mungkin gua udah terjun ke 'dunia persilatan' dari sejak SMA kali (harap dicatat ya...pada waktu SMA itu badan gua so brondong-like slim, kulit seluruh tubuh putih langsat halus kecuali yang di muka karena jerawatan, rambut hitam tebal mengkilap tapi gak pernah gondrong, and wajah gua udah mulai berubah dari yang sebelumnya waktu SD-SMP lebih dekat ke arah my Dad, menjadi lebih dekat ke arah wajah my Mom. Sedangkan, believe me, my Mom is a very beautiful lady). Untungnya, ndilalah, muka gua koq ya jerawatan abis.

Tapi ya, tau enggak lo, meskipun gua suka kebagian kerjaan rumah tangga itu, termasuk nyuci-nyuci and nyapu-ngepel, koq ya gua pernah disangkain sebagai anak yang kaga pernah kerja di rumah. Ceritanya waktu gua SMA, udah kelas 3, diundang oleh salahsatu SMA di Bogor sebagai perwakilan OSIS sekolah untuk menghadiri acara Isra Mi'raj di SMA tersebut. Menarik buat gua untuk datang, karena SMA tersebut asalnya adalah sekolahan khusus buat anak-anak keturunan Tionghoa di masa lalu. Karena lokasinya memang di 'China Town' nya Bogor, maka sampe jaman gua SMA pun kebanyakan anak muridnya adalah keturunan Tionghoa meskipun memang engga semuanya. Jadi gua cukup salut deh sama sekolahan itu, karena ngasi keleluasaan untuk anak murid yang 'minoritas' di sekolah tersebut untuk bikin acara keagamaan yang cukup besar, sampe ngundang penceramah yang cukup kondang di kota Bogor.

Anyway, waktu gua nyampe sana, of course disambut donk ma panitia acaranya dan salam-salaman dengan mereka, termasuk ketua panitianya. Namanya Mulyadi (kenapa ya gua masih ingat?).

Beberapa hari kemudian, di sekolah, gua disamperin temen sekelas gua yang ternyata tetangganya si Mulyadi itu (berarti mereka sama-sama tinggal di perumahan dosen IPB di daerah Darmaga). Temen gua itu, namanya Amita, cerita bahwa kemarin si Mulyadi cerita ma dia bahwa ketemu perwakilan SMAN 1 Bogor di acara Isra Mi'raj di sekolahnya, and guess what, remark-nya Mulyadi mengenai gua adalah:

"Tangannya halus banget..! Kayak yang di rumahnya engga pernah kerja gitu".

Yah, dia salah mengenai gua gak pernah kerja di rumah. Tapi mengenai tangan, ya mau gimana lagi. Gua kan anaknya nyokap gua.

Stop ngelantur mengenai those good old days.

Back to cerita and keluh kesah para ibu-ibu karir di kantor gua. Ada hal yang mengusik gua, yang terselip diantara cerita dan keluhan mereka tersebut: adanya kecenderungan mereka untuk look down on para ibu-ibu rumah tangga yang enggak bekerja atau enggak berkarir. Misalnya kata-kata seperti ini: "Aduh, gua males baget deh kalo pas di sekolahan anak gua mesti ngobrol ma ibu-ibu rumah tangga yang kerjanya cuman di rumah, nonton tivi, arisan. Engga nyambung", atau, "Koq bisa-bisanya sih mau di rumah aja, kalau gua sih gak sanggup deh", atau, "Ngapain juga ya cewe-cewe udah sekolah tinggi-tinggi tapi cuman di rumah aja", atau malah "Apa gak bego ya lama-lama di rumah melulu gitu". Atau ungkapan-ungkapan yang lainnya lagi.

Perkataan-perkataan itu mengusik gua, karena pertama: ada kesan merendahkan, and that their status as career women is somewhat higher than those of housewives'. Kedua: adanya kecenderungan untuk menyamaratakan bahwa para perempuan yang tinggal di rumah adalah orang-orang yang malas menerima tantangan di dunia kerja dan tumpul secara intelektual.

Apa ya benar para perempuan yang tinggal di rumah tersebut -semuanya- pantas ditempeli label seperti itu..?

Kalau gua pikir, alasannya para perempuan tersebut tinggal di rumah adalah :

  1. karena mereka memang tidak punya pilihan. Misalnya karena memang tidak/belum berhasil dapat kerjaan di luar rumah. Untuk kasus ini, bukannya kita seharusnya malah berempati?
  2. karena mereka memang memilih untuk tinggal di rumah. Sebabnya mereka bisa membuat pilihan ini, ya memang macem-macem. The 'worst' possibility, bisa aja karena memang males kerja alias nyambut gawe (Bhs. Jawa) alias digawe (Bhs. Sunda) alias gong zuo (baca: kung cuo; Bhs. Dewa). Kemalesan ini mestinya ada back-upnya or ada ground-nya sih, misalnya: punya suami yang duitnya banyak, atau kebetulan lahir dari orangtua yang makmur gemah ripah loh jinawi. However, bisa juga para perempuan tersebut diam di rumah karena alasan-alasan lain yang lebih 'noble'. Misalnya: to make sure that anak-anaknya dibesarkan dengan baik oleh tangan ibunya sendiri. Untuk type yang terakhir ini, i don't think we're in the position to look down on them.

Semua pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing. Tapi bahkan konsekuensi yang 'jelek' pun masih bisa di-manage koq.

Ada pendapat bahwa: seorang ibu yang juga adalah seorang career woman yang hebat akan dapat menularkan passion-nya untuk maju dan juga persistence-nya kepada anak-anaknya. Tapi itu bukan sesuatu yang pasti, enggak definite. Demikian juga sebaliknya, anak-anak dari Ibu yang sepenuhnya tinggal di rumah, belum tentu akan jadi anak-anak yang bener. Perempuan karir belum tentu lantas lebih cerdas, lebih berwawasan atau lebih bijak daripada perempuan yang tinggal di rumah. Ada faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi, antara lain: bagaimana cara para perempuan itu menjalani pilihannya tersebut.

Contohnya, perempuan yang tinggal di rumah tapi gemar membaca hal-hal yang bermanfaat boleh jadi akan lebih cerdas dan berwawasan ketimbang seorang perempuan karir yang di waktu senggangnya lebih senang menonton infotainment. Tapi perempuan yang tinggal di rumah pun bisa aja kecolongan dalam mendidik anaknya karena, misalnya, kurang waspada.

So i believe it's better untuk tidak menyamaratakan lah. Lebih bagus lagi jika tidak gampang-gampang merendahkan. Toh engga ada yang tau kemana jalan yang dilalui akhirnya akan menuju kemana. Bisa aja the career woman ends up sebagai perempuan yang harus tinggal di rumah, atau berbagai kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Ini buat pangeling-eling bagi gua juga sih, secara gua kalo lagi kumat belagunya, suka look down ke orang lain juga … in addition to getting down on my knees often (to pray, maksudnya…:D).


Posted at 05:45 pm by baskinrobbins
Comments (7)  

Jun 29, 2006
Sorryyyyyyyyyy....!

I am sorry…..

 

If I haven’t responded to your shout at my tagboard

If you haven’t seen me at your blog for quite long

 

I’m not in my hiatus

Nothing bad is happening to me (thank You, God)

I’m not losing my interest in blogging

I’m not losing my desire to see you guys on the net

 

It’sjust that….

 

I still don’t have internet access in my new workplace! :(

 

The approval to have one has to go all the way to the Big Apple

And it might take a ( G R E A T ) while

And even if I manage get one, still no access to blogs and personal email account

 

So….just wish me the best of luck, please? :)


Posted at 07:17 pm by baskinrobbins
Comments (10)  

Apr 13, 2006
GENAP

3 April 2006.  Genap setahun sudah gua menyandang gelar 'single'.  Gak tau persisnya kenapa gua ikut-ikutan menambahkan kata 'genap' di depan kata 'setahun'.  Mungkin karena sering dengar atau baca orang lain menggunakan kata tersebut di depan kata 'setahun'.  Sepertinya untuk memberi kesan 'penuh', tidak kurang.  Padahal kalau mempergunakan hitungan setahun sama dengan 365 hari, maka jumlah hari dalam setahun tidaklah genap.  Tapi jumlah bulannya iya sih.

 

 

Gak tau juga kenapa koq periode setahun being single ini terasa jadi sesuatu yang agak 'notable'.  Padahal, gua pernah jadi single selama kurang-lebih 25 tahun!  Tentunya itu periode yang dimulai sejak hari kelahiran gua sampai dengan ketemu dengan my first partner.  Tapi kalau dilihat dalam kerangka waktu sejak gua pacaran ma first partner gua itu sampe sekarang (jika saat jadiannya gua dengan my first partner itu dianggap sebagai titik nol), maka memang keberadaan gua sebagai seorang single cuman occupies sekitar 19.2 persen dari keseluruhan periode.  Sedangkan setahun terakhir sebagai single ini adalah 80 persennya dari masa single gua yang merupakan 19.2 persen dari keseluruhan periode yang bermula dari titik nol tersebut.  Pusing?  Bodo amat.

 

Gini loh. Setelah jalan selama kurang lebih 4 tahun dengan my first partner dan kemudian bubar, gua sempat jadi single selama kurang lebih 3 bulan.  Lantas jalan dengan my 2nd partner selama kurang lebih setahun tiga bulan, dan berakhir tanggal 3 April 2005.  Dari tanggal itu ke 3 April 2006, ya setahun kan.

 

Mungkin signifikansi dari 80 persen itulah yang bikin masa single setahun itu jadi terasa agak notable. Dan, well, jadi terasa lama juga.

 

Dan sejujurnya, agak di luar dugaan gua juga bahwa gua jadi single untuk setahun ini.  I mean, look at me! (like I have much to offer J , hell no! Hihihih, better jangan jadi terlalu pede kali ya?)

 

Gua gak laku banget dong, berarti?  Well, of course gua akan serta merta menolak aksioma itu. Belum ketemu yang cocok buat jadi pasangan, itu jawaban standar gua yang gua pegang dengan kukuh.  Kalau untuk having fun aja, ya most of the time ada aja.  Cuman koq ya gak ada yang berkualifikasi partner material.

 

 

Pernah juga lah suka ma orang saat gue single setahun belakangan ini. Kejadiannya tahun lalu, beberapa minggu after gua broke up ma my 2nd partner.  Sempat ketemu-ketemu, jalan kesana kemari, akhirnya gak kemana-mana.  Mungkin emang bukan jod.  Mungkin juga lebih baik begitu, karena who knows itu cuman sekedar rebound aja, yang kalopun bisa jadian, bisa aja engga bertahan lama.  Abis itu, pernah sempat timbul feeling beberapa kali sama beberapa orang, tapi ternyata ketahuan kalau jadian malah akan jadi disaster.

 

 

(Porcupine and skunk discover that they're just not compatible in bed)

 

Orang yang suka ma gua, gua engga suka.  Suka ma orang, orangnya enggak mau ma gue.  Begitu ketemu yang saling suka, ternyata enggak cocok atawa bukan partner material.  Kalau ngelihat dari sisi ini, rasanya sih emang kesimpulannya adalah….gua enggak laku, hihihihih.

 

Padahal kalo dipikir-pikir, gua gak picky-picky amat koq.  Dan gua juga enggak model orang yang pikiran and pertimbangannya rumit banget kalau harus memulai hubungan; gak kayak Carrie Bradshaw, atawa Will Truman, atawa Grace Adler.  Gua gak banyak pake pikiran kalo dalam masalah ini, kayaknya lebih banyak ngikutin hati. 

 

 

Atau mungkin malah gua terlalu banyak ngikutin hati 'kali?  Kayak Fran Fine, The Nanny?  Soalnya kalo udah suka sama orang, maka gua yang sudah cukup bodoh ini bisa jadi bodoh kuadrat. 

 

(Tapi kalo kayak Fran Fine yang akhirnya bisa dapetin Maxwell Sheffield, well, it's worth waiting kali yeeJ )

 

"Fran Fine, The Nanny" and "Mr. Sheffield" (from The Nanny's website)

 

Well, entahlah, sometimes kepikir juga ma gua, maybe emang gua ga boleh pacaran 'kali…

 

Sambil ngetik ini di kafenya QB di Plaza Semanggi, diiringi lagu-lagu swing dari Barry Manilow (suaranya itu loh, empuk banget sih…), ada satu perempuan yang masuk sambil nangis-nangis, terus duduk di meja pojok sambil telponan and sesenggukan. Gua assume dia sedang punya masalah dengan cowoknya, atau ceweknya (well, try to be open minded 'napa?).  Regardless betapa menjemukan dan disturbing-nya aksi perempuan itu, gua jadi teringat bahwa air mata jenis kayak gitu gak pernah keluar dari mata gua pada saat gua sedang single.  Pasti terjadi pada saat gua sedang terlibat ma seseorang.  So, being single is not such a bad thing, ya toch?  (lame excuse banggeuuut…)

 

Satu hal lagi, yang amat sangat penting: beruntung gua punya teman-teman yang baik, so –overall- gua tetap merasa oke-oke aja (well, yang ini bukan excuse, it's a bless)

 

 

(Also, from CartoonStock)

 


Posted at 03:13 pm by baskinrobbins
Comments (11)  

Jan 1, 2006
Suatu Malam Di Bulan Puasa 2003 (Part 3 - End)

[Related Posting: Suatu Malam Di Bulan Puasa 2003 & Suatu Malam Di Bulan Puasa 2003 (Part 2) ] 

Setengah "ditarik" oleh Joseph, gua pun nunut aja dibawa balik ke kos-kosan. Well, sebenernya gua juga setuju lah, of course, bahwa urusan kekerasan fisik kayak gitu enggak bisa dibiarkan begitu aja. Emangnya kita hidup dimana?!

But waktu gua cerita ke Joseph di tengah jalan itu, gua belon mention soal pemukulan and penggaplokan. Gua cuman cerita bagaimnana si psycho itu gak pake permisi nerobos masuk ke kamar gua and terus ngamuk-ngamuk maki-maki gua. Somehow waktu itu gua berpikir, "Mending kaga usah dibilang deh soal pukulan itu". Tapi segitu pun Joseph kelihatan udah ga bisa terima.

Gua sebetulnya udah ga begitu ingat bagaimana detilnya cerita ini setelah itu. Garis besarnya sih sesampe di kos-kosan, Joseph lantas ketok-ketokin kamar anak-anak. Ternyata cukup banyak orang sedang ada di kos. Di lantai bawah ada Heru (udah lumayan lama juga tinggal di situ, setelah Joseph and gua), and Yudi yang relatif baru (waktu itu masih trainee Stanchart, sekarang udah ditempatin di Stanchart S'pore. Anjrot! Pinter banget deh tu orang). Di lantai atas, lantainya gua, ternyata ada Adri, anak lama juga (malah lebih lama daripada gua). Later on dia bilang, dia sebenernya denger juga ribut-ribut di lantai kita tapi karena udah setengah molor, ya deze gak denger jelas.

Si psycho itu lantas being summoned ke depan anak-anak. Mbak Ningsih, perempuan perkasa pengurus kos-kosan gua, ikut juga bergabung (gimana engga gua bilang perkasa, selama gua tinggal di kos-kosan ini si mbak kayaknya ga pernah sakit keras. Tiap hari jam setengah tiga pagi bangun and mulai kerja. Sebelum jam 9 pagi kayaknya semua kerjaan udah klaar semua, tinggal tunggu pakaian kering untuk disetrika siangnya. Hamil, dari hamil kecil mpe hamil tua teteup kerja. Hari ke-3 after melahirkan udah kerja lagi. Duh)

Di depan anak-anak, si psycho itu lantas diperkarakan. And, to my amazement, si gilingan ini keukeuh ga menunjukkan perasaan bersalah samasekali. Dan di depan anak-anak itulah akhirnya dia ngejelasin kenapa sih malam ini dia ngamuk-ngamuk ke gua. Mau tau apa penjelasannya? Dia bilang, dia marah sama gua karena: gua kalo nutup pintu kamar selalu keras-keras kayak dibanting.

Haahh..?!

Penjelasan yang bikin semua terperangah. Lebih-lebih Joseph and Adri yang satu lantai ma gua and kamar-kamar mereka pun berdekatan juga dengan kamar gua. Lah wong mereka selama ini enggak pernah ngerasa terganggu karena ngedenger gua nutup pintu keras-keras tuh? Malah Mbak Ningsih lantas bilang kalo si gila inilah yang suka banting-banting pintu kalo nutup pintu kamarnya atau kalo nutup pintu depan rumah.

Well, okay, tarolah gua memang suka nutup pintu keras-keras, misalnya. Lantas kenapa juga dia enggak ngomong aja ke gua dengan baik-baik bahwa dia ngerasa terganggu dengan kebiasaan gua itu..? Kenapa harus dengan cara malem-malem nerobos masuk ke kamar gua dan pada saat itupun gua enggak sedang keluar masuk kamar sehingga gua pun enggak sedang harus bolak-balik buka-tutup pintu??

Dan jawaban atas pertanyaan ini pun tidak kalah mencengangkan dibandingkan jawaban sebelumnya. Dengan muka lempeng dia menjelasakan bahwa dia udah ngasitau gua bahwa dia terganggu, dengan cara: beberapa kali saat berpapasan dengan gua, dia ngomel-ngomel sambil lewat dan kemudian banting pintu kamar dia atau pintu depan rumah.

Oh – my – God.

Seumur hidup gua belum pernah mendengar penjelasan semenakjubkan seperti ini. Dan jawaban dia itu lalu membawa ingatan gua ke beberapa peristiwa yang meskipun aneh tapi gak gua inget-inget karena menurut gua gak penting dan bukan urusan gua.

Kejadian yang pertama adalah kira-kira seperti ini: gua baru pulang ke kos-kosan, baru aja masuk rumah melalui pintu depan dan berjalan menuju tangga undak-undak menuju ke lantai dua tempat kamar gua berada. Pada saat menuju tangga, gua udah mendengar suara orang marah-marah ngomel di lantai dua. Sempet kepikir oleh gua, siapa tu yang marah-marah, and ada apa? Tapi ya gua terus aja berjalan menuju tangga and terus naik ke lantai dua. Begitu sampai di lantai dua gua berpapasan dengan si gilingan ini, dan ternyata dia tuh yang sedang marah karena memang dia yang sedang ngomel-ngomel dengan muka masam secara orang marah, dan waktu berjalan melewati gua, dia sempat juga memalingkan muka ke arah gua sambil terus ngomel-ngomel ga keruan Karena gua gak ngerasa ada urusan ma dia, ya gua cuek aja, dan gua pikir mungkin dia sedang ada problem dengan room mate-nya, seorang brondong anak kuliahan yang dia bilang adalah keponakannya (well, gua gak even bother cari tau apakah emang brondong itu ponakannya atau bukan, secara itu bukan urusan gua. Lagipula, dua-duanya toch memiliki kemiripan yang menonjol, i.e: dua-duanya enggak cakep blas; so mungkin aja mereka memang masih saudara dekat, kekekek…). Dia trus berjalan turun ke lantai dasar dan beberapa detik kemudian gua dengar: braakk!!! Pintu depan dia tutup dengan dibanting keras-keras. Huhh?? Kenapa tuh orang? Itu aja yang waktu itu sempet kepikir di benak gua. Tapi ya gua gak mau ambil pusing.

Setelah itu ada sekitar 1-2 kali kejadian yang mirip kayak gitu, tapi selain pintu depan, pintu kamar dia juga dibantingnya keras-keras.

Jadi itu toch caranya dia memberi tahu gua bahwa: "Eh, Pram, lo tuh kalo nutup pintu keras-keras jadinya gua keganggu". (??)

Any comment?

Well, let me give you a brief description on bagaimana si gilingan ini dianggap oleh temen-temen kos gua selama ini. Temen-temen kos gua sejak awal si gilingan ini masuk, mereka ga suka sama ni orang. Nih orang adalah jenis orang yang gak pernah mau tegur sapa sama siapapun and bahkan sepertinya gak ngerasa perlu sekedar nunjukkin muka ramah. Jadi temen-temen kos pun lantas gak mau ambil peduli dengan orang ini dan gak ngerasa perlu untuk beramah-tamah juga dengan dia.

Bagaimana dengan gua? Well, meskipun gua enggak sedemikian memenuhi persyaratan untuk menjadi Miss Congeniality atau Putri Persahabatan (the quality that Rio The Blogs' Ambassador has, so I heard... kekekek), at least gua termasuk orang yang berpikir bahwa orang-orang yang tinggal satu atap mestilah saling kenal dan bertegur sapa. Meskipun tidak harus jadi teman baik kalau memang enggak nyambung. Apalagi bentuk kos-kosan gua memang seperti rumah yang isinya cuman delapan kamar; so we're supposed to be like one family (or at least, begitulah pikiran gua). Berkaitan dengan si psycho ini, waktu dia baru aja masuk kos-kosan gua, gua adalah orang pertama yang greet dia and ajak kenalan. Begitu juga seterusnya kalau kita ketemu atau berpapasan, gua selalu berusaha ambil insiatif untuk negur duluan atau at least senyum. Memang lama-kelamaan gua capek juga, karena orang ini sepertinya gak ngerasa harus melakukan hal yang sama, alias gak pernah dia yang ambil insiatif untuk bertegur sapa. Yah gua akhirnya mulai maleus juga.

Balik lagi ke malam itu. Si giling ini teteup kekeuh jumekeuh gak ngerasa bersalah dan lama-lama bikin gua jengkel juga. Karena jengkel, akhirnya di depan anak-anak kos gua bukalah bahwa dia menyerang gua secara fisik. Pengakuan gua itu bikin anak-anak kos melonjak kaget dan naik darah. Adri ma Joseph langsung berdiri and bergerak ngedeketin orang itu layaknya mau ngehajar. Secara gua gak pingin ada continuing violence, apalagi bulan puasa pula, gua pun lantas tahan mereka.

Akhirnya Joseph, si penghuni terlama di kos dan kebetulan dia dulunya temen kuliah Rani anaknya ibu kos, ambil keputusan bahwa si psycho ini harus out dari kos-kosan kita. Joseph langsung telpon Rani dan nyeritain apa yang terjadi. Rani lantas minta bicara ma gua di telpon dan minta gua jelasin lagi kejadian yang gua alami. Habis gua selesai cerita Rani bilang bahwa dia akan minta si psycho ini segera keluar dari kos alias diusir, and kemudian dia minta telpon dikasi ke si psycho karena Rani pingin bicara ma dia.

Sambil tunggu Rani bicara di telpon dengan si gilingan padi gogo dancer itu, Joseph usul untuk kita pergi ke Polsek Setiabudi buat ngelaporin hal ini. Masuk akal sih pemikiran dia, karena memang yang dilakukan si gilingan terhadap gua adalah sesuatu perbuatan yang melawan melanggar hukum. Mungkin bisa dikategorikan sebagai penganiayaan, or at least, perbuatan tidak menyenangkan.

Akhirnya gua bertiga Joseph dan Adri pergi ke Polsek Setiabudi, pake mobilnya Adri. Sebetulnya sih jaraknya gak jauh-jauh amat, gak sampe 1 km koq. Tapi somehow kita bertiga lantas naik mobil.

Sampai di Polsek Setiabudi, sempat bingung juga kemana dan bagaimana harus lapor. Akhirnya setelah lapor di pos pelayanan di bawah, kita disuruh cerita ke bagian reserse di lantai atas. Sempat agak nerves juga sih, karena belum pernah masuk ke kantor polisi sampe sedalam itu, biasanya paling sampai pos pelayanan aja untuk lapor KTP atau handphone hilang.

Sambil berjalan menuju kantor reserse, sembari nerves-nerves gitu sempet juga sih kepikir, gimana ya tampangnya para reserse yang akan ketemu kita itu. Mungkinkah…..

Well, singkat cerita, setelah menceritakan apa yang terjadi kepada petugas reserse yang ada di situ, disetujui untuk membuatkan BAP atas peristiwa penyerangan terhadap diri gua dengan kategori kasus sebagai tindak pidana penganiayaan. Untuk membuat BAP, kita harus turun lagi ke bawah, karena disanalah petugasnya berada.

Setelah berada di depan petugas yang udah siap dengan mesin tik-nya (memang waktu itu masih pake mesin tik koq, belon pake komputer…), gua pun mengulang kembali cerita malam itu untuk langsung dibuatkan BAP-nya. Tapi kemudian, sebelum BAP selesai dibuat, Pak Polisi yang membuat BAP itu menjelaskan bahwa BAP untuk pasal penganiayaan harus dilengkapi dengan visum dari dokter sebagai bukti akibat penganiayaan, yang lantas dia pun bertanya: "Sudah divisum belum?".

"Belum pak, belum sempat. Dari rumah kita langsung kemari", jawab gua.

"Wah kalau begitu, mesti ke dokter dulu biar keluar visumnya, jadi ada penjelasan bagaimana cedera dan luka-lukanya. Di UGD rumah sakit juga bisa koq", begitu penjelasan Pak Polisi.

Luka? Cedera? Penjelasan Pak Polisi tersebut mengingatkan gua atas hal yang sejak peristiwa pemukulan itu belum pernah gua perhatikan: apa akibat pemukulan itu terhadap gua. Ingatan ini kemudian membuat gua mulai memeriksa tempat bekas tamparan dan pukulan yang mendarat di muka gua.

Tamparan si psycho itu, meskipun keras sekali, tapi gak mengakibatkan cedera apa-apa kecuali bintik-bintik merah kecil di pipi sebelah kiri gua. Kelihatannya beberapa pembuluh darah kapiler di kulit pipi gua ada yang pecah di dalam. But it's okay lah, karena gak mengakibatkan kerusakan yang signifikan di wajah gua yang sudah pernah dirusak dengan brutal oleh jerawat-jerawat terkutuk selama gua di SMA dan kuliah.  Tamparan ini yang gua terima pada saat gua belum sempat melindungi diri dengan apa yang gua punyai.

Kemudian gua mulai memeriksa bagian sekitar mulut sebelah kiri gua yang kena dihajar bogem mentah dengan setakar tenaga itu, yang gue terima saat gue udah berusaha bikin perlindungan diri.

Lah??

Gua baru sadar. Ternyata gak ada cedera, atau luka sekecil apapun yang gua temukan. Bahkan tidak ada memar sekalipun. Bibir bawah sebelah kiri yang jelas-jelas kena kehajar telak, koq ya enggak ada bengkak-bengkaknya atau jontor sedikitpun. Dengan lidah, gua memeriksa bagian dalam pipi dan bagian dalam di bawah bibir kiri gua, siapa tau ada lecet barang sedikit. Hasilnya: enggak ada apa-apa.

Nah lho. Gimana nih?

"Bagaimana lukanya?", tanya Pak Polisi.

"Uhm…gak ada apa-apa pak. Gimana ya…", jawab gua bingung.

"Wah mosok gak ada lecet-lecetnya di bagian dalam bibir? Itu kan bagian yang lemah sekali. Paling tidak mesti ada yang pecah lah. Tapi koq kamu jontor juga engga?", Pak Polisi lantas ngebahas demikian, yang habis itu dia sambung lagi, "Susah dong nanti bikin visumnya kalau gak ada bekas-bekas penganiayaan samasekali?"

Eh, abis itu si Joseph pake komen segala," Dia kan belajar bela diri pak, ya terang aja gak kenapa-napa". Gua lantas kedip-kedipin mata ke Joseph supaya dia gak berkomentar lebih lanjut. Soalnya, gua rasa gak perlu lah hal itu dibahas. Pertama: karena gua memang enggak ikut bela diri apapun. Olahraga pernafasan yang gua ikuti resminya bertujuan untuk menjaga kesehatan koq, bukan bela diri, meskipun iya betul berhubungan erat dengan pengolahan inner-energy alias qi (chi). Kedua: gua kawatir kalo ntar disangka sok jagoan, di kantor polisi pula. Dalam posisi ini, lebih baik gua terkesan tak berdaya dong di depan para penegak hukum dan pelindung masyarakat ini (apalagi kalo polisinya kayak Jean-Claude Van Damme, mungkin gua udah berakting seakan lebih tidak berdaya lagi…).

Karena gak ada bekas penganiayaan apapun, akhirnya diputuskan untuk membatalkan pembuatan BAP untuk tindak pidana penganiayaan. Tapi karena hal yang diperbuat si psycho itu gak bisa dibiarkan begitu saja, akhirnya kita bersepakat untuk membawa seorang petugas ke kos-kosan untuk menghadapi si psycho itu.

Singkat cerita, di depan Pak Polisi, si psycho diminta untuk buat pengakuan tertulis saat itu juga, termasuk di dalamnya pernyataan bahwa dia tidak akan mengulangi hal yang sama kepada gua maupun orang lain. Pak Polisi bilang sama dia bahwa nama dan identitas diri lainnya udah dicatat di kantor polisi Polsek Setiabudi meskipun tidak diperkarakan lebih lanjut untuk kasus ini. Sintingnya, si gilingan ini masih sempat-sempatnya sok jagoan di depan Pak Polisi yang ikut ke kos-kosan, sampai akhirnya dia digentak ma Pak Polisi, baru akhirnya dia ciut.

Yang ingin juga gua ceritain adalah, bahwa dalam perjalanan pulang dari Polsek Setiabudi menuju ke kos-kosan, gua sempat berpikir mengenai apa maksud Tuhan dengan kejadian malam ini, di malam bulan Puasa yang tetap terasa syahdu meskipun dalam suasana 'heboh' karena segala kejadian itu. Yang muncul di pikiran gua kemudian adalah, ingatan untuk bersyukur atas segala perlindungan dan nikmat yang telah Tuhan berikan kepada gua. Yang paling terasa di dalam hati gua adalah perasaan berkelimpahan, perasaan kaya karena dalam keadaan teraniaya gua melihat betapa teman-teman kos gua begitu tegak bersikap untuk membela gua, mendukung gua. Bahkan Mbak Ningsih juga bersikap demikian. Gua bersyukur bahwa selama ini Tuhan mengingatkan gua untuk berusaha selalu berbaik-baik dengan teman-teman kos gua, karena mereka lah tetangga terdekat gua. Mereka lah yang akan menolong gua manakala terjadi sesuatu terhadap gua, karena keluarga gua jauh ada di Bogor. Dan malam itu mereka sudah menunjukkan bahwa mereka adalah tetangga yang baik, yang dengan tulus dan spontan menolong serta membela gua.

Thank you Joseph, thank you Adri.

Gua juga bersyukur bahwa dengan ini Tuhan mengingatkan gua untuk tidak besar kepala, untuk tetap berusaha rendah hati, karena dengan kejadian ini Tuhan menunjukkan bahwa apapun juga bisa terjadi kalau Tuhan menghendaki. Tidak ada kekuatan apapun yang bisa mencegah kehendak-Nya untuk terjadi. Meskipun gua enggak ingat atau menyadari, pasti lah di dalam hati gua sudah pernah pernah, atau bahkan sering, muncul perasaan bahwa gua sudah 'hebat', dan bahwa bad thing can never happen to me. Jujur aja, sebetulnya gua berharap si psycho itu tidak akan bisa menyentuh tubuh gua dengan tinjunya. Tapi ternyata? Memang dia gak bisa melukai gua (ini pun perlindungan dan kehendak Tuhan), tapi ternyata tangannya bisa mendarat di pipi gua dan tinjunya bisa bersarang di dagu dan mulut gua.

Dan selain semua itu, mungkin Tuhan berkehendak untuk mengingatkan gua agar gua bisa menjadi semakin kuat.

Setelah semuanya selesai, ternyata waktu sudah menujukkan hampir jam 4 pagi, berarti bentar lagi udah imsak. Karena udah gak sempat untuk beli makan sahur, gua minta tolong Mbak Ningsih untuk ngebuatin indomi goreng untuk sahurnya gua dan Adri. Dan dengan baik hati Mbak Ningsih tidak hanya ngebuatin mi aja, tapi juga ngebuatin telor ceplok. Telornya dia ambil dari simpanan dia di dapur, karena gak ada anak kos (termasuk gua) yang punya simpanan telor.

Besoknya, si psycho udah ngilang dari kos-kosan kita. Rupanya Rani enggak mau kasih waktu barang sehari untuk dia, meskipun kabarnya dia sempat minta waktu seminggu untuki cari tempat kos baru.

Well, begitulah sekelumit cerita mengenai satu malam di bulan puasa akhir 2003. Banyak kenangan indah lainnya terjadi di bulan itu. Misalnya, bagaimana temen gua, Windu, berusaha menghibur gua setelah gua bubaran habis-habisan dari hubungan gua; dia berusaha hibur gua dengan bikin makan malam sekaligus undang banyak teman-temannya buat dikenalin ke gua, mudah-mudahan ada yang jodoh, katanya. Well, meskipun harapannya enggak kesampaian, tapi apa yang udah dilakukannya buat gua udah menghibur banget. Dan di bulan puasa itu juga gua dapat tambahan kenalan and sahabat baru.

And, by the way, mengenai temen gue yang sempat gue ceritakan sebagai orang yang punya andil dalam bubarnya hubungan gue tahun 2003 itu (di Part 1), I've forgiven him.  It was not easy, and it certaily took a considerable time also to be able to forgive, but ternyata gue bisa juga koq.  Lagian semua orang bisa aja melakukan 'kesalahan' yang sama, termasuk gua.  Gua juga ga berani bilang bahwa seumur-umur gua engga bakalan melakukan hal seperti itu.  Kemungkinan selalu ada aja.  So, dear friend, mudah-mudahan loe sukses ya di US sana, bahagia and bisa temukan jalan buat live your life at its fullest.

Life has been beautiful. Life is beautiful. Thank you, God.


Posted at 06:46 pm by baskinrobbins
Comments (28)  

Dec 7, 2005
Suatu Malam Di Bulan Puasa 2003 (Part 2)

Huaduh..??!!!

 

Apa-apaan nih??!! Gue kaget setengah mati.  Samasekali gak terpikir atau ngeduga urusan ini bakal jadi sedemikian ‘fisik’.  Gue di-t-a-m-p-a-r??

 

For your information, sebelumnya seumur-umur gue engga pernah ngerasain yang namanya ditampar orang.  Bahkan masuk ke dalam situasi yang memungkinkan gue kena ditampar pun enggak pernah.

 

Well ada suatu masa di mana kemungkinan gue ditampar cukup terbuka.  It was junior high school.  Dulu gue sekolah di SMP negeri di kota Bogor, yang meskipun sudah terkenal selama belasan tahun sebagai salahsatu dari dua SMP negeri terbaik di kota itu, tetap memiliki satu sisi yang menurut gue cukup memalukan:  ada guru-guru yang terkenal tangannya gampang melayang alias suka nampar murid.  Memang enggak banyak jumlahnya, cuman 2 orang guru; tapi segitupun udah cukup membuat gue malas masuk ke SMP itu.  Cuman mau gimana lagi, kakak-kakak gue semua masuk ke sekolah itu, and di rumah gue orang-orangnya memang engga terlalu kreatif dalam memilih sekolah.  Gue dan kakak-kakak gue, empat bersaudara, semua masuk ke SD, SMP dan SMA yang sama.  Dari 4 anak itu, 3 orang kuliah di PTN yang sama

 

(..but I have always been the special one; buktinya semua kakak gue udah pada nikah dan berkembang biak, sedangkan gue masih single, beautiful and happy…)

 

Guru yang satu namanya Pak Indra, the other one is Pak Supardi.  Kalo yang pertama biasanya ngajar matematika, and di luar tangannya yang ringan itu, kualitasnya sebagai guru sebenernya bagus.  Dia bisa menjelaskan dengan baik, and sebetulnya bisa jadi teman diskusi yang baik juga.  But, still, sisi-sisi baiknya itu enggak bisa membuatnya jadi guru favorit gue. The other one, Pak Supardi, was much worse.  Dia ngajar olahraga, and he didn’t give any impression of being smart enough to teach.  And he surely gave me one hell of difficult time dalam pelajaran olahraga. But I survived masa-masa di SMP yang, buat gua, samasekali tidak menyenangkan itu, tanpa sekali pun merasakan tangan-tangan kotor itu mendarat di pipi gue yang, pada masa itu, masih semulus pipi bayi dan belum ditumbuhi jerawat-jerawat terkutuk.

 

Years later, kira-kira 3 tahun yang lalu keponakan gue dari kakak gue yang nomor dua masuk SMP.  And it surprised me a lot to hear from her that the kepala sekolah di SMP itu adalah Pak Supardi.  Hahh?? Gimana orang kayak gitu bisa jadi kepala sekolah?  Gue prihatin and enggak tahu juga dimana tempat almamater gue itu di tengah peta persaingan SMP di kota Bogor saat ini.

 

Well, let’s go back to suatu malam di bulan puasa 2003, di dalam kamar gue itu.

 

Di tengah kekagetan gue yang setengah mati itu, gue menyadari bahwa keadaan yang sedang gue alami ini serius.  Ini orang jelas sedang kalap.  Apapun yang menjadi sebabnya, jelas dia sedang hilang kendali atas dirinya.  Dia pun masih terus membentak dan memaki-maki gue, dengan kata-kata yang teteup gak ngasih gue idea apa sebabnya dia jadi ngamuk seperti itu.

 

Dalam keadaan kaget, masih sangat bingung, tapi at the same time menyadari seriusnya situasi itu, yang terpikir di benak gue saat itu adalah untuk berusaha ‘membentengi’ diri dari kemungkinan serangan fisik berikutnya. Maka kemudian gue pun berusaha mengerahkan sesuatu yang selama ini gue latih dalam latihan olahraga pernafasan yang gue ikuti.  Jujur aja, gue sendiri ga yakin dengan apa yang gue lakukan saat itu, dan juga ga benar-benar tahu bagaimana cara melindungi diri dengan apa yang gue punya tersebut.  Yang terpikir oleh gue adalah sekedar ‘mengerahkan’, begitu saja, tanpa punya rencana lebih lanjut apapun.

 

Di saat gue berusaha membuat perlindungan diri itu, sambil berdoa di dalam hati, tiba-tiba…

 

BUKKK!!!

 

Kali ini tinju kanannya mendarat di dagu kiri gue, kena sampai ke bibir bawah sebelah kiri.

 

Keras banget.  Ya ampun, bener-bener keras banget, gue enggak bohong ataupun melebih-lebihkan.  Karena kerasnya pukulan itu, gue yang sudah dipepet di pojok kamar pun terhuyung mundur menabrak tumpukan CD yang gue taruh di atas meja TV.  Tumpukan CD itu lantas runtuh, CD-CD nya jatuh berserakan. Gue pun sempat ‘black-out’ sekitar 1 atau 2 detik meskipun tetap berdiri.

 

For those of you yang sering, or at least pernah, nonton pertandingan tinju, mungkin bakal tahu atau pernah dikasitau oleh  temen nonton kamu bahwa titik yang paling diincar oleh seorang petinju di tubuh lawannya adalah: dagu atau rahang.  Tempat itulah yang biasanya menghasilkan kemenangan KO jika bisa dikenai dengan telak dan keras.

 

Begitu black-out sesaat itu hilang, yang gue lihat adalah si orang kalap itu mundur dengan ekspresi yang, menurut gue, aneh.  Dia melangkah mundur keluar dari kamar gue, dengan tetap menghadap ke arah gue.  Dan gue, tanpa gue sadari, maju selangkah demi selangkah mengikuti langkah mundurnya dia.  Mulutnya masih mengeluarkan kata-kata kasar, but nadanya udah enggak ngebentak-bentak lagi.

 

Di saat itu pun gue masih tetep bingung, sama seperti sebelumnya; gue bingung, apa sih sebenernya yang sedang gue alami ini?  Orang ini kenapa?  Kalau dia marah, marah karena apa? Kenapa sampai harus nampar dan mukul gue?  Apa yang harus gue lakukan, balas menyerang kah, berkelahi kah??

 

Gue ikuti dia yang terus mundur keluar kamar, sambil gue sendiri tetap terbengong-bengong.  Dia terus mundur surut sampai ke kamar dia sendiri.  Tapi sesaat sebelum dia masuk ke dalam kamarnya, dia masih sempat melontarkan ancaman yang cukup serius:  a threat saying that he would love to kill me.


Bruk!  Pintu kamarnya dia tutup.

 

Dan keadaan malam itu pun kembali seperti seperti beberapa menit sebelumnya. 

 

Sunyi, senyap, lengang. 

 

Tinggal gue yang masih berdiri di depan pintu kamar gue.  Masih terhenyak dengan keadaan yang baru aja gue lewati. Rasanya seperti baru aja bermimpi, mimpi buruk of course.

 

Karena masih belum sanggup mencerna apa yang baru aja gue alami, gue pun memutuskan untuk enggak memikirkan dulu and kembali ke rencana gue, yaitu bermalam di Al Alzhar. 

 

Sambil ngeberesin sisa bawaan yang belum masuk tas, gue sempet nengok CD-CD yang berserakan di lantai sekitar TV.  Sedih banget ngeliat kotak CD album pertama Russell Watson gue pecah.  CD ini adalah salahsatu CD yang pertama kali membawa minat gue ke arah cross-over singing.  Sebelumnya juga gue udah suka banget dengan Andrea Bocelli, tapi waktu itu lagu-lagu yang gue suka dari Bocelli masih sangat terbatas.  Ya maklumlah, masih baru kenalan.  Setelah perkenalan dengan Bocelli, gue kemudian agak ‘pindah haluan’ dan mulai terhanyut dalam lagu-lagu dari pentas musicals, awalnya lewat perkenalan dengan lagu-lagunya Andrew Lloyd Webber (…so standar banceh musikal ya? Hihih….).  CD Rusell Watson ini mulai menarik kembali perhatian gue ke arah suara-suara tenor operatik, karena buat gue suara Rusell Watson ini masih lebih ‘light’ and empuk dibandingkan dengan Bocelli, jadi waktu gue beli CD itu, suara Watson masih lebih bisa ‘masuk’ buat gue yang cuman seorang penikmat pemula ini.



                                          

 


Gue pun cabut berjalan keluar kos, meneruskan niat gue untuk pergi ke Al Azhar dan bermalam di sana.  Di ujung jalan, gue berpapasan dengan Joseph, temen kos gue satu lantai yang sama-sama orang ‘lama’ di kos-kosan gue.  Dia baru pulang ngerjain shooting or something. 

 

Being bingung, gue pun lantas ngobrol ma Joseph di tengah jalan and gue lantas nyeritain apa yang baru gue alami. Berbeda dengan gue yang ngalamin sendiri dan cuman terbingung-bingung, Joseph malah naik darah. Dia lantas ngajak gue pulang dan bikin perhitungan dengan  si maniak kalap itu.



(...bersambung lagi ya...Sorry :D )


Posted at 01:46 pm by baskinrobbins
Comments (26)  

Oct 24, 2005
Suatu Malam Di Bulan Puasa 2003

Ehm…sebenernya gue udah rada-rada malaysia truly asia untuk ngelanjutin tulisan tentang gue di Bali ('Interlude').  Pertama, karena memang not much to tell koq.  Kedua, bom Bali II juga mempengaruhi mood gue untuk bicara soal Bali, keburu prihatin and sedih soalnya…

 

Tapi secara udah jenjes, and secara kata pepatah jenjes adalah utang, maka ya gue uraikan secara singkat deh sisa cerita gue di Pulau dewata, and langsung gue terusin dengan cerita lainnya.

 

Sampe di Bali, udah hampir tengah malem.  Baru aja turun pesawat and melangkah keluar bandara setelah klaim bagasi, udah ada seseorang dengan seragam security bandara jalan menghampiri dengan tatapan mata ‘khas’ dan senyum penuh arti…Omigod, belum apa-apa ‘keramahan’ Pulau dewata sudah mau merengkuhku, hihihi…But please, it’s almost midnite and gue juga capek secara pagi ampe siangnya gue kerja seperti biasa.  Jadi gue pun cuman membalas senyumannya dengan sopan, berbasa-basi bentar waktu dia ngajak ngobrol, and lantas berlalu menuju taxi service.

 

Besoknya, pagi-pagi acara Latnas udah mulai, and terus nyambung sampe malem.  Apakah gue terlihat ada disana dari pagi sampe sore? Hihi, enggak tuh, secara gue lebih milih untuk puter-puter aja, jalan-jalan mbonceng temen gue pake motor sampe sore.  Joyride judulnya.

 

Memang tiap tahun gue selalu begitu, males untuk ikutin acara latihannya, wong latihannya sama aja kayak latihan rutin yang seminggu dua kali gue ikutin di Wisma Metropolitan atau Wisma Dharmala atau Wisma Antara.  Yang gue cari cuman acara malemnya, yang cuman ada setahun sekali dan gue anggep sebagai ‘face-lift’ tahunan gue, hihih.  So, dari tahun ke tahun, gue cuman nongol di acara Latnas pada malam harinya aja.

 

Di Bali ini, acara malamnya gue ikutin dengan lancar, and ga ada yang perlu diceritain.  Besok paginya sebetulnya acara Latnas masih lanjut, cuman gue malas ikutan lagi, jadilah gue milih untuk jalan kaki aja menyusurin tepi Pantai Sanur.  Gue ga mau jalan-jalan ke tempat yang jauh lagi, ke Kuta misalnya, karena siangnya gue udah harus terbang balik ke Jakarta.  Sempat ada ‘encounter’ yang terjadi sih saat gue jalan menyusuri Pantai Sanur sampai berkilo-kilometer, cuman gak usah dibahas ya?  Bulan puasa gitu lohh J

 

Setiba di Jakarta, dalam perjalanan dari bandara ke rumah, ada semacam ‘encounter’ lagi sih, dengan seseorang yang tugasnya ada di garis depan pertahanan dan keamanan negeri ini.  Lulus dari akademi yang mendidik calon-calon orang yang akan menjalankan tugas itu.  Ya cuma diajak kenalan aja and tuker-tukeran nomor telepon, that’s it. 


 

Apakah ada lanjutan dari perkenalan itu? Ehm…mungkin di laen tulisan aja gue ceritain yah.  Yyiuuuk…. :) 

Sekarang ini gue sedang pingin mengenang bulan Puasa taun 2003 yang lalu, ada cerita yang pingin gue certain….

 

 



 

 

Bulan puasa 2003.

 

Waktu itu adalah akhir dari tahun di mana gue mengalami dua pukulan yang cukup telak.  Psikis.  The first one was the end of a 4-years long relationship, and the second one was finding out that the one that caused the relationship to end was a good friend of mine. Sinetron banget ya?  Najesh.  But that’s what happened memang.  But little did I know that I was about to get another ‘punch’.

 

It was late at night, salahsatu malam dari 10 malem terakhir bulan puasa.  Kos gue sepi banget, gue gak tau apakah ada anak-anak kos di rumah atau enggak, yang gue tau cuman ada satu orang aja yang kamarnya pas di seberang kamar gue.  Gue sedang bersiap-siap untuk pergi ke Al Azhar Kebayoran untuk stay over di sana malam itu.  Dalam kondisi jomblo and baru terpukul secara psikis (cuih cuih), justru di bulan puasa 2003 itu gue menemukan keleluasaan yang sebesar-besarnya untuk melakukan hal-hal yang memang relevan dalam bulan Puasa.  Selain itu, kondisi tempat kerja gue pada waktu itu workloadnya juga udah drop banget, sehingga jam kerja juga seakan jadi longgar sekali.  Jadilah gue bisa sukses bermalem di Al Azhar untuk 8 dari 10 malem terakhir, tanpa harus terlalu khawatir soal kesiangan and telat datang ke kantor.

 

Beberapa malem sebelumnya gue baru aja mengalami pukulan psikis kedua itu, waktu gue find out bahwa my beloved friend ternyata…well, gak seperti yang gue sangka, ternyata dia segitu sampai hatinya sama gue untuk destroy hubungan gue yang dah sekian lama.  Rasanya pukulan kedua itu lebih telak daripada yang pertama.  Ternyata finding out bahwa kita udah dikibulin temen baik tuh rasanya lebih sakit daripada dikibulin pacar.  Gue ingat waktu gue mengetahui ‘rahasia’ yang sudah beberapa lama tersimpan itu, rasanya gue kayak daging gepuk yang udah habis dipukul-pukul (jadi inget gepuk Ny. Ong van Bandung itu).  Tapi justru pada titik itulah justru the power within myself berontak, and say: “Tuhan, justru dengan pukulan ini aku mau bangkit dan gak mau lagi diharu-biru perasaan yang tidak menyenangkan yang udah menggaggu hidup ini selama sekian bulan”.  Duh, seandainya ada bloggers yang ngeliat pose gue saat berdialog dengan Tuhan saat itu, pastilah gue akan mendapat award untuk Best Praying Pose untuk yang kedua kalinya.

 

Well, balik lagi ke malam itu, malam waktu gue sedang siap-siap mau pergi ke Al Azhar.  Apa aja ya yang gue persiapin waktu itu? Gue enggak begitu ingat…tapi mestinya sih gak banyak.  Paling-paling cuman air minum, susu cair, Antangin, vitamin, sabun buat bersihin muka, pasta dan sikat gigi, jaket...selain yang diperlukan untuk sembahyang dan mengaji, of course.  Untuk sahur, gue mengandalkan bapak tukang soto yang jualan di belakang Al Azhar, tempatnya persis di sebelah luar pagar belakang, di sisi kanan gerbang belakang yang kira-kira menghadap ke arah roti bakar Edi.  Jadi gue gak perlu bawa makanan buat sahur, cukup air putih and susu aja.

 

Sedang asik-asiknya gue di dalam kamar, yang dengan tenangnya gue ’toto-toto’ barang-barang ke dalam tas ransel gue dalam suasana yang demikian sunyi dan hening, tiba-tiba .... BRAAKK!!!  Pintu kamar gue yang tadinya tertutup jadi terpentang terbuka lebar.  To my amazement dan kekagetan yang amat sangat, gue ngeliat bediri di pintu si temen kos gue yang kamarnya di seberang kamar gue.  Dia gak cuman berdiri aja, dia langsung nyamperin gue sambil teriak-teriak marah dengan mukanya menunjukkan ekspresi yang aneh dan gak wajar (menurut gue) .

 

”Kamu tuh bener-bener bajingan ya!  Bener-bener gak bisa dibilangin!! Mesti diomongin kayak gimana lagi ya biar kamu ngerti?!!”. 


Sambil terus ngebentak-bentak gue, yang isinya kira-kira dia udah fed up dengan tingkah laku gue –yang gue gatau dan ga ngerti tingkah laku gue yang mana- lantas gue dipepet ke menuju pojok kamar gue.

 

Gue, sumpeh, langsung masuk dalam kondisi yang terbengong-bengong sempurna karena gue bener-bener ga ngerti, ini orang kenapa siihh? Marah-marah? Kalau marah, kenapa dia marah, kenapa marah ke gue?? Gak ada sedikitpun omongan, bentakan dan umpatan dia yang bisa bikin gue menduga-duga ada apa sebenarnya, apa yang menyebabkan dia bertingkah kayak gitu.  Sehingga, of course, gue gak ngerti mesti bagaimana, harus bicara apa, berbuat apa and gimana mesti bersikap menghadapi orang kalap ini; boro-boro figure out semua itu, wong untuk mengerti ada apa sebenarnya aja gue juga gak bisa.  Bingung.  Mati akal.

 

Sambil terus mepet gue, dia terus meracau.

 

“Ngakunya anak MMUI! UI apaan?!!! Cuihh!!  Gak usah sok-sok’an kamu!!“

 

“Gak usah bertingkah kayak entertainer kamu!!!”

 

Duileh.  Kapan yak gue pernah bertingkah kayak entertainer??  Kalo entertainer kayak gue gini, kesian amat yang di-entertain?  And ngapain juga dia pake bawa-bawa and sebut nama tempat kuliah gue?  Gue ga ngerasa pernah sok-sok’an karena gue kuliah di MMUI koq, yang ada malah gue risih secara gue ngerasa enggak pernah belajar dengan bener, engga cukup menguasai apapun and khawatir ga bisa menjaga nama besar sekolahan itu.

 

Tiba-tiba, after dia mepet gue beberapa langkah:

 

PLAAAKKK!!!”

 

His dirty hand mendarat di pipi kiri gue dengan amat telak.

 

 

(bersambung...)


Posted at 06:00 pm by baskinrobbins
Comments (14)  

Sep 7, 2005
Interlude

Tanggal 3 Agustus ‘05 yang lalu, akhirnya gue secara resmi mengajukan pengunduran diri dari  kantor gue yang lama. Not much to say about the resignation, soalnya kalo sekali dimulai ceritanya, bakal kepanjangan… Pokoknya gue lega deh .  Yang pasti gue baru ngajuin pengunduran itu after gue dapet tempat baru yang, menurut gue, bisa memberikan suasana kerja yang lebih baik buat gue.

 

After pengunduran diri itu, gue masih ngelanjutin kerja sampai tanggal 19 Agustus, karena gue efektif resign tanggal 22 Agustusnya.  Tadinya sih mau resign efektif per tanggal 29 Agustus, tapi karena gue bakal mulai kerja di tempat baru awal September, mosok gue engga dapet waktu untuk leha-leha and menikmati masa-masa surgawi seorang employee (which is: masa liburan setelah resign dari tempat lama sambil nunggu start di tempat baru)?

 

So, dari tanggal 20 s.d 31 Agustus, gue menikmati masa-masa surgawi gue.  Sebetulnya sih gue engga kemana-mana, di Jakarta aja, cuman sempet ke Bali doang.  Ke Bali pun cuman 2 hari 2 malam thok, secara memang tujuannya ke sana bukan buat pelesiran, tapi untuk suatu kegiatan yang udah gue rencanakan dari beberapa bulan sebelumnya: ikutan acara latihan nasional (latnas) olahraga pernafasan yang gue ikutin.  Sebetulnya gue bisa aja extend kalo mau, cuman biasalah si gueh, males ngurus ngganti tanggal tiket pulang...And secara gue juga engga terlalu minat untuk berlama-lama di Bali.  Tauk kenapa.  Mungkin karena terbiasa sebelumnya ke Bali berombongan, sekarang kan gue berangkat sendirian.  Di Balinya sih gue ada orang-orang yang potensial untuk nemenin gue kemana-mana...ehm, mungkin dengan sedikit ’imbalan’, hihih (”Me slut!” :)).  Tapi bisa aja mereka jadi harus ambil cuti/bolos, jadi ya sutralah, kapan-kapan lagi aja gue ke Bali dengan niat-ingsun untuk jalan-jalan, lagian deket ini.

 

Dalam konteks acara latnas itu gue juga bisa sih berangkat berombongan dengan temen-temen sesama peserta latnas dari Jakarta.  Tapi gue udah beli tiketnya dari jauh-jauh hari, dari bulan April!  Gue juga udah dapet hotel di dekat lokasi latnas dari jauh-jauh hari, dibantuin temen gue yang orang Bali (Thank you, Made!) .  Dan gue paling enggak suka, asli, kalo harus sharing room di hotel dengan orang yang gue enggak berapa kenal.  Jadilah gue satu-satunya peserta latnas dari Jakarta yang berangkat sendiri, tinggal sendiri di hotel yang terpisah dari peserta lainnya, and pulang sendiri pula.  Sombong beneeur... J

 

Mungkin buat beberapa orang, pergi sendirian begitu (bukan buat urusan pekerjaan pula) keliatan agak janggal, dan bahkan mengundang rasa kasihan.  Soalnya ada beberapa orang yang memberikan remarks seperti itu waktu tau gue cabut ke Bali sendirian aja.  Contohnya kakak ipar gue, yang bilang: ”Sendirian, aduh kasian amat kamu De,  emang si Kenthung kemana?”.  Haahh? Aduh mbak, gimana sih, khan mbak udah tau it is over gitu lohh between me and si Kenthung itu.  Seandainya gue ma dia masih ‘on’ pun, gue samasekali ga berkeberatan pergi kemana-mana sendiri koq.  Yang ada gue juga ngerasa heran, apanya yang mesti dikesianin ya?  Wong gue ngerasa biasa-biasa aja pergi sendirian, malah buat gue ada kenikmatan tersendiri.  Masalah ini sempet kepikir ma gua di airport pada saat melangkah menuju pesawat.  And gue lantas keinget ma almarhum nenek gue dari pihak ibu.  Beliau tu dalam usia udah lewat kepala tujuh, dulu tahun 70-an akhir and awal tahun 80-an, dengan cueknya bisa pegi kemana-mana sendiri, termasuk naik pesawat ke kota-kota lain untuk ngunjungin anak cucunya.  Bisa-bisanya beliau pergi sendiri kayak gitu, ya karena emang beliau sering mendadak pergi engga ngasitau siapa-siapa, tau-tau udah breng aja berangkat.  Kayaknya emang beliau maleusz banget ngerepotin orang.  Nha kalo eyang gue itu dengan cueknya bisa pergi kemana-mana sendiri di usia lanjut, mosok cucunya yang notabene adalah seorang fun fearless fe...llow ini, mesti make a big deal out of pergi sendirian?

 

Di airport gue juga sempat rada-rada mengundang perhatian orang lain.  Bukan karena gue berjalan sambil berputar-putar menyanyikan ”I Feel Pretty”-nya musical West Side Story lho (although bukannya engga terpikir untuk ngelakuin hal itu sih, hihihi...); tapi gara-gara gue masuk ke lounge-nya Citibank dengan outfit yang paling cuek dibanding orang lain.  Gue, dengan tas ransel item gue yang udah rada-rada busuk, dengan kemeja and celana casual, and bersendal, melangkah masuk ke lounge yang penuh dengan orang-orang dengan penampilan serupa petinggi-petinggi atau top executive, dengan baju batik, setelan jas lengkap, or dengan sasakan nyundul para ibu-ibunya.  Sempet agak taken aback juga sih, tapi ya gue cuek aja, toh i have the same passport to enter the room, the same passport they have gitu lohh.  So gue pun lantas hilir mudik diantara orang-orang itu dengan wajah tegak.  Lagian gak lama setelah gue, ada juga masuk sesosok anak muda dengan outfit yang nyantai juga, masih mahasiswa  kayaknya.  Keliatannya anak orang berada, cuman koq tampangnya muram ya...Tapi biarpun muram masih lumayan cakep koq untuk dijadikan santapan rohani selama nunggu di lounge (cuman gue liatin aja loh, gak diapa-apain!).

 

Setelah masuk pesawat, ada kejutan.  Ternyata salah seorang pramugarinya adalah ponakan jauh gue dari keluarga bokap.  Dia anak dari kakak sepupu gue, tapi umur kita sih ga beda jauh, tapi juaraaang banget ketemu.  Well, sebenernya sih udah ada belasan tahun ga pernah ketemu kale.  Waktu kita masih kecil di Bogor, masih lumayan sering ketemu.  Dulu emang gue pernah denger dia jadi pramugari, tapi gue gak inget di airline mana, ternyata Garuda.  And dia bilang, it’s been 11 years dia jadi pramugari Garuda.  Wah, 11 tahun!  Look at her now, dia udah jadi perempuan yang cantik and luwes.  Kalau dia enggak negor duluan kayaknya gue ga bakal ngeh samasekali, and dia juga bilang bahwa dia juga awalnya ragu-ragu tapi terus dia ngecek ke daftar nama-nama penumpang.  Ya akhirnya di sela-sela tugas dia, dia sempetin ngobrol ma gue secara pesawatnya juga bisa dibilang kosong (last flight to Bali), and kursi sebelah gue juga kosong.  Trus, hahaha, KKN kecil-kecilan terjadi: dia ngebungkusin stock coklat, permen dan jelly pesawat  masing-masing 1 bungkusan gede buat gue.  Ya ampooon, yang ada gue bingung gimana nyimpen bungkusan-bungkusan itu di dalem tas gue, secara barang-barang gue yang laen udah di bagasi semua.

 

 [ntar sambung lagi yak]


Posted at 12:53 pm by baskinrobbins
Comments (22)  

Jul 12, 2005
Sebelum Makan

Tempo hari after sembahyang Jumat di Masjid belakang Djakarta Theatre, gue makan di Waroeng Babe.  Itu tuh tempat makan baru, di sebelahnya Sate Agung Jaya yang di perempatan Sabang-Wahid Hasyim.  Kali itu gue enggak sendirian, tapi bareng dua temen kantor gue; yang satu udah bapak-bapak cukup tuwir, sebut aja Pak Wietje, and satu lagi maybe beberapa taun lebih tua dari gue ('maybe', secara gue tiap taun face-lift, jadi kali-kali aja dia seumuran dengan gue tapi tampangya dia menang umur), sebut aja dia Bimby.

Not much to tell about the food, secara makanan matengannya sih biasa-biasa aja, tapi memang cukup mursidah.  Makanan pesenannya, kayak ayam/ikan bakar dsb, enak juga.  Boleh dicoba deh. Gue pesen bakmi goreng, Pak Wietje pesen ayam bakar, si Bimby pesen nasi gila.

Bakmi goreng gue datang nomer dua, after the ayam bakar.  Seperti yang sering gue lakukan (sebetulnya gue pingin bilang 'selalu', tapi kenyataannya kadang gue lupa, jadi 'sering' kayaknya lebih tepat), sebelum mulai makan gue berdoa dulu sejenak.  Bentar bangeut, paling beberapa detik, maybe less than 10 seconds.  Habis itu gue buka mata and mulai angkat sumpit untuk ambil bakmi goreng yang keliatan cukup cihuy itu......But, eh...koq dua mahluk yang duduk semeja ma gue tuh pada ngeliatin gue begetoh?  Eemm...gue tau gue cukup beautiful (secara gue pernah dibilang cantik oleh supir taxi.  Huhh! Reseh tuh supir!), tapi mereka kan ga usah melongo begitu?  Apalagi tiap hari juga udah ketemu gue di kantor.

Abis melongo bentar gitu, trus si Pak Wietje ngomong: "Koq kamu berdoanya kayak gitu?".

O 'ow...Here it goes again...Gue udah tau sih arahnya kemana.  Tapi dengan sok polos gue nanya balik' "Emang kenapa ya..?"

"Kamu berdoanya enggak kayak orang Islam".  Ups,  bener kan tebakan gue.

Oke deh, terpaksa suapan pertama bakmi goreng gue ditunda dulu untuk beberapa jurus. 

Sambil meletakkan sumpit ke tempatnya, gracefully or course, gue pun bertanya lagi, "Memangnya kalau orang Islam kalau berdoa sebelum makan, seperti apa sih Pak?"

"Ya, baca Bismillah aja cukup", jawab si bapak.

"Lho, bukannya ada doa sebelum makan yang diajarkan oleh ke kita?", lanjut gue.

"Iya sih, ada"

"Apa tuuh?" (gue, dengan intonasi seorang guru yang ingin ngetes apakah si murid udah belajar)

"...dst...dst.." (dibacalah doa tersebut oleh si bapak, dan memang doa itulah yang gue maksud exactly, dan yang gue baca sebelum makan beberapa saat sebelumnya)

"So?  Why not?", gue melanjutkan dengan kondisi mulai dapat angin.  Maksud gue adalah bertanya kepada si Pak Wietje: kenapa jij kaga baca doa itu sebelum makan kalo jij tau?

"Iya...tapi kan gak usah sambil diam dan merem gitu", si bapak coba jawab lagi.

"Why not?" (bola-bola drive gue mendorong si bapak ke daerah belakang lapangan, memancing kembalian yang tanggung untuk gue smes.  Secara permainan a la Li Lingwei)

Saat si bapak masih aa...eu...aa...eu mencari jawaban, gue lantas tanya lagi (nampaknya kendali permainan sudah berada di tangan Li Lingwei): "Pada saat kita berdoa, bukankah kita memanggil-Nya? Berbicara kepada-Nya? Bahkan memohon sesuatu kepada-Nya?  Apakah tidak pantas kalau kita meluangkan waktu beberapa saat untuk memusatkan perhatian, hati dan pikiran kita untuk berdoa?".

Well, setelah dilanjutkan dengan beberapa penjelasan berikutnya dari gue, akhirnya si Pak Wietje and Bimby setuju aja dengan argumentasi gue.  Poinnya gue sih, sebenernya simpel aja.  Gue ngerasa pantes-pantesnya kalau gue berdoa ya seperti 'layak'nya orang berdoa lah, meskipun itu gue lakukan dalam rangka makan yang sehari bisa gue kerjain berkali-kali.  Tapi meskipun gue makan beberapa kali dalam sehari, gak berarti bahwa gue tidak boleh membuatnya jadi spesial kan? Memang ga usah merem (siapa bilang harus?), cuman kebetulan gue merasa lebih gampang memusatkan diri gue ke dalam doa dengan memejamkan mata sejenak, so I do that. 

Yang jelas gue enggak melakukannya sambil merem-melek, well, at least tidak pada saat berdoa, another occasion, maybe :)

Pembicaran seperti yang gue lakukan dengan Pak Wietje itu bukan yang pertama gue alami.  Sebelumnya sudah pernah berkali-kali.  Dan ujung-ujungnya kebetulan selalu sama, gak ada argumen yang bisa telak-telak menunjukkan bahwa yang gue lakukan itu adalah sesuatu yang tidak tepat.  Secara tidak ada dasar apapun yang menyatakan bahwa kalau berdoa sebelum makan haruslah dilakukan dengan terburu-buru, mulut berkomat-kamit dengan sangat cepat bersamaan dengan tangan bergerak memasukkan suapan pertama ke dalam mulut.

Gak indah deh berdoa seperti itu, menurut gue sih.  Secara gue pernah memperoleh award dari
Rio, Iwan dan Uda Rinto untuk kategori "Best Pose" alias pose terbaik dalam berdoa, waktu kita sama-sama bergadang rame-rame di Masjid Sunda Kelapa, bulan Puasa akhir 2003 :)


Posted at 12:56 pm by baskinrobbins
Comments (20)  

Next Page